Image default

Hubungan Tubuh dan Pikiran dalam Kesehatan Mental

Ketika hendak berbicara didepan banyak orang, seringkali kita mengalami gejala sakit fisik seperti tiba-tiba tangan gemetar, perut sakit, dan merasa lemas. Saat mengingat kejadian traumatis, seolah tubuh mengalami mati rasa. Hal itu karena adanya hubungan tubuh dan pikiran.

Pikiran tidak hanya terbatas pada otak saja, melainkan pikiran berada diseluruh tubuh. Pikiran menerima pesan dari dunia melalui sistem sensorik tubuh fisik (yaitu, panca indera penglihatan, pendengaran, pengecapan, penciuman, dan sentuhan) dan menafsirkan persepsi ini melalui otak. Pikiran sadar hanyalah salah satu aspek dari pikiran, yang difasilitasi oleh fungsi otak yang lebih tinggi. Pikiran bawah sadar ada di fungsi otak bawah, dan diekspresikan dalam mimpi, refleks otomatis, respons terkondisi, ingatan somatik, dan terkadang, dalam gejala dan perilaku fisik. (http://www.mindbodypsychotherapy.net/mbconnection.htm)

Tubuh menjaga kesehatan fisik dan kemampuan kamu untuk berfungsi. Tetapi pikiran menampung semangat dan motivasi kamu untuk berfungsi. Pikiran adalah tentang proses mental, pikiran dan kesadaran. Tubuh adalah tentang aspek fisik dari neuron-otak dan bagaimana struktur otak. Berpikir (memiliki kebebasan memilih) adalah peristiwa mental, namun dapat menyebabkan terjadinya perilaku (otot bergerak sebagai respons terhadap suatu pikiran).

Oleh karena itu, pikiran seperti perangkat lunak, yang memungkinkan berbagai program perangkat lunak yang berbeda: untuk dijalankan. Ini dapat menjelaskan reaksi berbeda yang dimiliki orang terhadap rangsangan yang sama. Ide ini terkait dengan proses mediasional kognitif (berpikir) (McLeod, 2018). Schacter dan Singer (dalam Ling & Catling, 2012) mengemukakan bahwa pengalaman emosi membutuhkan gejolak fisiologis dan suatu label untuk gejolak tersebut, yang muncul dari penilaian kognitif tentang situasi terkait.

Psikologi, Pikiran, dan Tubuh

Sebagai suatu disiplin, ilmu psikologi “dipasang di atas kesenjangan filosofis antara pikiran dan tubuh” (Tschacher dan Haken, 2007). Namun, tubuh juga berperan kuat dalam teori psikoanalitik. Bagi Freud, struktur pikiran (misalnya, id, ego, superego) muncul dari ketegangan antara dorongan tubuh dan struktur masyarakat (Muller dan Tillman, 2007). Hal ini tercermin dalam konsepsi psikoanalitik tentang penyakit psikosomatis, yaitu gagasan bahwa emosi dan keinginan tak sadar menyebabkan gejala tubuh; misalnya Gregor Groddeck, seorang psikoanalis yang mengembangkan gagasan Freud tentang penyakit psikosomatis mengusulkan bahwa tumor yang tumbuh di perut bisa terjadi akibat keinginan tak sadar yang ditangkis untuk hamil. Lebih lanjut telah disarankan bahwa “ego”, dalam psikoanalisis, dimulai sebagai entitas yang terwujud, dan menekankan kesinambungan antara hewan dan manusia, menyarankan konseptualisasi pikiran-tubuh monist, atau holistik (Muller dan Tillman, 2007).

