Pernahkah kamu mendapat nasihat bahwa kalau ingin sukses harus bekerja secara terus menerus dan memiliki sedikit waktu untuk beristirahat? Lalu, kamu meyakini bahwa hal tersebut cara yang paling benar untuk mencapai kesuksesan? Jika ya, artinya kamu terjebak dalam hustle culture.

Saat ini, hustle culture sering menjadi pembahasan di sosial media. Lalu sebetulnya apa sih yang dimaksud dengan hustle culture? Mari simak penjelasan berikut ini.

Definisi Hustle Culture

Hustle dalam bahasa Indonesia diartikan sebagai memaksa seseorang untuk bergerak secara cepat. Sedangkan culture atau budaya sesuatu hal yang sudah menjadi kebiasaan dan sulit diubah pada masyarakat.

Hustle culture adalah sebuah fenomena yang menggambarkan bahwa untuk mencapai kesuksesan perlu bekerja secara terus menerus. Orang yang terjebak dalam hustle culture berpandangan bahwa meraih kesuksesan perlu merelakan waktu istirahat.

Contohnya, jika orang lain tidur jam 10 maka kamu perlu begadang untuk menyelesaikan pekerjaan.

Berdasarkan UU Ketenagakerjaan membatasi karyawan bekerja selama 7 jam dalam sehari atau 40 jam dalam satu minggu untuk 6 hari kerja dengan 1 hari istirahat dalam 1 minggu. Bagi yang bekerja 5 hari maka jam kerja yaitu 8 jam dalam sehari atau 40 jam dalam satu minggu dengan 2 hari istirahat.

Pada kenyataannya, semakin panjang durasi bekerja tidak berbanding lurus dengan hasil yang maksimal (Ghafoor & Haar, 2021). Bekerja dalam waktu yang lama akan memberikan dampak negatif pada kesehatan fisik dan mental. Kondisi kerja yang membuat stres pun tidak akan membuat karyawan menjadi lebih kreatif.

Teknologi dan Hustle Culture

Teknologi mempermudah manusia dalam mendapatkan informasi dengan cepat. Kemudahan tersebut membuat tidak ada batas waktu. Artinya, kita bisa saja membalas e-mail kantor pada jam 10 malam padahal kita sudah siap tidur.

Notifikasi tentang pekerjaan yang bisa muncul kapan saja seolah-olah memanggil kita untuk segera menyelesaikan tugas-tugas yang ada. Padahal bisa saja dikerjakan esok hari pada saat jam kerja namun terkadang ada dorongan dalam diri bahwa harus dikerjakan saat itu.

Sosial media turut mempengaruhi pada hustle culture. Banyak orang-orang sukses yang memberikan saran dan nasihat pada netizen bahwa demi meraih kesuksesan perlu kerja terus menerus. Bahkan, ada seseorang yang dianggap sukses oleh masyarakat karena memiliki banyak perusahan menceritakan bahwa dirinya rela tidak tidur demi meraih puncak kesuksesan.

Postingan di sosial media banyak yang membagikan tentang produktivitas. Menunjukkan cuplikan berbagai macam aktivitas sehingga orang lain berpikir bahwa betapa sibuknya mereka.

Masyarakat menganggap bahwa seseorang akan berharga jika melakukan banyak kegiatan dan produktif. Jadi, muncul lah perasaan bersalah saat sedang rebahan, nonton film, jalan-jalan karena hal tersebut bukan hal produktif. Ujungnya seorang pekerja bisa terjebak dalam toxic productivity yang berpengaruh negatif terhadap psikis.

Cara Keluar dari Hustle Culture

Agar tidak terjebak dalam hustle culture, lakukan hal berikut ini:

1. Menggunakan nomor personal dan business

Banyak pekerja yang menggunakan Whatsapp untuk sarana komunikasi kerja. Sedangkan, Whatsapp pun digunakan juga untuk keperluan personal. Gunakan dua nomor yang berbeda agar tidak tercampur antara urusan pribadi dan pekerjaan.

Setelah jam kantor selesai, matikan ponsel kerja agar tidak melihat notifikasi pekerjaan. Dengan melakukan langkah yang sederhana ini dapat memberikan batas antara kehidupan personal dengan profesional.

2. Memanfaatkan weekend dan cuti dengan maksimal

Hari libur atau istirahat digunakan dengan sungguh-sungguh fokus pada urusan diluar pekerjaan. Nikmat setiap momen selama liburan dengan me time, pergi dengan keluarga atau teman dan lain-lain.

3. Membuat daftar prioritas

Mengurutkan daftar tugas dari hal yang paling esensial agar bisa mengerti mana saja pekerjaan yang penting. Skala prioritas dapat dibuat dengan kuadran Tyranny of the Urgent.

kuadran Tyranny of the Urgent

Kuadran 1 yaitu masalah penting dan mendesak. Maka perlu segera dikerjakan

Kuadran 2 yaitu penting namun tidak mendesak. Artinya, tugas harus diselesaikan namun bisa dikerjakan lain waktu.

Kuadran 3 yaitu mendesak namun tidak penting. Tugas seperti ini bisa didelegasikan kepada seseorang.

Kuadran 4 yaitu tidak mendesak dan tidak penting jadi tidak perlu melakukan ini.

4. Hindari multitasking

Mengerjakan banyak tugas dalam waktu bersamaan merupakan hal yang tidak efektif. Dalam multitasking, pikiran terbagi-bagi sehingga tidak bisa maksimal dalam bekerja. Lebih baik kerjakan satu persatu dengan fokus sehingga bisa memberikan hasil yang terbaik.

5. Membuat lingkungan kerja yang menyenangkan

Jika suatu saat kamu memiliki posisi penting dalam sebuah organisasi buatlah sebuah lingkungan kerja yang menyenangkan. Merancang sebuah sistem kerja atau program yang mendukung kesehatan mental pekerja. Perubahan akan lebih cepat terjadi jika diinisiasi oleh seseorang yang memiliki kekuatan.

Hustle culture sudah menjadi gaya hidup yang dinormalisasi oleh banyak orang. Padahal ini bukan hal yang baik untuk kondisi fisik dan psikis individu. Diperlukan kesadaran dari diri sendiri dan pihak manajemen untuk menciptakan budaya kerja yang menyenangkan.

References

Ghafoor, A., & Haar, J. (2021). Does job stress enhance employee creativity? Exploring the role of psychological capital. Personnel Review.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *