Fanatisme Menurut Psikologi

Memahami Fanatisme Dari Sudut Pandang Psikologi

Selama ini tidak jarang kita menemukan kata fanatik maupun fanatisme pada berita mengenai peristiwa yang terjadi di masyarakat. Bentuk fanatisme yang terjadi di tengah masyarakat Indonesia sangatlah beragam. Beberapa bulan lalu, terdapat berita yang mengangkat menunjukkan bahwa sekelompok penggemar sebuah sinetron yang mengharapkan tokoh idola mereka berpisah dengan pasangannya di dunia nyata.

Tidak hanya itu, terdapat pula sekelompok orang yang melanggar protokol kesehatan maupun peraturan perundang-undangan untuk menunjukkan kesetiaan mereka terhadap idolanya, yang mana dapat dinilai sebagai perilaku yang berlebihan.

Kedua contoh fenomena ini menggambarkan fenomena fanatisme yang benar-benar terjadi ditengah masyarakat kita. Pada dasarnya mengidolakan public figure tidak ada salahnya dan merupakan hal yang sangat wajar. Hal ini dikarenakan fans atau penggemar dan idola dapat memberikan dukungan yang diperlukan oleh kedua belah pihak.

Namun demikian, perilaku untuk menunjukkan kesetiaan dan dukungan dengan cara yang berlebihan atau fanatik ini tidak dapat dikatakan tepat. Artikel ini akan berusaha menjelaskan beberapa hal yang berkaitan dengan fanatisme agar kita dapat lebih memahami dan menyikapi dengan lebih tepat fenomena-fenomena seperti itu.

Apa itu Fanatisme?

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, fanatisme merupakan keyakinan atau kepercayaan kuat pada diri seseorang terhadap ajaran tertentu baik ajaran agama, politik dan masih banyak lagi (Arti kata fanatisme – Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Online, t.t.).

Berdasarkan beberapa contoh peristiwa atau fenomena yang telah dijabarkan di atas, perilaku fanatisme ini mudah untuk ditemui di tengah masyarakat kita.

Sedangkan secara psikologis, fanatisme didefinisikan sebagai sebuah semangat atau kesetiaan berlebih yang tidak rasional terhadap keyakinan tertentu (Fanaticism – APA Dictionary of Psychology, t.t.).

Berdasarkan definisi yang ada, dapat dipahami bahwa perilaku yang dimaksud sebagai fanatisme merupakan perilaku yang terjadi secara berlebihan dan cenderung tidak rasional terhadap kelompok atau public figur tertentu. Perilaku tersebut juga terlihat jelas berbeda dengan perilaku mengidolakan yang sewajarnya.

Bentuk Fanatisme

Dengan penjelasan singkat mengenai makna fanatisme tersebut, mungkin memicu  munculnya pertanyaan mengenai bentuk dari fanatisme. Bentuk fanatisme sendiri ada banyak macamnya baik fanatisme yang terjadi pada kalangan remaja maupun mereka yang telah dewasa.

Setidaknya terdapat dua bentuk fanatisme yang sering dijumpai, seperti bentuk fanatisme terhadap regu olahraga, artis, atau public figure hingga terhadap agama.

1. Fanatisme terhadap kelompok olahraga

Fanatisme terhadap kelompok atau regu olahraga tertentu sepertinya sering diberitakan oleh media massa di Indonesia. selayaknya penggemar pada umumnya, penggemar regu olahraga memiliki cara mereka sendiri untuk menunjukkan rasa suka dan kesetiaan mereka kepada kelompok yang didukung.

Dalam teori psikologi olahraga, Melanie James dalam Virtue (2015) menjelaskan bahwa terdapat beragam cara pendukung atau penggemar menunjukkan dukungannya, seperti menonton langsung di lapangan dengan mengenakan pakaian dan aksesoris kelompoknya, menyanyikan yel-yel, membuat tato nama pemain idola dan sebagainya. Contoh tersebut tidak termasuk ke dalam perilaku fanatisme dan terbilang wajar karena tidak mengganggu privasi atlet yang diidolakan.

Lain halnya dengan beberapa peristiwa yang terjadi di Indonesia beberapa waktu lalu yang mana oknum penggemar kelompok olahraga tertentu melakukan kekerasan terhadap pendukung lawan, merusak fasilitas umum dan dan melakukan beberapa perilaku yang melanggar aturan dengan embel-embel membela kelompok atau atlet yang didukungnya. Apabila perilaku sudah sudah seperti ini, perilaku yang oknum penggemar ini sudah dapat dikategorikan sebagai perilaku fanatisme.

2. Fanatisme terhadap artis atau public figure

Tidak hanya fanatisme dalam bentuk dukungan terhadap kelompok olahraga, fanatisme yang akhir-akhir ini terlihat pada generasi muda Indonesia adalah fanatisme terhadap selebritas ataupun public figure.

Pada sebuah artikel jurnal yang ditulis oleh Brooks (2021), fenomena fanatisme terhadap selebritas ini disebut juga dengan istilah celebrity worship. Oknum penggemar fanatik ini memiliki keyakinan, rasa memiliki dan kesetiaan yang sangat kuat serta tidak rasional terhadap artis yang mereka idolakan.

Menurut Celebrity Attitude Scale (McCutcheon dalam Brooks, 2021) terdapat tingkatan fanatisme terhadap selebritis yang terbagi menjadi tiga. Tingkatan terendah berupa entertainment-social yang mana mengidolakan selebritis murni sebagai hiburan dan sumber untuk menjalin hubungan sosial dengan orang lain.

Misalnya seperti sekedar hobi untuk menghilangkan penat dan menjadi bahan obrolan dengan teman-teman. Tingkatan menengah terdapat intense-personal yaitu tingkatan dimana penggemar memiliki ketertarikan yang lebih kuat dan mulai merasa mereka ada untuk selebritis yang diidolakan (Redmond dalam Brooks, 2021).

Sedangkan tingkatan paling ekstrem adalah borderline-pathological yaitu kondisi penggemar yang over-identification, memiliki delusi dan fantasi, dan mau melakukan apapun untuk idolanya. Sebagai contoh para penggemar yang menguntit, menerobos masuk ke kediaman selebritis, dan masih banyak lagi.

3. Fanatisme terhadap agama atau keyakinan

Sedikit berbeda dengan fanatisme terhadap kelompok olahraga maupun selebritis, fanatisme pada konteks agama atau religious fanaticism memiliki karakteristik yang agak berbeda. William H. Leach (1919) menjelaskan bahwa religious fanaticism berupa bentuk spirit keagamaan yang terlalu mengontrol hidup orang yang bersangkutan hingga membutakan individu tersebut akan kebenaran, penyebab, penjelasan logis, pemikiran orang lain bahkan temuan ilmiah.

Di satu sisi, individu yang fanatik terhadap agama atau keyakinan tertentu biasanya telah melalui proses doktrin untuk memenuhi kebutuhan atau keinginan kelompok maupun organisasi tertentu (Dinulescu & Troncotă, 2018). Kondisi ini berperan dalam tumbuhnya rasa tidak suka dengan individu atau kelompok lain yang memiliki aliran, keyakinan atau agama berbeda dari mereka yang mengalami religious fanaticism.

4. Fanatisme dalam gaya hidup dan perilaku konsumen

Perilaku fanatik ini berupa perilaku individu untuk memenuhi gaya hidup tertentu yang sangat berbeda antara individu yang satu dengan yang lain. Perilaku yang muncul pada fanatisme ini berupa perilaku konsumsi atau membeli barang secara impulsif dan hedon untuk memenuhi gaya hidupnya (Erciş dkk., 2016).

Fanatisme mereka terhadap gaya hidup tertentu mengarahkan cara maupun perilaku konsumsi mereka begitu pula sebaliknya, perilaku konsumsi yang dilakukan oleh yang bersangkutan memberikan pengaruh terhadap gaya hidupnya (Erciş dkk., 2016).

Faktor Fanatisme

Fanatisme pada diri individu dapat berkembang karena beberapa hal baik dari pengaruh internal atau dalam diri sendiri maupun dari pengaruh eksternal seperti lingkungan, doktrin, tuntutan sosial, atribusi sosial hingga gaya hidup. Selain faktor lingkungan, terdapat pula faktor dari dalam diri yang mempengaruhi seperti keyakinan dan pemahaman yang tidak tepat, motivasi dan intensi serta masih banyak lainnya.

Meskipun demikian, artikel ini hanya akan membahas dua hal yang dapat mempengaruhi fanatisme yakni tipe kepribadian dan gender. Meskipun demikian, masih banyak aspek internal yang mempengaruhi fanatisme individu yang tidak dapat dirangkum pada artikel ini.

Perbedaan tipe maupun kecenderungan kepribadian pada diri individu memberikan pengaruh tersendiri pada fanatisme yang dialami seseorang. Setiap kecenderungan kepribadian memiliki efek yang berbeda-beda terhadap tingkat fanatisme seseorang.

Hasil penelitian Maltby dkk (dalam Brooks, 2021) menggunakan five factor model of personality, diketahui terdapat hubungan positif yang signifikan secara berturut turut antara tipe kepribadian extraversion, neuroticism dan Psychoticism dengan entertainment-social, intense-personal dan borderline-pathological.

Penelitian yang dilakukan oleh Swami dkk (dalam Brooks, 2021) menunjukkan bahwa terdapat korelasi negatif yang signifikan antara tipe kepribadian openness dengan seluruh tingkat fanatisme terhadap selebritis serta antara intense-personal dengan kepribadian openness, emotional stability, dan conscientiousness. Hasil ini bermakna bahwa ketika individu memiliki kecenderungan kepribadian openness, kecenderungan individu tersebut mengembangkan fanatisme pada ketiga tingkat tersebut rendah.

Perbedaan gender juga memberikan pengaruh tersendiri bagi fanatisme pada individu. Pengaruh gender terhadap fanatisme ditemukan tidak hanya pada fanatisme terhadap selebritis, tetapi juga fanatisme terhadap agama dan olah raga dengan dinamika yang pastinya tidaklah sama.

Sebagian penelitian yang dilakukan Reeves dkk (dalam Brooks, 2021) menunjukkan bahwa laki-laki memiliki skor CAS secara keseluruhan serta subskala entertainment-social yang lebih tinggi dibandingkan perempuan. Meskipun demikian, tidak ada penjelasan lebih lanjut apakah hal ini terjadi pada penggemar yang berbeda gender atau tidak.

Masih berkaitan dengan gender, Leach (1919) menjelaskan bahwa perempuan memiliki dan laki-laki memiliki sisi emosional yang berbeda. Perbedaan aspek emosional pada perempuan dapat memberikan pengaruh lebih kuat bagi religiusitas hingga fanatisme individu yang bersangkutan.

Ia juga menambahkan bahwa fanatisme tersebut dapat menjadi hal yang baik karena membuat mereka menjalankan agama tetapi pada satu sisi dapat juga mencelakai individu tersebut maupun komunitas dan lingkungan mereka. Sedangkan untuk fanatisme terhadap olahraga penulis belum menemukan penelitian yang membahas perbedaan gender terhadap perilaku fanatisme terhadap olahraga.

Fanatisme dan Neuropsikologi

Memahami fanatisme merupakan hal yang cukup menantang untuk dilakukan. Salah satunya dikarenakan fanatisme sendiri merupakan suatu hal atau konsep yang rumit dan berbeda antara satu konteks dengan konteks lain, antara satu individu dengan individu yang lain. Untuk memahami fanatisme secara lebih jelas lagi, upaya melihat proses atau dinamikanya secara riil tentu diperlukan.

Sejalan dengan hal tersebut, Duarte dkk (2017) melakukan sebuah penelitian observasi untuk melihat dinamika fanatisme dari sudut pandang neuroimaging. Penelitian ini menggunakan bantuan alat Functional Magnetic Resonance Imagery atau fMRI untuk menganalisis kinerja otak berkaitan dengan fanatisme olahraga pada individu.

Hasil penelitian tersebut menunjukkan adanya aktivitas pada sistem limbik terutama amygdala dan area otak yang berkaitan dengan reward system seperti substantia nigra dan ventral tegmental area (VTA). Dinamika yang ditemukan cukup mirip dengan proses yang terjadi pada proses pengkondisian klasik. Pada proses ini sama-sama terjadi penguatan perilaku tertentu (pada konteks ini kecintaan terhadap kelompok olahraga) (Duarte, dkk., 2017).

Demikian sedikit pembahasan mengenai fanatisme para artikel ini. Melalui pembahasan ini diharapkan dapat meningkatkan pemahaman kita mengenai fanatisme dan mereka yang mengalami fanatisme ini.

Fanatisme pada konteks apapun tidak sepenuhnya benar, terlebih ketika fanatisme menimbulkan dampak buruk bagi orang lain. Perilaku fanatisme ini perlu diwaspadai tapi bukan berarti membenci individu yang fanatik. Hal ini dikarenakan individu yang mengalami ini juga korban yang perlu untuk direngkuh.

Referensi

  • Arti kata fanatisme—Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Online. (t.t.). Diambil 19 Juni 2021, dari https://kbbi.web.id/fanatisme
  • Brooks, S. K. (2021). FANatics: Systematic literature review of factors associated with celebrity worship, and suggested directions for future research. Current Psychology, 40(2), 864–886. https://doi.org/10.1007/s12144-018-9978-4
  • Dinulescu, I., & Troncotă, C. (2018). Security Risks Generated by Behavior of Religious Fanatics. Land Forces Academy Review, 23, 105–112. https://doi.org/10.2478/raft-2018-0012
  • Duarte, I. C., Afonso, S., Jorge, H., Cayolla, R., Ferreira, C., & Castelo-Branco, M. (2017). Tribal love: The neural correlates of passionate engagement in football fans. Social Cognitive and Affective Neuroscience, 12(5), 718–728. https://doi.org/10.1093/scan/nsx003
  • Erciş, A., Deveci, F. G., & Deligoz, K. (2016, September 5). Determining the Influence of Fanatical Tendencies on Consumption Styles Based on Lifestyles.
  • Fanaticism – APA Dictionary of Psychology. (t.t.). Diambil 18 Juni 2021, dari https://dictionary.apa.org/fanaticism
  • Leach, W. H. (1919). Religious Fanaticism: Asset or Debit? The Biblical World, 53(3), 240–244. JSTOR.
  • Virtue, R. (2015, Maret 6). The psychology of fanaticism. ABC Local. https://www.abc.net.au/local/stories/2015/03/06/4192469.htm

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *