Image default

10 Ciri Psikopat Ringan Menurut Psikologi

Gangguan psikopati adalah konstruksi kepribadian yang penting dalam klinis dan forensik yang berkaitan dengan perilaku bermasalah yang serius yang dapat merugikan orang lain. Kepribadian psikopat dapat ditemukan di hampir setiap pekerjaan dan di setiap tingkat masyarakat. Gangguan psikotik mungkin tersembunyi di balik manifestasi luar yang memberikan sedikit atau tidak ada dampak apapun yang begitu serius. Namun pada kenyataannya sifat psikopati acap kali menjadi masalah besar yang akan merugikan diri mereka sendiri dan orang lain. 

Dalam psikologi tidak ada istilah yang merujuk mengenai gangguan psikopat ringan. Gangguan psikopat ringan cenderung dikaitkan dengan Gangguan kepribadian antisosial yang mana terjadi pola pengabaian kronis dan pelanggaran hak orang lain.

Contoh kriteria termasuk tindakan ilegal, penipuan, manipulasi, impulsif, agresi, gangguan dalam hubungan interpersonal, dan ketidakmampuan untuk mempertahankan pekerjaan yang menguntungkan. Orang yang mengalami gangguan ini selalu berselisih dengan masyarakat dan tidak mampu menilai akibat-akibat dari perilakunya.

Dalam artikel ini penulis telah merangkum beberapa ciri dari psikopat ringan.

1. Manipulatif

Manipulatif adalah salah satu ciri dari orang yang mengalami gangguan psikopat ringan. Dalam konsep ini manipulasi diartikan sebagai proses mempengaruhi orang lain menggunakan agresivitas, kecerdikan dan tipu muslihat untuk memberikan keuntungan bagi dirinya.

Sifat manipulasi muncul untuk mengkompensasi kegagalan menyelesaikan pembentukan identitas yang penting dalam proses pemisahan individuasi. Sifat ini merupakan sifat kekanak-kanakan yang tetap aktif secara patologis di masa dewasa.

2. Tidak berempati

Berdasarkan temuan-temuan ilmiah orang yang memiliki empati yang rendah berkaitan  dengan psikopati. mereka yang mengalami gangguan ini merasa tidak cemas atau merasa bersalah setelah melakukan sesuatu yang salah atau ilegal. mereka tidak memperlihatkan kecemasan karena mereka tidak memiliki pengendalian secara khusus dalam merespon tindakan mereka. Kegagalan orang dalam berempati secara substansial membiarkan diri mereka pada tujuan yang murni untuk keegoisan diri sendiri (Rijnders dkk., 2021).  

3. Agresif

Agresi merujuk pada perilaku yang bertujuan untuk menyebabkan cedera atau kerugian pada orang lain. Menurut teori agresi akan timbul ketika keadaan lingkungan mengganggu tujuan respon yang diinginkan oleh individu (Kitaeff, 2017). Tidak tercapainya tujuan respon individu menjadi pemicu sikap agresif. Besarnya agresi yang dilakukan tergantung pada seberapa dekat individu dengan tujuannya ketika mereka terhambat.

4. Bersifat tidak jujur dan Pembohong

Sikap tidak jujur atau dishonest merupakan salah satu ciri dari psikopat ringan. Orang yang sering berbohong sangat menikmati kebohongannya namun menjadi bumerang bagi diri mereka. Ketidak jujuran akan merugikan banyak orang dan hilangnya kepercayaan dari orang lain.

Ketika mereka membuat keputusan untuk berperilaku tidak jujur, individu psikopat mengalami konflik respons yang berkurang karena kurangnya perhatian moral tentang perilaku tidak jujur atau ketidakpekaan relatif terhadap dimensi strategis pilihan untuk memberikan pernyataan yang sesuai (Abe dkk., 2018). Akibatnya mereka mengalami defisit parah dalam mengintegrasikan informasi sosio-afektif selama pengambilan keputusan.

5. Impulsif 

Impulsif adalah sebagai ketidakmampuan untuk mengevaluasi stimulus sepenuhnya sebelum merespon (impulsif respon cepat) dan sebagai ketidakmampuan untuk menunda respons meskipun ada hadiah yang lebih besar (Swann dkk., 2009). Impulsif juga merupakan inti dari karakteristik penderita Gangguan Kepribadian Antisosial. 

6. Kurang Kontrol Diri

Sifat ini ditandai dengan ketidakmampuan untuk mengontrol diri karena mereka tidak belajar menunda kepuasaan atau keinginan mereka. Bagi mereka yang tidak belajar menunda keinginannya, mereka tidak mungkin mampu melihat kebutuhan orang lain.

