Image default

Hipnoterapi: Pengenalan Sekilas

Siapa yang waktu kecil pernah menonton aksi sulap atau reality show di TV yang menggunakan hipnosis sebagai bahan hiburan? Hm, mungkin bagi kamu yang kelahiran 90-an pasti kenal dengan aksi-aksi semacam itu, yang bahkan sempat menjadi tren sewaktu kita kecil dulu. Meskipun demikian, hipnosis juga sering diasosiasikan dengan mind control atau brainwashing, sehingga dikonotasikan untuk hal-hal negatif.

Namun sebelum menjadi tren, praktik hipnosis untuk kepentingan terapi sudah sering dilakukan sejak zaman dahulu. Seorang ahli hipnosis biasanya menggunakan kemampuannya untuk mempengaruhi klien melalui alam bawah sadarnya, sehingga klien bisa melakukan sesuatu atau mengubah pemikirannya mengenai suatu hal. Terapi yang menggunakan hipnosis ini disebut sebagai hipnoterapi. Nah, sejak kapan hipnoterapi dimanfaatkan untuk psikologi? Lalu, apa saja manfaat hipnoterapi untuk kesehatan mental? Berikut ini akan kita kulik beberapa fakta mengenai hipnoterapi.

Hipnoterapi dalam Psikoterapi

Hipnoterapi adalah jenis terapi psikologis yang menggunakan metode hipnosis. Kegunaan hipnoterapi adalah membuat klien merasa rileks, sementara terapis memandunya untuk fokus dan memikirkan kejadian-kejadian yang pernah dialaminya untuk merubah caranya berpikir dan berperilaku. Hipnoterapi biasanya digunakan dalam praktik terapi psikologi transpersonal.

Sekitar dua abad lalu di Prancis, tepatnya tahun 1800-an, seorang psikolog transpersonal bernama Jose Custodio de Faria menggunakan metode hipnosis untuk mengetahui tentang hubungan antara pikiran dengan tubuh (mind-body relationship). Menurut Faria, hubungan antara pikiran dengan tubuh disebabkan oleh koneksi spiritual yang disebut animal magnetism. Koneksi spiritual ini memungkinkan individu untuk melakukan hal-hal yang hebat, yang tidak mungkin dilakukan apabila individu tersebut dalam keadaan sadar. Secara garis besar, pengalaman bawah sadar yang terjadi saat seseorang berada dalam pengaruh hipnosis disebabkan oleh kesadaran alternatif atau altered consciousness. Namun, sejumlah penelitian akhir-akhir ini membuktikan bahwa seseorang bisa juga mengalami fenomena hipnosis tanpa adanya altered consciousness (Wickramasekera, 2013).

Hubungannya Dengan Psikoanalisis

Psikolog sekaligus pionir psikoanalisis, Sigmund Freud, juga sering menggunakan hipnoterapi dalam praktiknya, terutama bagi klien yang menderita gangguan histeria. Menurut Freud, pemberian sugesti dalam hipnosis bisa mengakses berbagai gejala psikologis yang tidak terlihat dalam diri klien. Namun, Freud juga menggarisbawahi bahwa kepercayaan terhadap terapis juga berpengaruh terhadap suksesnya hipnoterapi (Mongiovi, 2020).

Selain Freud, Carl Jung yang juga menganut aliran psikoanalisis juga menggunakan hipnoterapi untuk menggali ketidaksadaran kolektif. Namun berbeda dengan Freud yang menganggap bahwa ketidaksadaran manusia berasal dari impuls seksual, Jung berpendapat bahwa ketidaksadaran kolektif merupakan tempat di mana pengalaman manusia di masa lampau disimpan, beserta dengan mitologi dan tradisi leluhur. Komponen-komponen ketidaksadaran kolektif ini bisa sewaktu-waktu mempengaruhi perilaku individu (Mongiovi, 2020).

