Image default

15 Cara Move On Dari Mantan Ala Psikologi

Hei, kamu! Iya, kamu, yang lagi patah hati. Sedang mencari cara move on dari mantan?

Semua orang pasti pernah merasakan pedihnya patah hati kalau pernah berhadapan dengan masalah percintaan atau hubungan romantis. Ketika hal ini terjadi, satu-satunya cara yang perlu kita lakukan adalah menyembuhkan diri dengan cara move on. Tapi jujur, deh, pasti niat move on itu susah banget dilakoni, kan?

Tenang, kamu tidak sendiri. Susah move on itu normal, kok. Terkadang memang sulit rasanya menerima kenyataan ketika orang yang kita sayangi harus mengakhiri hubungannya dengan kita. Namun apabila kita tinjau kembali, banyak sekali cara yang bisa kamu lakukan untuk move on. Maka di artikel kali ini, kami akan menyampaikan tips psikologi cinta berupa 15 cara move on ala psikologi yang kami harap bisa sedikit membantu kamu menyurutkan patah hatimu! Yuk, simak uraian berikut!

cara move on dari mantan

1.    Jangan buru-buru

Move on bukan perkara mudah, apalagi bila hubungan yang pernah kamu jalani adalah hubungan yang penuh dengan kenangan indah. Namun, keputusan kamu untuk move on adalah sesuatu yang bagus bagi dirimu sendiri. Hanya saja, perlu kamu ingat bahwa tidak ada luka hati yang sembuh dengan cepat. Maka dari itu, move on pun butuh proses. Kalau kamu sendiri masih punya rasa sakit di hati, itu wajar, kok. Nikmati saja prosesnya. Jangan terburu-buru.

2.    Lihatlah masa lalu sebagai suatu bentuk perjalanan hidup

Seperti kata tokoh Rafiki dalam film The Lion King, “Masa lalu itu menyakitkan, tapi kamu bisa memilih untuk lari dari masa lalu, atau belajar dari masa lalu.”

Nah, coba pikirkan baik-baik. Masa lalu, serumit apa pun, adalah bagian dari hidup kita. Dan tentunya, tidak ada seorang pun yang hidup di dunia ini dengan mulus, bukan? Tak bisa kita dampik bahwa tantangan dan cobaan selalu menimpa kita, tidak melulu perkara cinta, tetapi juga perkara keuangan, pekerjaan, teman, keluarga, sampai hal-hal lain yang kita anggap sepele. Masalah selalu datang kapan saja dalam hidup. Maka dari itu, lihatlah setiap masalah yang terjadi di masa lalu sebagai bagian dari perjalanan hidup. Dengan demikian, kamu akan sadar bahwa tidak ada yang perlu disesali karena ini semua adalah bagian dari hidupmu.

3.    Jangan terlalu banyak mengkiritik diri sendiri

Beberapa orang yang susah melupakan masa lalu biasanya akan mendengar bisikan-bisikan ini dalam kepalanya:

“Ini semua salahmu.”

“Harusnya kamu melakukan X.”

“Kamu nggak akan dapat pacar sebaik dia lagi.”

“Kenapa kamu bodoh sekali?”

“Kenapa aku nggak tahu dari dulu kalau dia selingkuh?”

Whoa! Stop there! Niatmu adalah melupakan masa lalu, tetapi hal itu takkan berhasil bila kamu masih suka mengkritik dirimu sendiri dan menyalahkan sikapmu atas hal-hal yang sudah terjadi. Biarkanlah yang sudah terjadi itu terjadi. Cara move on terbaik adalah dengan fokuskan dirimu pada pertumbuhan, jangan menyerah pada penyesalan.

4.    Mengenang boleh, tapi harus realistis!

melupakan masa lalu dan move on

Oke, mungkin kamu memang jadi pihak yang salah dalam hubungan ini, tapi hal itu tidak perlu terus menerus kamu pikirkan jika tidak mau menjadi sebuah kenangan buruk yang terus bersarang dalam pikiranmu. Caranya adalah dengan memfokuskan diri kepada hal-hal yang here and now dan bisa kamu kontrol.

Lalu, bagaimana dengan kenangan indah? Dilansir dari PsychAlive, menurut psikolog Dr. Karen Weinstein, sah-sah saja bagi kita untuk mengingat-ingat kejadian indah yang pernah kita alami bersama orang yang kita sayangi, tapi kita harus tetap menggunakan lensa realistis dalam memandangnya. Hal ini dikarenakan bahwa kebanyakan orang yang patah hati dan suka mengenang kejadian bahagia dalam hubungan akan cenderung mengagung-agungkan ide tentang hubungan tersebut.

Maka dari itu, tidak heran mereka yang susah move on juga tidak mampu melihat cacat dalam hubungan yang sudah mereka alami. Jadi, kalau kamu mau bernostalgia ke tempat-tempat yang pernah kamu kunjungi bersama mantan… it’s OK, but be realistic about it. Kamu tidak bisa mengulang kejadian di masa lalu, jadi kamu tetap harus fokus pada pemulihan dirimu saat ini demi melangkah ke masa depan.

5.    Rasakan, jangan ditahan!

Kalau kamu merasa sedih, marah, dan kecewa saat teringat dengan mantan, jangan menyangkal perasaan itu. Malah justru kamu harus membiarkan dirimu sendiri merasakannya. Riset membuktikan bahwa individu yang cenderung suka memendam emosi akan lebih mudah mengalami stres yang akan mengarah pada depresi (Patel & Patel, 2019). Maka dari itu, daripada memendam emosi, gunakan cara move on yang membiarkan emosi mengalir, jangan ditahan. Setiap emosi bersifat seperti gelombang. Ada kalanya naik dan turun. Dengan membiarkan emosi mengalir dengan sendirinya, kamu membiarkan dirimu melepaskannya keluar dari tubuh ketimbang merepresinya.

6.    Cerita pada orang lain

Ketika kamu sudah merasa tidak kuat menahan rasa sakit karena patah hati sendirian, kamu boleh mencari bantuan orang yang kamu percaya dan menceritakan masalahmu kepada orang tersebut. Riset psikologi mengatakan bahwa segala macam bentuk dukungan sosial sangat penting di saat individu menghadapi tekanan batin dan trauma (Gros, dkk., 2016). Selain itu, saat kamu bisa menceritakan masalahmu pada orang lain, kamu akan mendapatkan umpan balik yang bisa mengembalikan dirimu pada kenyataan dan membantumu mendapatkan insight dari masalahmu.

7.    Cari tahu attachment style-mu

Dilansir oleh PsychAlive, sebuah studi melaporkan bahwa ternyata perbedaan seseorang menanggapi patah hati tergantung dari attachment style-nya. Apa itu attachment style? Attachment style adalah suatu cara kamu membangun hubungan dengan orang lain. Attachment style terbentuk dari gaya pengasuhan orang tua dan interaksi dengan anggota keluarga. Dilansir oleh PsychAlive (2020), attachment style terdiri atas empat jenis, yaitu:

  1. Secure attachment. Ini adalah gaya hubungan yang paling sehat karena orang tua selaku caregiver bayi memberikan perhatian penuh. Secure attachment ditandai dengan tingginya empati serta perasaan aman pada anak terhadap orang lain.
  2. Avoidant attachment. Penyebab individu yang memiliki avoidant attachment adalah orang tua yang kurang peka terhadap kebutuhan kasih sayang anak atau justru menyangkal ekspresi emosi anak. Alhasil, anak menjadi tidak tergantung dengan orang tua dan cenderung hidup mandiri, namun jeleknya, anak tidak tahu cara mengekspresikan emosinya dengan baik kepada orang lain dan kurang mampu menyalurkan empatinya.
  3. Anxious attachment. Berbeda dengan avoidant attachment yang secara utuh kurang dalam intimacy, individu dengan anxious attachment cenderung lebih mudah dalam mengekspresikan perasaan kepada orang lain, namun harus membiasakan diri terlebih dahulu. Hal ini disebabkan oleh gaya pengasuhan orang tua yang tidak konsisten, kadang perhatian dan kadang absen.
  4. Disorganized attachment. Individu dengan attachment style ini adalah individu yang selalu merasakan bahaya setiap kali didekati orang lain. Hal ini disebabkan karena trauma yang dialaminya sejak kecil karena perilaku orang tuanya yang abusif.

Nah, inilah mengapa ada hubungan attachment style dengan cara menghadapi patah hati. Seseorang dengan attachment style yang secure akan lebih mudah membangun relasi dengan orang lain yang memudahkannya dalam menceritakan kesedihan yang dihadapinya ketimbang orang dengan avoidant, disorganized, atau anxious attachment style, karena mereka lebih mudah percaya pada orang lain. Namun hal ini bukan berarti orang dengan avoidant, anxious, dan disorganized tidak mudah sembuh. Mereka hanya membutuhkan dorongan dan kepercayaan terhadap orang yang lebih tinggi dibandingkan orang dengan secure attachment.

8.    Percayalah pada dirimu sendiri

Mengembalikan kepercayaan diri dan self esteem sesudah patah hati adalah sesuatu yang sulit. Sebuah riset dari Stanford University (2016) melaporkan bahwa kepercayaan seseorang terhadap diri sendiri mempengaruhi kemampuannya untuk sembuh dari patah hati. Mereka menemukan bahwa individu yang memandang kepribadian sebagai tetap lebih cenderung menyalahkan diri mereka sendiri dan “kepribadian beracun” mereka atas perpisahan itu. Mereka lebih cenderung mempertanyakan dan mengkritik diri mereka sendiri dan merasa lebih putus asa tentang masa depan romantis mereka. Hasil ini bertolak belakang dengan individu yang melihat kepribadian mereka sebagai kesempatan untuk tumbuh, berkembang, dan berubah. Mereka jauh lebih mudah menerima kenyataan dan move on lebih cepat.

Jadi, apabila kamu mungkin merasa tidak yakin bahwa kamu bisa melanjutkan hidup dan layak mendapatkan kasih sayang, ingatlah, bahwa menanamkan kepercayaan diri adalah kunci dari kesuksesan apa pun, begitu pula dengan move on. Hidupmu tidak boleh berhenti sampai di sini. Tanamkan dalam diri bahwa dirimu bisa menghadapi semua ini.

9.    Beri penghargaan pada diri sendiri

Daripada kamu terus terpaku kepada kesedihan, lebih baik sedikit memberi ‘suntikan’ kebahagiaan pada diri sendiri. Dalam teori modifikasi perilaku, kita mengenal adanya sistem pemberian reward untuk mendorong individu melanjutkan perilaku yang dikehendaki. Artinya, self reward adalah memberi penghargaan kepada diri sendiri karena sudah melewati masa-masa kelam. Penelitian Koch (2014) melaporkan bahwa segala usaha memberikan self reward dapat meningkatkan motivasi internal individu. Jadi, sistem ini bisa kamu terapkan untuk dirimu sendiri dengan membiarkan dirimu melakukan kegiatan-kegiatan yang membuatmu bahagia, misalnya berolahraga, membelikan diri es krim, atau liburan ke tempat-tempat yang belum pernah kamu kunjungi bersama teman.

10. Belajar mindfulness

Cara move on dengan mindfulness

Mindfulness adalah suatu teknik terapi yang bisa kamu terapkan untuk membantu kamu menjadi pribadi yang fokus pada hal-hal di masa kini. Sebuah studi oleh Sara Lazar dari Harvard Medical School melaporkan bahwa meditasi dengan teknik mindfulness dapat mempengaruhi wilayah otak yang terkait dengan memori, sense of self, dan pengaturan emosi (Mineo, 2018). Maka dari itu, dengan cara move on menggunakan mindfulness, kamu bisa membuang sejenak rasa penat dan stres yang disebabkan oleh kenangan buruk di masa lalu dan mengalihkan pikiranmu pada hal-hal yang bisa kamu rasakan di masa kini.

11. Cegah dirimu meruminasi

Nah, apabila kamu sudah mencoba bangkit, cerita pada orang lain, dan mengikuti banyak kegiatan baru, tapi kamu masih sering terjebak dengan kenangan-kenangan di masa lalu, berarti kamu masih sering meruminasi. Menyambung poin sebelumnya, salah satu alasan mengapa mindfulness dibutuhkan adalah agar kamu tidak meruminasi. Ingat, fokus pada masa kini, karena masa lalu tidak bisa kamu ubah.

12. Temukan kelompok dukungan

Selain kamu bercerita dengan orang-orang terdekat, kamu juga bisa bergabung dengan kelompok dukungan atau support group. Melalui kelompok dukungan, kamu akan bertemu dengan orang-orang yang memiliki pengalaman serupa dan bisa belajar dari mereka mengenai teknik coping stress yang efektif. Tidak hanya bagi kesehatan mental, tapi mengikuti support group juga baik bagi kesehatan fisikmu. dilansir oleh Winchester Hospital (2020), dukungan emosional yang diperoleh dari partisipan kelompok dukungan dapat membantu mengurangi stres yang dapat berdampak positif bagi kesehatan, antara lain meningkatkan keaktifan dalam treatment.

13. Self care itu wajib!

Pernah ingat pepatah, ‘kenapa mantan yang habis putus jadi tambah ganteng atau cantik?’ Ya, itu karena mereka bisa melakukan self care dengan baik. Tapi ingat, jangan melakukan self care hanya untuk membuat mantanmu menyesal, lho! Lakukanlah karena kamu ingin dirimu sehat dan bahagia.

14. Cari hobi dan pengalaman baru

Seperti yang sudah diuraikan sebelumnya, selain fokus pada masa kini, kamu juga harus fokus pada pengembangan diri dan masa depanmu. Mencari hobi dan pengalaman baru akan membantumu dalam mendapatkan insight mengenai hal-hal yang tidak kamu ketahui sebelumnya. Apalagi kalau kamu masih berusia 20 tahunan, hidup masih membentang jauh di hadapanmu. Yuk, sudah waktunya kamu mengepak barang dan melangkah maju!

15. Tebarkan kebaikan pada sesama

Seorang biksu bernama Ajahn Brahm pernah berkata dalam buku karangannya, Kindfulness, bahwa dengan memberikan kebaikan bagi dunia, maka dunia akan berbuat baik kepada kita. Perkataan ini bukan sebuah kalimat motivasional belaka, karena perbuatan baik ternyata berdampak baik pula bagi kesehatan mental kita. Sebuah studi pencitraan otak yang dipimpin oleh ahli saraf Jordan Grafman dari National Institutes of Health menunjukkan bahwa “pusat kesenangan” di otak sama aktifnya ketika kita mengamati seseorang memberi uang untuk amal, dan reaksi ini sama dengan ketika kita juga menerima uang tersebut dari orang lain (Seppala, 2013). Selain itu, sebuah studi juga melaporkan bahwa melakukan kebaikan bagi orang lain dapat meningkatkan social functioning, yang meliputi kesadaran akan realitas sosial dan meregulasi emosi negatif (Dzwonkowska & Żak-Łykus, 2015).

Nah, dengan demikian berakhirlah diskusi kita tentang tips cara move on ala psikologi yang bisa kamu terapkan pada kehidupan sehari-hari. Ingatlah, apa pun yang terjadi, jangan pernah patah semangat. Move on butuh perjuangan sama besarnya ketika kamu jatuh cinta. Tinggal tanyakan saja pada dirimu sendiri, apakah kamu sudah siap untuk move on?

References

Dzwonkowska, I. & Żak-Łykus, Al. (2015). Self-compassion and social functioning of people – research review. Polish Psychological Bulletin. 46. 10.1515/ppb-2015-0009.

Gros, D. F., Flanagan, J. C., Korte, K. J., Mills, A. C., Brady, K. T., & Back, S. E. (2016). Relations among social support, PTSD symptoms, and substance use in veterans. Psychology of Addictive Behaviors, 30(7), 764–770. https://doi.org/10.1037/adb0000205

Koch, A. K., Nafziger, J., Suvorov, A., & van de Ven, J. (2014). Self-rewards and personal motivation. European Economic Review, 68, 151–167. doi:10.1016/j.euroecorev.2014.03.002

Joyce, C. (2020). How to Move On. Diambil kembali dari PsychAlive: https://www.psychalive.org/how-to-move-on/

Mineo, L. (2018, April 17). With mindfulness, life’s in the moment. Diambil kembali dari The Harvard Gazette: https://news.harvard.edu/gazette/story/2018/04/less-stress-clearer-thoughts-with-mindfulness-meditation/

Patel, J., & Patel, P. (2019). Consequences of Repression of Emotion: Physical Health, Mental Health and General Well Being. International Journal of Psychotherapy Practice and Research, 1(3), 16-21. doi:10.14302/issn.2574-612X.ijpr-18-2564 V

PsychAlive. (2020). What is Your Attachment Style? Diambil kembali dari PsychAlive: https://www.psychalive.org/what-is-your-attachment-style/

Seppala, E. (2013, April 30). The Compassionate Mind. Diambil kembali dari Association for Psychological Science: https://www.psychologicalscience.org/observer/the-compassionate-mind

Stanford University. (2016, Januari 7). Stanford research explains why some people have more difficulty recovering from romantic breakups. Diambil kembali dari Stanford News: https://news.stanford.edu/2016/01/07/self-definition-breakups-010716/

Artikel Terkait

8 comments

Ara Januari 28, 2021 at 11:28 PM

Sedih banget dia bikin story ngucapin ulang tahun buat cwe lain

Reply
Tasia Januari 30, 2021 at 11:43 PM

Kaak, aku juga pernah gitu, sedih banget sih 🙁

Yuk Kaak semangat kita bisa yuuk :”)

Reply
Ara Januari 28, 2021 at 11:29 PM

Tpi aku bukan sipa siap di lgi

Reply
Stefany Februari 8, 2021 at 7:23 AM

Kalau aku biar bisa move on dari mantan ya harus bisa berdamai sama masa lalu,ihklas,dan setiap kalo putus selalu bilang pada diri sendiri “berarti itu bukan yang terbaik dan bukan jodoh kamu. Gapapa kamu dijauhkan dari dia, emang kamu mau jagain jodoh orang” walau awal awalnya berat sih tp cukup membantu.

Reply
Benkcharlie Februari 9, 2021 at 12:23 AM

Gotong royong yuk,biar bs move o

Reply
Nana Februari 8, 2021 at 8:20 AM

Intinya aku dah bodoamat sama dia

Reply
Lia Februari 9, 2021 at 1:05 AM

Mungkin memang tidak mudah Damai dengan hati,tpi tidk mngkn juga berlarut² dalam hal ini..
But,aku harus melakukan nya
Lupakan

Reply
Novia Segara Bahari Februari 10, 2021 at 3:49 AM

Semangat yuk! Kita bisa kok:)

Reply

Leave a Comment