Sehingga perilaku ini akan merugikan orang lain. Para lmuwan percaya bahwa kurangnya kontrol diri adalah elemen kunci dari perilaku dan hal ini disebabkan oleh kegagalan untuk membentuk keterikatan dengan orang tua pada awal perkembangan (Shaw & Bell, 1993).

7. Menjadi Teledor dan Ceroboh

Perilaku ini adalah kesembronoan dengan tidak memperhatikan keselamatan diri sendiri dan orang lain. Orang yang ceroboh sering kali tergesa-gesa dalam membuat keputusan. ini terjadi karena tidak matang secara emosi dan kognitif, sehingga gagal dalam menentukan pilihan yang tepat.

Orang-orang seperti ini tidak mengkondisikan dengan baik dan sering melakukan tingkah laku yang tidak tepat hanya untuk meningkatkan rangsangan neurobiologis yang kurang.

8. Tidak Bertanggungjawab atas Perilaku Mereka

Mereka yang memiliki sifat ini cenderung tidak mempertimbangkan rasa tanggungjawab sebagai bagian dari dampak perilaku. Kepekaan mereka terhadap rasa tanggungjawab akan semakin berkurang ketika hal ini didukung oleh kurangnya rasa empati pada orang lain. Sifat bertanggung jawab seharusnya menjadi elemen penting dalam kehidupan masyarakat, namun bagi psikopat mereka akan cenderung mengabaikan hak orang lain. 

9. Bereaksi Marah dalam Banyak Situasi

Sifat marah merupakan manifestasi respon dari ketidakmampuan diri dalam menyesuaikan dengan norma-norma masyarakat. Mereka sering sekali lebih mudah menafsirkan provokasi atau ancaman dari orang lain sebagai serangan yang tidak beralasan sehingga mereka menjadi lebih mudah marah (Blackburn & Lee-Evans, 1985). 

10. Tidak Ada Rasa Penyeselan dan Cemas

Gangguan ini cenderung lebih bersikap acuh tak acuh dan memiliki beribu alasan (rasionalisasi) terhadap perbuatan mereka yang menyakiti orang lain tidak ada rasa cemas atau menyesal terhadap perbuatan mereka. Kurangnya kepekaan terhadap orang lain membuat individu menjadi tidak mampu membuat respon yang tepat atas perilaku mereka. Namun dalam jenis psikopat sekunder, kemungkinan mereka mengalami kecemasan karena takut ditinggalkan atau ketidakmampuan untuk mentolerir ambiguitas.

Penutup

Gangguan psikopat ringan menjadi istilah populer yang merujuk pada gangguan kepribadian Antisocial. Gangguan ini tanpa kita sadari dapat kita temui dalam kehidupan sehari-hari. Perilaku dari gangguan ini dapat merugikan diri dan orang disekitarnya bahkan dapat terlibat dalam kasus pidana.

Seseorang dikatakan mengalami gangguan psikopat ringan jika prevalensi dan frekuensi perilaku tersebut dilakukan secara terus menerus dan berulang. Untuk mengetahui lebih pasti, perlu dilakukan asesmen psikologi profesional yang ahli dalam penanganan kasus tersebut. 

Reference:

  • Abe, N., Greene, J. D., & Kiehl, K. A. (2018). Reduced engagement of the anterior cingulate cortex in the dishonest decision-making of incarcerated psychopaths. Social Cognitive and Affective Neuroscience, 13(8), 797–807. https://doi.org/10.1093/scan/nsy050
  • Blackburn, R., & Lee-Evans, J. M. (1985). Reactions of primary and secondary psychopaths to anger-evoking situations. British Journal of Clinical Psychology, 24(2), 93–100. https://doi.org/10.1111/j.2044-8260.1985.tb01319.x
  • Kitaeff, J. (2017). Psikologi Forensik. Yogyakarta. Pustaka Pelajar.
  • Rijnders, R. J. P., Terburg, D., Bos, P. A., Kempes, M. M., & van Honk, J. (2021). Unzipping empathy in psychopathy: Empathy and facial affect processing in psychopaths. Neuroscience & Biobehavioral Reviews, 131, 1116–1126. https://doi.org/10.1016/j.neubiorev.2021.10.020
  • Shaw, D. S., & Bell, R. Q. (1993). Developmental theories of parental contributors to antisocial behavior. Journal of Abnormal Child Psychology, 21(5), 493–518. https://doi.org/10.1007/BF00916316
  • Swann, A. C., Lijffijt, M., Lane, S. D., Steinberg, J. L., & Moeller, F. G. (2009). Trait impulsivity and response inhibition in antisocial personality disorder. Journal of Psychiatric Research, 43(12), 1057–1063. https://doi.org/10.1016/j.jpsychires.2009.03.003

Artikel Terkait

Leave a Comment