Berkaitan Dengan Psikosomatis

Aspek-aspek psikologis seperti kepercayaan dan pola pikir yang tidak sehat akan
berpengaruh pada munculnya berbagai penyakit fisik (Siswanto, 2007). Kondisi sakit tidak disebabkan oleh faktor biologis saja, melainkan juga faktor psikologis dan lingkungan sosial seseorang (Hasan, 2008). Beck berpendapat bahwa kognisi negatif ini juga mengaktifkan gejala motivasi, perilaku, emosional, dan fisik negatif (Beck dan Weishaar, 2008). Sakit fisik dipengaruhi dengan kondisi mental dan disebut psikomatis.

Istilah psikosomatis berasal dari bahasa Yunani yaitu psyche yang berarti jiwa dan soma atau badan (Atkinson,1999). Gangguan psikosomatik adalah gangguan fisik (sakit fisik) yang penyebab atau kekambuhan-nya diperparah oleh kondisi psikologis, misalnya karena stress atau tekanan emosional (Everly & Lating, 2002). Stres atau permasalahan emosional bisa menjadi stresor bagi tubuh, dan akan “menyerang” organ terlemah dari seseorang. Organ tubuh menjadi lemah bisa jadi karena adanya faktor herediter, atau karena gaya hidup yang tidak sehat, karenanya mengobati gangguan ini tidak bisa hanya dengan layanan medis saja tetapi juga melibatkan pendekatan psikologis. Gangguan yang termasuk ke dalam psikosomatik yaitu gangguan gastrointestinal, gangguan pada jantung dan pembuluh darah (cardiovascular), allergy, bronchial asthma, gangguan musculoskeletaldan gangguan kulit (Everly & Lating, 2002).

Berbeda halnya dengan orang-orang yang mengalami gangguan psikosomatik, menurut Everly & Lating (2002) emosi yang sering muncul pada mereka adalah marah dan rage (sangat marah/murka). Pada gangguan maag, marah, agresi atau kebencian yang ia tekan atau tidak bisa dikelola dengan baik akan memancing lambung untuk memproduksi asam lambung dan pepsin yang berlebihan dan ini membuat lambung iritasi dan perih, sakit atau kembung. Pada kasus radang usus, emosi marah dan resentment(kecewa berat dan cenderung dipendam/tidak bisa diungkapkan dengan jelas). Untuk gangguan cardiovascular, kondisi emosi yang seringkali muncul adalah kecemasan, kebencian,resentment, agresi, depresi, dan keinginan untuk segera menyingkirkan masalah (wish to be rid of trouble). Kondisi psikologis yang sering memancing gangguan pernafasan adalah cemas, ketakutan dan kebencian. Apabila melihat kondisi emosi atau psikologis yang dialami oleh gangguan musculoskeletal adalah marah dan cemas yang membuat otot menjadi berkontraksi dan menimbulkan tekanan pada sakit kepala (Everly & Lating, 2002).

Terapi Integrasi Pikiran dan Tubuh

Rational emotive behavior therapy (REBT) Ellis secara eksplisit mempertimbangkan pentingnya isi dari “pikiran” (yaitu, berpikir, merasakan, menginginkan dll), dan operasi “tubuh” (yaitu, perilaku). Namun, hubungan antara pikiran dan tubuh dikonseptualisasikan dalam istilah modifikasi kognitif untuk mengubah perilaku atau perubahan perilaku untuk memodifikasi pemikiran (Ellis, 2008 ).

Sebagai bagian integral dari mesin manusia, tubuh  mengkomunikasikan apa yang dibutuhkannya untuk bertahan hidup dan mengatasi penyebab stres — kita hanya perlu mendengarkan secara aktif. Emosi positif, hubungan sosial yang positif serta kesehatan fisik saling mempengaruhi secara dinamis, dengan kata lain emosi positif dapat meningkatkan persepsi mengenai hubungan sosial yang positif pula, yang pada gilirannya hal ini dapat meningkatkan kesehatan fisik (Kok dkk.,2013).

Selhub (2007) menyatakan, “Dalam pengobatan pikiran-tubuh, pikiran dan tubuh tidak dilihat sebagai entitas yang berfungsi secara terpisah, tetapi sebagai satu unit yang berfungsi. Pikiran dan emosi dipandang mempengaruhi tubuh, sebagai tubuh, pada gilirannya, mempengaruhi pikiran dan emosi ”. Penelitian di bidang psikoneuroimunologi menunjukkan bahwa penurunan stres ternyata dapat meningkatkan fungsi kekebalan tubuh.

Lima contoh dari Teknik integrasi tubuh dan pikiran termasuk mindfullness, meditasi, relaksasi, biofeedback, dan tiga praktik Yoga, T’ai Chi, dan Qigong (McGuire et al., 2016).

1. Mindfulness

Mengenali “Saya merasa cemas hari ini di tubuh saya,” sebenarnya menyebabkan amigdala menjadi rileks. Tubuh menjadi tenang ketika pikiran mengenali apa yang dirasakan (Fazekas, Leitner, dan Pieringer, 2010). Contoh lain dari mindfulness yakni Mindfulness-Based Stress Reduction. Praktisi mindfulness di Indonesia salah satunya Adjie Santosoputro.

2. Meditasi

Dalam meditasi tradisional, titik fokus utama untuk pelatihan perhatian adalah menghirup dan menghembuskan udara melalui hidung. Ini membantu tubuh rileks, sehingga tidak terlalu cemas, depresi, dan marah. Bahkan meditasi selama 3 menit dapat meredakan stres pada otak.

3. Relaksasi

Mengatasi stress yang berlebihan dapat melakukan Teknik relaksasi. Teknik ini melepaskan ketegangan otot dalam tubuh. Contoh relaksasi yakni relaksasi progresif dengan berbaring di bantalan yang lunak diruangan yang tenang.

4. Biofeedback

Ini adalah penggunaan pemantauan ilmiah dan fisiologis tubuh untuk mempengaruhi kesadaran akan keadaan tubuh dengan elektroda. Bukti yang mendukung biofeedback sangat kuat; dapat mengurangi gangguan tertentu seperti tekanan darah tinggi dan migrain.

5. Yoga, T’ai Chi, dan Qigong

Kecepatan gerakan yang lambat dan stabil membantu membuat kita rileks dan mengurangi stres. Mereka juga menciptakan keadaan pikiran terfokus, yang membantu mengatasi emosi negatif. 

Ivey, Ivey, Zalaquett, dan Quirk (2009) menunjukkan lima area penting dalam area Terapi Pikiran-Tubuh, yang menghubungkan studi ilmu saraf dengan praktik konseling. Area ini meliputi:

  1. Neuroplastisitas – Sederhananya, otak dapat berubah. Konseling yang efektif tidak hanya mengubah pikiran, emosi, dan keyakinan tetapi juga mengubah otak.
  2. Neurogenesis – Psikoterapi mendukung pembangunan neuron baru. Melalui proses yang dikenal sebagai apatosis, otak terus-menerus membuang neuron yang tidak digunakan dan menambahkan neuron baru.
  3. Pentingnya perhatian dan Fokus – perilaku fokus dan perhatian dapat diukur melalui gambaran otak. Sekarang perhatian dan fokus mengaktifkan inti otak yang merangsang korteks dan menghasilkan neuron.
  4. Klarifikasi Emosi – gambaran otak sekarang menunjukkan bahwa masing-masing emosi menyalakan bagian otak yang berbeda.
  5. Kesejahteraan dan Positif – Penelitian menunjukkan bahwa korteks frontal eksekutif yang efektif berfokus pada kekuatan dapat mengatasi hal negatif.

Ada beberapa intervensi psikologi positif yang menggunakan integrasi pikiran-tubuh. Misalnya, Jindani & Khalsa (2015) menyelidiki efek dari program yoga pada peserta dengan gangguan stres pasca trauma. Peserta merasa intervensi yoga “sangat efektif”. Sebuah tinjauan tentang “pengobatan alternatif” (seperti yoga, hipnosis, dan meditasi) menemukan bahwa mereka dapat membantu dalam mengelola stres dan mempengaruhi kondisi mental lainnya (Park, 2013). Intervensi psikologi positif sejauh ini mencakup teknik integrasi pikiran-tubuh. Siapa pun yang berupaya meningkatkan kesehatan fisik atau mentalnya dapat memperoleh manfaat dari pendekatan integrasi tubuh-pikiran secara holistik ini.

Epilog

“Dengan tubuh yang sehat, tentu juga jiwa akan baik dan pikiran akan seimbang.”

References:

Atkinson, R. L. (1999). Pengantar Psikologi. Jakarta: Penerbit Erlangga.

Beck, A. T., and Weishaar, M. E. (2008). “Cognitive therapy,” in Current Psychotherapies, eds R. J. Corsini and D. Wedding (Belmont, CA: Thomson), 263–292.

Ellis, A. (2008). “Rational emotive behavior therapy,” in Current Psychotherapies, eds R. J. Corsini and D. Wedding (Belmont, CA: Thomson), 187–221.

Everly, G.S.Jr.,& Lating, J.M. (2002). A clinical guide to the treatment of the human stress response(2nd Ed.).New York, NY: Kluwer Academic Publishers.

Hasan, P. B. A. (2008). Pengantar Psikologi Islami. Jakarta: Rajawali Pers

Ivey, A., Ivey, M.B., Zalaquett, C., & Quirk, K. (2009, December 3). Counseling andneuroscience: The cutting edge of the coming decade. Counseling Today.Retrieved from http://ct.counseling.org/2009/12/reader-viewpoint-counseling-and-neuroscience-the-cutting-edge-of-the-coming-decade/

Jindani, F.A., Khalsa, G.F.S. (2015). A Yoga Intervention Program for Patients Suffering from Symptoms of Posttraumatic Stress Disorder: A Qualitative Descriptive Study. The Journal of Alternative and Complementary Medicine, 21(7), 401-408. doi:10.1089/acm.2014.0262

Kok, B. E., Coffey, K. A., Cohn, M. A., Catalino, L. I., Vacharkulksemsuk, T., Algoe, S. B., Brantley, M., & Fredrickson, B. L. (2013). How positive emotions build physical health: Perceived positive social connections account for the upward spiral between positive emotions and vagal tone. Psychological Science, 24(7), 1123-1132. doi: 10.1177/0956797612470827.

Ling, J., & Catling, J. (2012). Psikologi kognitif. Jakarta: Penerbit Erlangga.

McLeod, S. A. (2018, Febuary 05). Mind body debate. Simply Psychology. https://www.simplypsychology.org/mindbodydebate.html

McGuire, C., Gabison, J., Kligler, B. (2016). Facilitators and Barriers to the Integration of Mind-Body Medicine into Primary Care. The Journal of Alternative and Complementary Medicine, 22(6), 437-442.

Muller, J. P., and Tillman, J. G. (2007). The Embodied Subject: Minding the Body in Psychoanalysis. Plymouth: Rowman & Littlefield Publishers, Inc.

Park, C. (2013) Mind-Body CAM Interventions: Current Status and Considerations for Integration in Clinical Health Psychology. Journal of Clinical Psychology, 69(1), 45-63. doi:10.1002/jclp.21910

Selhub, E. (2007). Mind-body medicine for treating depression. Alternative & Complementary Therapies, 2, 4-9. doi: 10.1089/act2007.13107

Siswanto (2007). Kesehatan Mental Konsep, Cakupan, dan Perkembangannya. Yogyakarta: Andi
Offset

Tschacher, W., and Haken, H. (2007). Intentionality in non-equilibrium systems? The functional aspects of self-organized pattern formation. New Ideas Psychol. 25, 1–15. doi: 10.1016/j.newideapsych.2006.09.002

Artikel Terkait

Leave a Comment