Image default

Mengenal 4 Gaya Identitas Dalam Pembentukan Jati Diri

Masa remaja dikenal sebagai masa transisi, di mana tidak asing lagi kita melihat perubahan dari teman maupun diri sendiri, dari penampilan fisik, pergaulan, kegemaran, sampai prinsip hidup sekalipun. Fenomena ini sangat wajar, karena di umur inilah kita sedang dalam pencarian menemukan jati diri. 

Dalam psikologi, ternyata proses penemuan jati diri ini sangat amat diteliti, loh. Nah, apa saja sih hal-hal menarik yang patut kita ketahui? Simak selengkapnya di artikel ini, yuk!

Apa itu Jati Diri atau Identitas?

Identitas, juga disebut jati diri, adalah pandangan subjektif yang kita miliki terhadap diri sendiri. Jati diri adalah bagaimana kita mendefinisikan diri sendiri dalam aspek-aspek tertentu, seperti nilai-nilai yang kita anut, kepribadian kita, kepercayaan kita, dan aspek lainnya. 

Identitas yang sudah terbentuk cenderung stabil dan unik, di mana tidak ada dua orang dengan identitas yang sama persis. 

Identity vs. Role Confusion 

Anak psikologi pasti sudah tidak asing lagi dengan 8 Tahapan Psikososial Erikson. Teori ini menggambarkan tahapan-tahapan perkembangan yang dilalui setiap orang selagi mereka bertumbuh sepanjang hidupnya. Masing-masing tahapan mempunyai tantangannya tersendiri dan setiap individu harus berhasil melalui tantangan tersebut untuk bisa tumbuh secara optimal. 

Nah, identity vs. role confusion merupakan tahapan kelima yang biasanya dialami oleh remaja berumur 12-18 tahun. Di tahapan ini, remaja sedang gencar-gencarnya bereksplorasi untuk menemukan jati diri mereka. Maka dari itu, tidak jarang perubahan-perubahan drastis dari remaja dapat ditemukan di fase ini. 

Di tahapan ini, remaja mempertanyakan hampir semua hal dalam dirinya, dari penampilan fisiknya, pilihan-pilihan terkait hubungan percintaan, pendidikan, pekerjaan, seksualitas, kepribadian, dan banyak hal lainnya. 

Konflik atau tantangan yang harus mereka selesaikan adalah menemukan identitas diri dan merasa nyaman akan identitas tersebut. Keberhasilan menyelesaikan tantangan ini akan berujung pada terbentuknya jati diri yang kuat dan cenderung stabil sepanjang hidupnya. 

Sementara, kegagalan dalam tahapan ini akan mengarah pada krisis identitas atau yang disebut role confusion. Remaja dengan krisis identitas:

  • Memiliki jati diri yang lemah, sehingga mudah dipengaruhi oleh faktor-faktor eksternal
  • Kesulitan menjelaskan tentang dirinya kepada orang lain 
  • Merasa tidak yakin terhadap dirinya sendiri
  • Merasa kecewa dan bingung akan posisinya di kehidupan ini

Krisis identitas dapat terjadi jika individu tidak dibiarkan mengeksplorasi dunianya sendiri sedari kecil. Dalam kata lain, orang tua atau lingkungan yang terlalu mengekang dan mengarahkan tanpa memberi ruang eksplorasi mandiri lebih rentan menghasilkan remaja-remaja dengan krisis identitas. 

Bagaimana jati diri kita terbentuk? 

Jati diri terbentuk dari gabungan antara faktor internal (genetik, kepribadian, dll) dan eksternal (sekolah, rumah, orang-orang di sekitar, dll). Identitas seorang remaja berkembang saat mereka mencoba berbagai macam peran di lingkungan yang berbeda-beda seperti sekolah, rumah, dan lingkungan sekitar. Hal ini memberi kesempatan untuk mengeksplorasi nilai-nilai, kepercayaan, etika, spiritualitas, dan seksualitas mereka sendiri. 

Menurut Erikson, eksperimentasi remaja dengan peran, aktivitas, dan perilaku yang berbeda-beda sangat penting untuk dapat membentuk identitas yang kuat. 

4 Jenis Gaya Identitas 

Penelitian dalam psikologi menemukan 4 jenis gaya identitas yang umum dilalui remaja dalam proses pencarian jati dirinya. 

1. Difusi 

Gaya identitas Difusi menjelaskan remaja yang sama sekali tidak mengeksplorasi maupun berkomitmen pada satu identitas. Periode ini umum dialami oleh anak-anak yang belum memasuki masa remaja ataupun remaja awal, karena kesadaran yang masih rendah dan sedikitnya pengalaman terkait eksplorasi identitas. 

Umumnya, para remaja akan keluar dari periode difusi ini ketika mereka dihadapkan oleh berbagai macam pilihan dan pengalaman yang memberikan kesempatan untuk mengeksplorasi diri. 

Mereka yang terus-terusan berada di periode ini mungkin akan hanyut tanpa tujuan hidup dan memiliki sedikit koneksi terhadap lingkungan sekitar. Mereka cenderung mudah dipengaruhi, mempunyai self-esteem yang rendah dan memiliki sedikit pertemanan yang berarti dalam hidupnya. 

2. Foreclosure 

Gaya identitas Foreclosure dimiliki oleh remaja yang berkomit pada suatu identitas tanpa melakukan eksplorasi diri. Hal ini umum dialami remaja yang mengalami tekanan dari lingkungan sekitar, termasuk ekspektasi dari keluarga ataupun budaya setempat. Tidak jarang mereka dengan gaya identitas foreclosure merasa cemas akan ketidakpastian dan perubahan yang terjadi di masa remaja, sehingga langsung berkomit pada satu identitas tanpa mencari tahu kemungkinan lainnya menjadi comfort zone mereka. 

Sama seperti gaya identitas sebelumnya, remaja akan keluar dari fase foreclosure ketika mereka berkesempatan mengeksplorasi pilihan-pilihan dalam hidupnya. Namun, terkadang fase ini bertahan sampai dewasa. Hal ini dapat terjadi jika orang tua selalu membuat keputusan untuk anak mereka tanpa memberi kesempatan untuk anak membuat pilihan sendiri. Dalam kasus lain nya, sang remaja mungkin sangat mengidolakan orang tua atau orang lain sehingga ingin mengikuti jejak hidup mereka tanpa melihat kemungkinan lainnya. 

Individu yang terlalu lama berada di gaya identitas foreclosure cenderung memiliki level toleransi yang rendah dan kesulitan menghadapi perubahan, lebih nyaman menjadi pengikut, dan memiliki orang tua dengan gaya parenting otoriter. 

3. Moratorium 

Remaja dengan gaya identitas Moratorium sedang aktif melakukan eksplorasi diri tanpa berkomitmen pada satu identitas. Idealnya, hampir semua remaja pasti melewati fase ini.

Fase ini sering kali dialami saat remaja sedang bersekolah atau berkuliah, karena di lingkungan inilah mereka bertemu banyak orang baru dan dihadapkan pada berbagai macam pilihan dalam hidup. Di fase ini, muncul banyak pertanyaan tentang jati diri. 

Siapa aku sebenarnya? Apa hal yang menurutku penting dalam hidup ini? Apa yang aku inginkan dalam hidup? 

Karena banyaknya pertanyaan yang muncul dan hanya sedikit yang terjawab, fase ini menimbulkan kecemasan bagi para remaja. Maka dari itu, normal bagi mereka untuk memberontak, tidak kooperatif, dan memiliki ketidakpastian akan pilihan-pilihannya di fase ini. 

4. Achievement 

Gaya identitas Achievement idealnya terbentuk setelah remaja berada dalam fase moratorium. Remaja yang sudah melakukan eksplorasi diri, menemukan tujuan hidupnya, dan siap berkomitmen pada identitas itu dinyatakan berada dalam fase identity achievement

Mereka yang sudah sampai pada fase achievement merasakan self-acceptance, memiliki identitas yang stabil, dan berkomitmen pada identitas tersebut. 

Mengapa memiliki jati diri itu penting? 

Berkomitmen pada satu identitas akan membuat remaja merasa percaya diri dan lebih bertanggung jawab akan pilihan-pilihan dalam hidupnya. Mereka juga akan merasa memiliki kontrol lebih terhadap hidupnya karena keyakinan dan kejelasan yang terbentuk dari identitas diri tersebut. 

Namun, penting juga untuk menyadari bahwa kehidupan manusia tidaklah statis, dan ada kalanya kita mempertanyakan kembali identitas kita seiring bertambahnya umur dan juga pengalaman dalam hidup. Mungkin penemuan jati diri ini tidak berhenti di masa remaja saja, dan ada kalanya individu kembali berada dalam siklus difusi, foreclosure, dan moratorium di kehidupan setelah remaja sampai akhirnya kembali pada status achievement lagi. 

Apa yang dapat dilakukan ketika menghadapi krisis identitas?

Dikala sedang berenang-renang mencari jati diri dan mempertanyakan diri sendiri, ‘aku ini siapa?’, ada beberapa tips praktis yang dapat kamu lakukan ketika menghadapi krisis ini. 

  • Eksplor minat dan bakatmu. Hal apa yang menarik perhatianmu? Hal apa yang tidak lagi kamu sukai? Mengeksplor minat bakat merupakan satu cara untuk mengetahui dirimu dengan lebih baik. 
  • Pertimbangkan goals-goals kamu. Apa yang ingin kamu capai dalam hidup? Apa yang memberimu ketenangan dan kebahagiaan? Krisis identitas bisa jadi suatu pertanda bahwa ada kebutuhanmu yang belum terpenuhi. Mengetahui apa tujuanmu dalam hidup merupakan langkah pertama memenuhi kebutuhan-kebutuhan itu. 
  • Dekatkan diri dengan support system-mu. Krisis identitas merupakan saat yang krusial di mana kamu rentan terhadap pengaruh-pengaruh dari luar. Maka dari itu penting untuk mendekatkan diri dengan orang-orang yang memang peduli dengan kebaikanmu agar tidak salah arah dan tetap berada di jalan yang baik dan benar. 

Referensi 

  • Cherry, M (2021). Identity vs. Role Confusion in Psychosocial Development. verywellmind. Retrieved from  https://www.verywellmind.com/identity-versus-confusion-2795735 
  • Cherry, K (2021). What is an Identity Crisis? Verywellmind. Retrieved from https://www.verywellmind.com/what-is-an-identity-crisis-2795948 
  • Elmer, J (2019). What’s an Identity Crisis and Could You Be Having One? Healthline. Retrieved from https://www.healthline.com/health/mental-health/identity-crisis 
  • Lumen candela. Identity Development Theory. Retrieved from https://courses.lumenlearning.com/adolescent/chapter/identity-development-theory/ 
  • Morelli, A. James Marcia and Self-Identity. Gracepoint. Retrieved from https://www.gracepointwellness.org/1310-child-development-theory-adolescence-12-24/article/41164-james-marcia-and-self-identity 
  • Watson, J (2019). Why is Teen Identity Development Important? Aspiro. Retrieved from https://aspiroadventure.com/blog/why-is-teen-identity-development-important/

Artikel Terkait

Leave a Comment