Psikologi positif adalah suatu cabang psikologi yang membahas tentang kekuatan pribadi dan perilaku yang memunculkan makna hidup.

Salah satu cabang psikologi ini belakangan populer. Kali ini KampusPsikologi.com ingin membahas dasar-dasar serta konsep umumnya ya. Yuk kita simak!

Pendahuluan

Psikologi sebagai salah satu ilmu sosial humaniora telah bertahun-tahun membahas mengenai sikap manusia terhadap peristiwa-peristiwa yang terjadi di lingkungannya. Dikutip dari buku Psikologi Pertumbuhan karya Duane Schultz (1991), sejumlah ahli psikologi memaparkan pentingnya pertumbuhan pribadi agar individu bisa menjadi manusia seutuhnya, yang dipengaruhi lingkungan.

Bandura, misalnya, dalam teori sosial kognitif, menganggap bahwa pengalaman lingkungan individu dapat membentuk perilaku individu, begitu pula sebaliknya. Namun, Bandura tidak menekankan kepada pengalaman individu sebagai suatu makna, melainkan sebagai suatu hal yang dapat membentuk kepribadian individu.

Ahli lain, yaitu Carl Rogers, mengatakan bahwa orang yang berfungsi sepenuhnya adalah orang yang dapat melihat kehidupan sebagai sesuatu yang penuh kejutan. Maka, menurut Rogers, manusia yang sehat secara mental adalah orang yang mampu beradaptasi dengan lingkungannya, serta memiliki pandangan yang optimis mengenai masalah yang terjadi dalam hidupnya.

Sedangkan menurut Victor Frankl, tiap individu di dunia ini mengemban misi atau tugas khusus, sehingga makna hidup yang didapatkan oleh individu berdasarkan misinya tersebut akan berbeda-beda. Namun, Frankl juga berpendapat bahwa mencari makna kehidupan adalah sebuah tugas yang rumit. Tidak semua individu bisa dengan cepat melakukannya, bahkan mungkin hal ini bisa menyebabkan ketegangan batin. Meskipun demikian, bukan berarti ketegangan batin ini buruk. Justru Frankl berpendapat bahwa mereka yang tidak mengalami ketegangan batin karena kesulitan mencari makna kehidupan adalah orang-orang yang ‘kurang arti,’ atau yang disebut dengan nöogenic neurosis.

Pandangan Frankl mengenai manusia utuh ini mengingatkan kita kepada teori Maslow, yakni individu yang telah menemukan makna kehidupan dan berfungsi secara utuh sebagai manusia yang sehat mental adalah manusia yang sudah mengaktualisasi dirinya. Namun belakangan ini, muncul sebuah pandangan baru yang bisa dibilang sedang naik daun di kalangan ilmuwan psikologi, yaitu psikologi positif.

Sejarah dan Konsep Psikologi Positif

Konsep ini pertama kali diperkenalkan oleh Martin Seligman tahun 1998. Ahli-ahli lain yang mendukung psikologi positif adalah Christopher Peterson, dan Mihaly Csikszentmihalyi.

Seligman mendefinisikan hidup yang bahagia menjadi tiga konstruk, yaitu pleasant life, good life, dan meaningful life.

Pleasant life adalah definisi kebahagiaan duniawi, yang menurut Seligman adalah kebahagiaan yang biasa didapatkan oleh orang-orang dengan kemampuan ekonomi menengah ke atas.

Good life adalah kebahagiaan yang dialami apabila seseorang fokus pada kekuatan pribadi dan hubungan dengan orang lain.

Sementara meaningful life adalah hidup yang ideal, penuh dengan makna dan pelajaran yang bisa dipetik. Konsep meaningful life inilah yang ditonjolkan oleh Seligman. Maka dari itu, ia berpendapat bahwa pengembangan kekuatan karakter individu, penguatan emosi positif, serta penemuan makna dan tujuan hidup dapat berkontribusi pada hasil kehidupan yang positif.

Meskipun fokus psikologi positif adalah pada kebahagiaan dan kepuasan hidup, bukan berarti individu disarankan untuk menyingkirkan pemikiran dan emosi negatif yang dirasakannya. Psikologi positif justru mendukung individu untuk mengelola pemikiran dan emosi negatif tersebut menjadi cara untuk mengembangkan diri.

Orang yang bahagia dengan psikologi positif
Meraih hidup bermakna dengan Psikologi Positif

Praktik Psikologi Positif

Terdapat suatu pendekatan terapeutik dalam psikologi positif, yaitu Psikoterapi Positif (PPT). Pendekatan terapeutik ini dipengaruhi oleh pendekatan humanistik dan psikodinamik. Fokus inti dari PPT adalah menjauh dari apa yang ‘salah’ atau aspek negatif seseorang, dan sebaliknya bergerak menuju apa yang baik dan positif. PPT juga menegaskan bahwa tiga prinsip inti perlu diperhatikan untuk memungkinkan hal ini terjadi:

1. Prinsip Harapan (the principle of hope)

Prinsip ini mendorong individu untuk fokus pada keseluruhan positivisme umat manusia. Setiap pengalaman negatif dipandang memiliki tujuan yang lebih tinggi, maka dari itu, pengalaman-pengalaman itu akan didorong untuk dieksplorasi dan dibingkai ulang sebagai sinyal bahwa ada ketidakseimbangan yang perlu ditangani dalam diri individu.

2. Prinsip Keseimbangan (the principle of balance)

Prinsip ini meneliti bagaimana kita mengalami ketidakpuasan dan metode penanganan yang mungkin kita gunakan untuk mengatasinya. Ketidakpuasan ini memengaruhi cara kita berpikir dan merasakan.Menurut PPT, gejala-gejala negatif muncul ketika metode coping tidak berhasil sehingga area kehidupan kita jadi tidak seimbang.

3. Prinsip Konsultasi (the principle of consultation)

Prinsip ini menetapkan ada lima tahap terapi yang harus diselesaikan untuk mengatasi setiap masalah yang muncul dalam dua prinsip di atas guna mencapai hasil yang positif, yaitu

  1. Pengamatan – di mana individu memberikan penjelasan tentang masalah, tantangan, atau situasi yang membuat mereka kesal dan yang membuat mereka bahagia.
  2. Inventaris – di mana terapis dan individu bekerja sama untuk mengeksplorasi dan menyoroti korelasi antara perasaan / gejala negatif dan kemampuan individu yang sebenarnya.
  3. Dukungan Situasional – di mana individu diminta untuk fokus pada sifat positif mereka dan orang-orang di sekitar mereka yang secara signifikan menawarkan dukungan kepada mereka.
  4. Verbalisasi – di mana individu didorong untuk secara verbal mendiskusikan dan berbicara secara terbuka tentang perasaan, tantangan, atau gejala negatif.
  5. Pengembangan Tujuan – di mana individu diundang untuk mengalihkan fokus mereka ke masa depan, menetapkan tujuan positif, dan membayangkan perasaan positif yang ingin mereka kembangkan, serta menghubungkannya dengan kekuatan unik mereka.

Kontroversi dan Kritik

Nah, seperti yang sudah kita tahu, psikologi positif merupakan pandangan baru yang terus mengalami perkembangan.

Namun, hal itu bukan berarti psikologi positif juga memicu kontroversi di kalangan para ahli. Salah satunya, Held (2004) mengatakan dalam jurnalnya tentang kritik psikologi positif, bahwa padangan mengenai “setiap pemikiran dan emosi negatif harus dipandang sebagai pengalaman yang memungkinkan manusia untuk berkembang” dapat menjadikan individu mengabaikan realita.

Michaelson (2011) dalam artikelnya, The Problem with Positive Psychology, juga mengkiritik tentang psikologi positif yang tidak menyentuh pemikiran bawah sadar negatif (unconscious negativity), padahal pengalaman-pengalaman negatif yang di-repress ke pemikiran bawah sadar bisa sewaktu-waktu muncul ke permukaan bila individu memiliki keterkaitan emosional yang kuat dengan pengalaman tersebut.

Selanjutnya, para ahli juga menggarisbawahi pentingnya psikologi positif untuk tidak mengabaikan perbedaan individu, terutama terkait penganganan post traumatic stress disorder.

Sebuah riset yang pernah dilakukan Paul Meehl tahun 1973 membuktikan bahwa setiap individu memiliki kecenderungan untuk rentan terhadap trauma, namun belakangan ini riset juga menemukan bahwa 70-75% individu yang sering terpapar stres atau mengalami kejadian traumatis berulang kali memiliki kecenderungan resiliensi yang tinggi (Lilienfeld, 2009).

Penutup

Marilah kita merenung sejenak. Sebagai manusia, kita selalu menghadapi berbagai masalah dan ujian hidup, bukan? Segala masalah atau ujian hidup yang pernah kita alami merupakan rangkaian peristiwa yang tak terhindarkan, tapi efek yang muncul dari peristiwa tersebut bisa dikelola apabila kita memiliki keinginan kuat.

ceria dan positif
Photo by Anna Shvets from Pexels

Lepas dari kontroversinya, psikologi positif tetap memberikan sumbangsih pengetahuan terhadap perkembangan ilmu psikologi, terutama bagi metode terapi.

Akhir kata, kita memang tidak bisa memaksa diri sendiri untuk berpikir dan bersikap positif setiap saat, tetapi kita bisa memberikan pengaruh positif kepada lingkungan melalui hal-hal yang kita lakukan. Tentu saja, tidak perlu dengan hal-hal besar. Kita hanya perlu membangun kepercayaan diri dan meyakini bahwa segala tindakan kita akan memiliki dampak yang nyata, entah kepada diri sendiri atau kepada lingkungan kita.

References:

Held, B. S. (2004). The Negative Side of Positive Psychology. Journal of Humanistic Psychology, 44(1), 9–46. doi:10.1177/0022167803259645.

Lilienfeld, S. (2009, Juni 19). Is Positive Psychology for Everyone?. Dipetik dari Psychology Today: https://www.psychologytoday.com/us/blog/the-skeptical-psychologist/200906/is-positive-psychology-everyone.

Mead, L. (2020, Oktober 13). What is Positive Psychotherapy? (Benefits & Model). Dipetik dari PositivePsychology.com: https://positivepsychology.com/positive-psychotherapy-research-effects-treatment/#:~:text=Positive%20Psychotherapy%20(PPT)%20is%20a,towards%20what’s%20good%20and%20positive.

Michaelson, P. (2011, November 23). The Problem with Positive Psychology. Dipetik dari Whywesuffer.com: https://whywesuffer.com/the-problem-with-positive-psychology/.

Psychology Today. (2020). Positive Psychology. Dipetik dari Psychology Today: https://www.psychologytoday.com/intl/basics/positive-psychology#:~:text=Positive%20psychology%20is%20a%20branch,elements%20of%20a%20good%20life.

Schultz, D. (Yustinus, Penerj.) (1991). Psikologi Pertumbuhan: Model-model Kepribadian Sehat. Yogyakarta: Kanisius.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *