Image default

Ciri-Ciri Orang Yang Cocok Masuk Jurusan Psikologi

Psikologi adalah ilmu yang mempelajari tentang mind, brain & behavior. Ilmu ini mempelajari tentang manusia dan dapat diaplikasikan ke dalam segala aspek kehidupan. Psikologi tidak akan punah selama masih ada manusia di dunia.

Apakah kamu tertarik mengambil kuliah psikologi? Sebelum memilih kuliah Psikologi kamu perlu taHu ciri orang yang cocok kuliah di Psikologi. Yuk simak penjelasan berikut ini agar kamu tidak salah jurusan.

7 Ciri-Ciri Orang Yang Cocok Masuk Jurusan Psikologi

Ingin menjadi mahasiswa psikologi? Pastikan kamu memenuhi kriteria berikut:

1. Senang berinteraksi dengan orang lain

Psikologi merupakan ilmu tentang manusia, sudah pasti dalam proses pembelajaran akan bertemu dengan banyak orang. Seorang mahasiswa Psikologi wajib mampu berkomunikasi dan menjalin relasi. Kemampuan ini akan digunakan ketika melakukan wawancara, konseling dan lain-lain.

Ada beberapa mata kuliah yang memberikan tugas untuk melakukan wawancara dengan subjek. Wawancara dalam psikologi sangat berbeda dengan wawancara jurnalisitik. Pewawancara harus mampu membuat nyaman subjek agar dapat menggali informasi sebanyak mungkin, mendengarkan dengan sungguh-sungguh dan tidak menghakimi.

Meskipun S1 Psikologi tidak diperkenankan untuk melakukan konseling, namun tetap belajar tentang dasar-dasar konseling. Tak jarang juga, mahasiswa diminta melakukan praktik konseling. Maka, mahasiswa Psikologi harus bisa menjalin relasi agar klien merasa nyaman menceritakan seluruh permasalahannya dan tidak merasa takut.

2. Memiliki kecerdasan emosi

Kecerdasan emosi adalah kemampuan mengenal, memahami dan mengendalikan emosi pribadi dan berempati dengan orang lain. Ketika sedang melakukan wawancara atau konseling terkadang mendengarkan cerita subjek yang menyedihkan, traumatis atau sensitif. Hal ini memicu kita untuk menangis atau kaget, namun sebagai mahasiswa Psikologi harus menunjukkan ekspresi yang netral.

Mendengarkan dengan empati merupakan kemampuan yang harus dimiliki mahasiswa psikologi. Mendengarkan dengan empati artinya memusatkan perhatian, tidak menghakimi dan melakukan parafrase. Kalau kamu belum bisa mendengarkan dengan empati tenang saja, karena semakin banyak jam terbang maka kemampuanmu akan ikut terasah.

3. Senang membaca

Berbeda dengan Ilmu Saintek yang lebih menekankan hitungan, kebanyakan fakultas psikologi masuk pada kategori Ilmu Sosial sehingga dipenuhi dengan bacaan. Bacaan mahasiswa psikologi bersumbe dari buku atau jurnal penelitian.

Saat SMA, mungkin hanya membutuhkan satu buku pada setiap pelajaran namun ketika kuliah mahasiswa dituntut untuk membaca berbagai macam sumber agar memperoleh berbagai perspektif. Di samping itu, mahasiswa Psikologi perlu mengetahui perkembangan Ilmu Psikologi dengan membaca jurnal.

Eits, tapi jangan memilih jurusan Psikologi karena menghindari hitungan ya. Kuliah Psikologi pun belajar hitungan seperti statistika, metode penelitian kuantitatif dan pengukuran alat psikologi. Tetapi tenang saja, hitungan dalam Psikologi tidak serumit hitungan mahasiswa saintek kok.

Jika kamu lebih kuat dengan ilmu hitungan maka kamu akan kesusahan belajar Psikologi, tetapi jika kamu senang membaca maka jurusan ini tepat untuk kamu.

4. Suka Mengamati

Asesmen Psikologi salah satunya yaitu observasi. Ini adalah sebuah metode pengumpulan data yang dilakukan secara sistematis dan sengaja melalui pengamatan dan pencatatan terhadap gejala objek yang diteliti. Observasi dilakukan ketika wawancara, focus group discussion, konseling dan lain-lain.

Sebagai observer maka perlu peka, detail dan bersikap netral. Jangan sampai orang yang diamati merasa terganggu dengan kehadiran observer.

5. Kritis

Teori-teori Psikologi lahir di negara barat sehingga berfokus pada budaya barat yang mana belum tentu sesuai dengan budaya timur. Ada beberapa teori Psikologi yang tidak sesuai dengan budaya masyarakat Indonesia. Sebagai mahasiswa Psikologi yang belajar di Indonesia maka perlu berpikir kritis terhadap teori Psikologi.

Manusia sangat kompleks dan dinamis. Akan selalu ada perubahan pada setiap jaman, sehingga ketika belajar Psikologi harus terbuka dengan hal terkini. Hal ini bisa dilakukan dengan rajin membaca penelitian Psikologi 5 tahun terakhir.

6. Tidak Membeda-bedakan Latar Belakang Seseorang

Dalam Kode Etik Psikologi, seorang Ilmuwan Psikologi harus menerima klien apa pun latar belakangnya. Baik dari segi suku, agama, ras, orientasi seksual, status ekomomi dan lain-lain. Menerima segala latar belakang akan membuat subjek atau klien merasa nyaman  untuk bercerita dan merasa tidak dihakimi.

7. Mampu menjaga rahasia

Mahasiswa Psikologi wajib menjaga kerahasiaan subjek atau klien. Segala bentuk informasi yang diperoleh tidak boleh disebar luaskan. Apabila data tersebut akan digunakan untuk kepentingan akademik perlu meminta izin orang yang terkait dan menyembuyikan data diri subjek. Kamu gak bisa gosipin klien loh. Kalau kamu gak bisa jaga rahasia bagaimana klien akan percaya dan nyaman dengan kamu.

Demikian 7 karakteristik yang perlu dimiliki seorang mahasiswa Psikologi. Kuliah Psikologi termasuk gampang-gampang susah. Banyak mahasiswa yang lulus dengan cepat, namun ada juga yang membutuhkan waktu banyak untuk lulus.

Belajar psikologi sangat menarik apalagi saat ini sudah banyak masyarakat yang sadar kesehatan mental. Jadi, dirimu sebelum mendaftar kuliah Psikologi perlu dipikirkan dengan matang. Jangan sampai memilih Psikologi karena trend, ngikut teman atau cuma iseng- iseng.

Artikel Terkait

2 comments

Eka Febriyanti February 10, 2022 at 12:54 PM

jika menjadi seorang pisikologi tapi tidak mempunyai kepekaan terhadap nasum atau org yang diwawancarai apakah bisa diasah kepekaan tsb?

Reply
Serena March 8, 2022 at 2:29 PM

Bisa.
Karena kepekaan merupakan EQ [(emotionally intelligent)(kepekaan emosional)]
Menurut artikel: https://www.halodoc.com:

-Kecerdasan emosional (EQ) yang dimiliki seseorang bukanlah mutlak bawaan sejak lahir. Ia dapat berubah dan diasah. Seiring bertambahnya usia dan kedewasaan, nilai EQ seseorang biasanya akan semakin meningkat. Namun, alangkah baiknya lagi, jika kecerdasan emosional itu ditingkatkan sejak dini, sejak usia kanak-kanak

Reply

Leave a Comment