Manfaat Hipnoterapi Secara Kognitif-Behavioral

Seperti yang sudah kita ketahui bersama, hipnoterapi banyak dilakukan psikoanalisis untuk menggali dan mempengaruhi alam bawah sadar individu melalui sugesti. Nah, bagaimana dengan praktik hipnoterapi dari segi kognitif-behavioral? Jangan kaget dulu, tidak semua hipnoterapi berakar pada psikoanalisis dan transpersonal. Hipnoterapi dalam pendekatan kognitif-behavioral mengacu pada penggunaan induksi hipnosis untuk meningkatkan efektivitas intervensi perilaku kognitif (Kirsch, 1993). Penelitian terkini melaporkan bahwa praktik hipnoterapi juga digunakan dalam pendekatan kognitif-behavioral untuk menangani klien dengan gangguan disosiatif yang dipicu oleh ingatan-ingatan pasca trauma (Fine, 2012). Lebih luas lagi, hipnoterapi dari pendekatan kognitif behavioral digunakan untuk menyembuhkan gangguan perilaku seperti:

  1. Fobia
  2. Kecanduan obat-obatan terlarang
  3. Kecanduan rokok
  4. Konflik interpersonal akibat hubungan yang kurang sehat
  5. Gangguan tidur
  6. Kecemasan
  7. Post-traumatic stress disorder
  8. Perilaku meratapi karena kehilangan
  9. Gangguan makan

Selain itu, berdasarkan penelitian terkini, diketahui bahwa hipnoterapi berperan efektif dalam praktik CBT terhadap klien dengan gejala-gejala depresi (Fuhr, dkk., 2017). Kemaudian dalam setting non-klinis, menurut sebuah penelitian dari Vos dan Louw (2009), hipnoterapi juga bisa digunakan untuk meningkatkan self-concept pada remaja dalam mental training program, sehingga remaja bisa meningkatkan kepercayaan diri dan performa akademiknya.

Hipnoterapi dalam Intervensi Mindfulness

Selain menangani klien yang membutuhkan bantuan terkait gangguan psikologis, hipnoterapi juga bisa kita terapkan dalam intervensi berbasis mindfulness dalam kehidupan sehari-hari. Fungsi dari mindfulness adalah menyelaraskan pikiran dan mengembalikannya pada keadaan masa kini (here and now).Dilansir oleh Science Daily, menurut psikolog sekaligus praktisi mindfulness, Gary Elkins, Ph. D., teknik meditasi mindfulness yang digabungkan dengan hipnoterapi adalah sebuah teknik intervensi yang efektif untuk mengatasi stres dan kecemasan. Sebuah penelitian eksperimen dari Olendzki, Slonena, dan Elkins (2020) meneliti mengenai efektivitas intervensi ini. Penelitian tersebut melaporkan bahwa hipnoterapi dan mindfulness mempengaruhi penurunan yang signifikan pada perasaan tertekan. Hasil penelitian keseluruhan menunjukkan bahwa intervensi berjalan baik, yang ditunjukkan oleh kepuasan partisipan, kepatuhan pengobatan sebesar 84%, dan tingkat efek samping yang rendah sebesar 4,5% (Olendzki, dkk., 2020).

Selain itu, hipnoterapi yang digabungkan dengan mindfulness tidak harus dilakukan bersama-sama dengan klien, tetapi juga bisa dilakukan sendiri. Sebuah studi oleh Olendzki, dkk. (2019) membuktikan bahwa mindful hypnotherapy yang dilakukan dengan metode self-hypnosis dengan mendengarkan rekaman audio selama 8 minggu berturut-turut berhasil menurunkan tingkat stres dan meningkatnya mindfulness. Menarik, bukan? Kalau kamu tertarik mencoba, berikut ini adalah langkah-langkah yang bisa kamu digunakan dalam praktik self-hypnosis:

  1. Carilah tempat yang nyaman untuk berdiam diri.
  2. Setelah menemukan tempat yang nyaman, duduklah senyaman dan serileks mungkin dengan kaki dan tangan diluweskan.
  3. Tarik napas panjang sambil mendongakkan kepala, lalu bisikkan kepada diri sendiri dengan lembut namun penuh keyakinan: “Mataku lelah dan aku ingin tidur pada saat ini.”
  4. Biarkan tubuhmu rileks, lalu sementara kamu mengatur napas, hitunglah dari nol sampai lima. Jangan lupa bisikkan sugesti kepada diri sendiri untuk rileks.
  5. Ulangi lagi mengatur napas dan menghitung dari nol sampai lima sampai tubuh dan pikiranmu terasa ringan.
  6. Setelah tubuh dan pikiranmu merasa benar-benar tenang dan ringan, bukalah mata perlahan-lahan sehingga fokusmu kembali ke dunia nyata. Kamu bisa juga melemaskan badan dan anggota tubuhmu.

Penutup

Hipnoterapi membuktikan bahwa hipnosis ternyata tidak sepenuhnya sepele atau buruk, tetapi juga bermanfaat bagi kesehatan mental kita. Apabila kamu ingin menekuni praktik hipnoterapi, kamu harus memegang sertifikat khusus dari kelembagaan yang berwenang. Beberapa lembaga itu antara lain Indonesian Hypnosis Association (IHA), Indonesian Board of Hypnotherapy (IBH), Asosiasi Hipnoterapi Klinis Indonesia (AHKI), Indonesian Hypnotherapy and Medical Hypnosis Association (IMHA), dan International Association of Counselors and Therapist (IACT) Indonesia. Satu hal yang perlu diingat, sertifikat sebagai praktisi apa pun itu dibutuhkan agar dalam praktiknya, dasar-dasar keilmuan kita bisa dipertanggung jawabkan.

Bagaimana? Apakah kamu tertarik mempelajari hipnoterapi?

Referensi:

Baylor University. (2020, Juni 15). Mindfulness combined with hypnotherapy aids highly stressed people, study finds. Dipetik dari Science Daily: https://www.sciencedaily.com/releases/2020/06/200615184150.htm.

Fine, C. G. (2012) Cognitive Behavioral Hypnotherapy for Dissociative Disorders. American Journal of Clinical Hypnosis. 54:4, 331-352, DOI: 10.1080/00029157.2012.656856

Fuhr K, Schweizer C, Meisner C, et al. (2017). Efficacy of hypnotherapy compared to cognitive-behavioural therapy for mild-to-moderate depression: study protocol of a randomised-controlled raterblind trial (WIKI-D). DOI:10.1136/bmjopen-2017-016978

Mongiovi, J. (2020). Hypnosis & Psychology. Dipetik dari Johnmongiovi.com: http://johnmongiovi.com/psychology#:~:text=Freud%20referred%20to%20hypnosis%20as,produce%20illness%20on%20its%20own.

Olendzki, N., Elkins, G. R.  Slonena, E., Hung, J., & Rhodes, J. R. (2020) Mindful Hypnotherapy to Reduce Stress and Increase Mindfulness: A Randomized Controlled Pilot Study, International Journal of Clinical and Experimental Hypnosis, 68:2, 151-166, DOI: 10.1080/00207144.2020.1722028

Olendzki, N., Elkins, G., Slonena, E., & Hung, Julia & Rhodes, J. (2020). Mindful Hypnotherapy to Reduce Stress and Increase Mindfulness: A Randomized Controlled Pilot Study. International Journal of Clinical and Experimental Hypnosis. 68. 151-166. 10.1080/00207144.2020.1722028.

Therapy Tribe. (2020). What is Hypnotherapy?. Dipetik dari Therapy Tribe: https://www.therapytribe.com/therapy/what-is-hypnotherapy/

Vos, H., & Louw, D. (2009). Hypnosis-induced mental training programs as a strategy to improve the self-concept of students. Higher Education, 57(2), 141–154. Retrieved from https://doi.org/10.1007/s10734-008-9138-0

Wickramasekera, I. (2013). Hypnosis and Transpersonal Psychology: Answering the Call Within. 10.1002/9781118591277.ch27.

Artikel Terkait

Leave a Comment