Image default

Cara Minta Maaf yang Benar Menurut Psikologi

Pernahkah kamu berkonflik dengan orang lain, yang menyebabkan kamu berada di titik di mana banyak hard feelings yang muncul di antara kalian? Tentunya, hal itu sangatlah kurang menyenangkan untuk dijalani, bukan?

Segala konflik yang dimulai antara dua belah pihak akan berdampak kepada interaksi sosial kita dengan orang lain. Maka dari itu, meminta maaf adalah salah satu praktik yang penting dilakukan, apalagi jika di antara kita dan orang lain terus menerus membuat yang bersangkutan jengkel karena sikap kita.

Namun jika kalian harus minta maaf, apakah kalian sudi melakukannya terlebih dahulu? Jika kalian bukan tipe orang yang mudah minta maaf, sebaiknya kalian baca artikel ini, deh!

Pastinya, minta maaf itu tidak semudah perkiraannya. Proses meminta maaf itu bukan hanya harus siap mengakui kesalahan yang pernah kita lakukan, namun juga menghadapi konsekuensi yang muncul saat permintaan maaf itu dilontarkan dari mulut kita. Terlebih sebagai manusia, ada baiknya kita memikirkan banyak hal sebelum kita memutuskan untuk minta maaf.

Nah, jadi bagaimana sih cara minta maaf yang benar? Daripada bingung, mari simak uraian berikut ini, yuk!

Mengapa Minta Maaf Itu Penting?

Jawabannya jelas. Meminta maaf adalah sebuah cara untuk mengakui kesalahan yang kita lakukan. Selain membuat lega, meminta maaf juga dapat meredakan konflik yang berkepanjangan antara kedua belah pihak yang berselisih serta mempercepat proses rekonsiliasi.

Tujuan utama rekonsiliasi adalah memperbaiki hubungan, sehingga melibatkan proses interpersonal antara kedua pihak yang berselisih. Jadi, kita tidak bisa menjamin orang yang berkonflik dengan kita mau melakukan rekonsiliasi apabila mereka masih menyimpan dendam dan belum sepenuhnya memaafkan kita. Contohnya, konflik dalam organisasi bisa berlarut-larut tanpa adanya permintaan maaf.

Menurut Thompson, et. al. (2005), minta maaf adalah bagian dari pengampunan, yaitu pembebasan dari keterikatan negatif terhadap perilaku atau ketentuan yang telah dilanggar terhadap seseorang. Maksudnya, jika kamu meminta maaf pada orang lain dan orang itu memaafkanmu, berarti mereka sudah melepaskan perasaan buruk terhadap sebagian atau seluruh kesalahan yang kamu lakukan. 

Selain itu, jika kamu meminta maaf, kamu telah membantu orang lain mendapatkan well being secara psikologis, lho! Hal ini dikonfirmasi temuan penelitian Tabak & McCullough (2011) mengungkapkan bahwa ketika seseorang menganggap kamu meminta maaf dengan sungguh-sungguh, tingkat kortisol yang diakibatkan stres dapat menurun.

Akibat Tidak Minta Maaf dengan Benar

Coba kita pikirkan bersama. Meminta maaf itu berarti mengembalikan kepercayaan orang kepadamu. Jika kamu nggak meminta maaf dengan benar, orang akan meragukan kepercayaannya padamu. Alhasil, hubunganmu dengan orang lain pun akan terdampak.

Hubungan yang sehat itu penting banget, apalagi kalau kamu sudah menginjak usia dewasa. Sebab, masa dewasa adalah masa di mana kamu akan mendambakan pengakuan dan kasih sayang dari orang lain, entah dari pertemanan atau hubungan romantis. Jadi, pastikan kamu menjaga hubungan baik dengan orang lain melalui permintaan maaf yang tulus!

Tips Minta Maaf yang Baik

Oke, sekarang kita sudah mengetahui keutamaannya meminta maaf pada orang lain. Namun tetap saja, memulai untuk meminta maaf itu cukup sulit. Apalagi kalau kita habis berantem sama orang, dan kita tahu bahwa orang lain juga melakukan kesalahan yang membuat kita naik pitam.

Meskipun demikian, tidak ada salahnya mencoba meminta maaf terlebih dahulu untuk mendapatkan kepercayaan orang lain. Lebih jauh lagi, cobalah menerapkan langkah-langkah berikut ini saat kamu mau meminta maaf:

1. Bulatkan Tekad dan Niat

Langkah pertama, kamu harus mengumpulkan keberanian dan tekad. Ini sangat penting, karena kemauan untuk meminta maaf didasari oleh ketulusan. Jika kamu masih belum siap, permintaan maaf yang kamu utarakan akan tampak dibuat-buat. Gunakanlah waktu untuk merenungkan apa saja yang mau kamu utarakan kepada pihak kedua. Kalau perlu, mintalah saran dari orang-orang yang kamu percaya untuk membantumu

2. Jangan Bertele-tele

Orang akan menganggap kamu sungguh-sungguh apabila kamu menyatakan permintaan maafmu dengan lugas. Mulailah dengan membahas apa saja yang sudah kamu perbuat sehingga kamu harus meminta maaf. Jika perlu, kamu bisa menyusun perkataan dengan sebuah list dan hafalkan list tersebut ketika berhadapan dengan pihak kedua.

3. Beri Waktu pada Pihak Kedua untuk Memproses

Ketika kamu berniat meminta maaf, pastikan kamu sudah benar-benar memikirkan konsekuensi apa yang akan kamu terima. Jika kamu sudah melakukannya, tapi belum direspon oleh pihak kedua, jangan buru-buru mengambil hati tindakan yang bersangkutan.

Bisa jadi pihak kedua sedang sibuk, atau mungkin belum siap membuka hati padamu. Tidak apa-apa, kok. Setiap orang punya proses memaafkan yang berbeda-beda. Bila menunggu respon pihak kedua terkesan terlalu lama, sebaiknya kamu move on dan tidak mengusik mereka lagi.

4. Jangan Mengulangi Kesalahan yang Sama

Yang terakhir dan terpenting, cobalah menghindari kesalahan yang sama. Sekali lagi, tidak mudah bagi kita memperbaiki diri dengan cepat. Namun, jika kamu sudah minta maaf, ada baiknya kamu berkomitmen untuk mengubah sikap dan perilaku. Jika tidak, maka pihak kedua akan kehilangan trust atau kepercayaan padamu.

Referensi:

  • Tabak, B. A., McCullough, M. E. (2011). Perceived transgressor agreeableness decreases cortisol response and increases forgiveness following recent interpersonal transgressions, 87(3), 0–392. doi:10.1016/j.biopsycho.2011.05.001
  • Thompson, L.Y., Snyder, C.R., Homan, L.,  Michael, S.T., Rasmussen, H.N., et. al. (2005). Dispositional forgiveness of self,  others,  and situations. Journal of Personality,  73, 313-360. 

Artikel Terkait

Leave a Comment