Apa Itu Lay Off?

Lay off adalah istilah lain dari Pemutusan Hubungan Kerja atau PHK. Pada akhir Mei hingga Juni 2022, peristiwa lay off yang dilakukan startup di Indonesia menjadi perbincangan. Namun sebetulnya, fenomena lay off bukanlah sesuatu yang asing atau istimewa untuk dibicarakan. Perusahaan-perusahaan tertentu bisa mengalami lay off kapan saja, namun kondisi ini diperparah pada tahun 2020, ketika pandemi menyerang. Yang paling kena dampaknya adalah perusahaan startup.

Mengapa bisa demikian? Startup yang mengalami lay off bisa dibilang belum memiliki model bisnis yang kuat, kurang planning, dan kurang mampu mengatasi permasalahan secara internal. Selain itu, beberapa startup juga masih bergantung kepada investor, sehingga begitu investor menarik modal mereka dari startup, mereka jadi kewalahan. 

Startup dan Fenomena Lay Off

Dilansir oleh Tempo, education technology startup Zenius baru saja melakukan lay off kepada 200 karyawannya bulan Mei 2022 lalu. Sempat ada isu bahwa lay off merupakan pertanda buruk bagi perekonomian kita dan munculnya bubble burst. 

Apa itu bubble burst? Gampangnya, bubble burst terjadi karena lonjakan harga aset yang tinggi, diikuti oleh penurunan nilai riil yang cepat. Contoh salah satu bubble burst yang terkenal dalam sejarah adalah fenomena tulip mania yang menyebabkan naiknya harga bunga tulip Belanda pada pertengahan 1600-an. Waktu itu, umbi tulip dibeli dengan harapan bisa dijual lagi supaya untung berganda. Padahal, harga umbi tulip termasuk mahal. Sampai suatu ketika, harganya jadi menurun drastis yang menyebabkan para investor tulip pun rugi besar.

Bubble burst diduga menjadi penyebab startup melakukan lay off besar-besaran. Khususnya, karena para investor menarik kembali dana yang disuntikkan ke perusahaan-perusahaan startup tertentu untuk mencegah kerugian.

Namun, menurut ketua Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia, Rudiantara, munculnya lay off di startup bukanlah pertanda munculnya bubble burst seperti yang diisukan belakangan ini, karena 10% startup secara alamiah pasti mengalami kegagalan finansial pada tahun pertama, sementara 90% startup runtuh pada periode lima tahun.

Selain itu, tidak hanya startup saja yang bisa mengalami lay off, tetapi perusahaan yang sudah lama berkembang seperti LINE pun juga melakukan lay off besar-besaran pada karyawannya.

Lay off yang dialami startup tak hanya berpengaruh kepada kelangsungan bisnis, tetapi juga kepada karyawan yang berada di dalamnya. Pemutusan hubungan kerja pada karyawan bisa menyebabkan berbagai macam masalah bagi karyawan yang kena lay off. Selain masalah ekonomi, masalah psikologis juga bisa terjadi, antara lain kecemasan, depresi, stres, insecurity, dan lain-lain.

Tips Menguatkan Mental Setelah Lay Off

Lepas dari perusahaan jenis apa pun, Kegagalan finansial merupakan salah satu force majeure dalam organisasi. Meskipun startup bisa menghindarinya, hal tersebut bukanlah sesuatu yang bisa diprediksi oleh karyawannya. Bagaimanapun juga, kita harus bisa menguatkan mental saat hal itu terjadi.

Lalu, bagaimana caranya menghadapi lay off sebagai karyawan?

1. Bersikap Tenang

Dilansir dari Fast Company, peristiwa mengejutkan seperti lay off pastinya akan membuat kita shock dan terbebani secara mental. Kita menjadi kehilangan arah, tidak tahu harus melakukan apa. Untuk itu, hal pertama yang harus kita lakukan adalah bersikap tenang. Jangan panik. Justru jika kamu panik, kamu akan semakin terkungkung dalam pemikiran negatif.

Beberapa cara untuk mengurangi serangan panik adalah belajar meregulasi pernafasan. Dilansir oleh Healthline, meregulasi pernafasan dapat mengurangi kecemasan, menurunkan detak jantung, dan membantu kita untuk lebih rileks. Jika kamu masih merasa cemas meski paniknya sudah berkurang, sebaiknya kamu menghubungi konselor atau psikolog untuk membantumu mengatasi masalah kecemasan.

2. Kenali Emosi yang Kamu Rasakan

Mengalami lay off dapat memicu pemikiran dan perasaan negatif yang berlarut-larut. Biasanya, karyawan yang mengalami lay off akan  Maka dari itu, jika kamu punya waktu luang, cobalah untuk mencurahkan perasaan melalui journaling. Usut punya usut, mengenali emosi melalui journaling merupakan cara yang efektif dalam mengurangi stres dan kecemasan.

Ketika kamu menuangkan pikiran dan emosimu melalui journaling, kamu akan terbantu dalam memproses segala hal yang melintas dalam benakmu, termasuk hal-hal yang berkaitan dengan peristiwa lay off. Kamu tidak harus menulis journal setiap hari, namun cukup kamu lakukan ketika kamu merasa ingin menumpahkan segala isi pikiranmu agar terasa lega. 

3. Cari Kegiatan yang Bermanfaat

Menghadapi lay off memang tidak semudah yang dipikirkan. Apalagi, jika dalam keadaan lay off, kamu belum memiliki pekerjaan baru dan perekonomian kita jadi ikut terdampak. Maka dari itu, salah satu cara mengurangi stres dan meningkatkan kesehatan mental adalah mencari kegiatan yang bermanfaat, misalnya mengikuti training, webinar, coaching, atau bootcamp untuk meng-upgrade kemampuanmu.

Di zaman sekarang, kamu bisa mengikuti berbagai macam webinar dan training secara online melalui website seperti MySkill, Masterclass, Coursera, dan Udemy. Tak hanya mendapatkan ilmu, kamu juga bisa mendapatkan sertifikat pelatihan yang bisa kamu sertakan di Linkedin sebagai bukti yang valid bahwa kamu pernah mengikuti pelatihan.

4. Tetap Terkoneksi dengan Rekan Kerja Lama 

Ketika mengalami lay off, ada kalanya kita terlalu fokus pada keadaan kita sampai lupa bahwa siapa tahu, mantan rekan kerja kita juga mengalami keterpurukan yang sama. Maka dari itu, stay in touch dengan rekan kerja tak hanya membantu mempererat kembali hubungan lama dan membangun support system, namun juga sekaligus memperluas koneksi profesional.

Selain itu, siapa tahu bahwa mantan rekan kerja kamu bisa membuka kesempatan bagi kamu untuk menjalani karir yang baru. Cara terbaik tetap terkoneksi dengan mantan rekan kerja adalah melalui media sosial, antara lain Facebook, Instagram, atau Linkedin.

Yang lebih menarik, di Linkedin sekarang ada fitur recommendation yang memungkinkan kamu mendapatkan rekomendasi profesional dari mantan rekan kerja atau mantan supervisor kamu di pekerjaan lama. Makanya, jangan lupa meng-update profil Linkedin kamu mulai sekarang, ya!

Penutup

Bekerja adalah cara kita bertahan hidup dan mencari penghidupan. Namun, di saat suatu hal yang tak terduga terjadi, kita harus selalu siap menghadapinya. Untuk Teman-teman, baik yang mengalami lay off atau belum mendapatkan pekerjaan, tetap semangat dan pantag menyerah, OK? Yakinlah bahwa suatu saat nanti, kerja keras kalian suatu saat akan membuahkan hasil.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *