Semua orang tentunya pernah mengalami kecewa bahkan sakit hati terhadap seseorang. Putus cinta biasanya menjadi salah satu alasan yang memicu perasaan-perasaan itu. Baik laki-laki maupun perempuan, semua orang bisa mengalami sakit hati dan kecewa akibat putus cinta dengan intensitas yang berbeda-beda. Tapi mengapa ya, cinta bisa amat berbekas di hati seseorang, dan sering kali sakit hati akibat putus cinta sulit sekali untuk disembuhkan? 

Ternyata, jatuh dan putus cinta diproses dengan mekanisme yang sama di otak kita layaknya seseorang yang mengonsumsi dan baru berhenti mengonsumsi narkoba. Kedua hal ini, cinta dan narkoba, memiliki efek yang hampir sama di tubuh kita. 

Cinta Itu Seperti Narkoba

Ketika sedang jatuh cinta, tubuh memproduksi hormon dopamin yang mengaktifkan satu bagian yang terasosiasi dengan reward system, memberikan efek positif yang membuat kita terus menerus menginginkan hal itu lagi. Efek ini juga terjadi saat kita mengonsumsi kokain dan nikotin, lambat laun membuat kita candu dengan zat itu. 

Sebaliknya, otak kita memproses patah hati sama dengan saat seseorang baru berhenti mengonsumsi obat-obatan terlarang. Studi fMRI menemukan bagian otak yang sama teraktivasi pada seseorang yang sedang patah hati dan yang sedang melakukan rehabilitasi dari obat-obatan terlarang.

Jadi, jika jatuh cinta adalah candu, putus cinta adalah proses rehabilitasi dari candu tersebut, atau yang umumnya disebut withdrawal. Dalam kasus ini, merehabilitasi diri dari seseorang atau hubungan tertentu. 

Lantas, apa saja yang bisa dilakukan untuk merehabilitasi diri dari patah hati dan kecewa setelah putus cinta? Simak beberapa tips dibwaah ini, yuk!

4 Cara Menghilangkan Sakit Hati dan Kecewa akibat Putus Cinta

Berikut cara menghilangkan perasaan sakit hati dan kecewa:

1. Terima rasa sakit yang sedang kamu rasakan 

Patah hati dapat memicu reaksi fisik dan emosi yang membuatmu merasa kesepian, tidak dicintai, tidak berharga, dan depresi. Siapa sih yang mau merasakan perasaan tidak mengenakan ini? Sebagai seorang manusia, segala cara pasti ditempuh untuk jauh dari perasaan ini demi mendapatkan rasa bahagia. 

Memilih untuk tidak merasakan rasa sakit itu dengan cara mendistraksi diri melalui konsumsi alkohol rutin, pelarian ke makanan, gila kerja, atau hal-hal lainnya mungkin memang akan membantumu dalam jangka pendek, namun sayangnya tidak dalam jangka panjang. 

Masalah hati yang belum diselesaikan secara tuntas pasti akan meluap lagi dalam situasi-situasi tertentu, seperti saat kamu mencari atau menjalin hubungan yang baru. Selain itu, besar juga kemungkinan untuk mengalami gangguan depresi, kecemasan, self-esteem yang rendah, pikiran-pikiran obsesif, dan ketidakmampuan untuk move on

Hal terbijak yang dapat kamu lakukan adalah untuk mengizinkan diri bersedih. Melalui proses patah hati tidaklah mudah, dan sebesar maupun sekecil apa rasa sakit yang dirasakan, semua perasaan itu wajar dan valid. Jangan sampai termakan pandangan umum yang sering kali meremehkan duka seseorang yang sedang patah hati. 

2. Remove the drug: Putus komunikasi dengan mantan, hindari stalking, dan hal-hal semacamnya

Mengapa langsung berteman kemabli setelah putus malah menjadi kontraproduktif dan akan memperlama proses penyembuhanmu? 

Seperti halnya seorang pecandu narkoba yang mencoba segala macam cara untuk mendapatkan dosis yang ia butuhkan, saat kamu mencoba melepas keterikatanmu dari seseorang dan suatu hubungan yang telah usai, tidak jarang perilaku stalking, terus-terusan menghubungi mantan, mengajak balikan, atau perilaku-perilaku tidak masuk akal lainnya yang sebelumnya tidak pernah terpikirkan muncul. 

Perilaku-perilaku tersebut merupakan efek samping dari ‘rehabilitasi’ atau withdrawal yang sedang dilakukan. Melanjutkan berteman segera setelah putus akan memperbesar kemungkinan terjadinya efek samping tersebut, karena seseorang yang diibaratkan sebagai ‘narkoba’ masih ada dalam jangkauanmu.

Semakin sering perilaku itu dilakukan, semakin candu kamu akan cinta yang sebetulnya telah hilang dan semakin parah sakit hati yang dirasakan. Hal ini malah akan menghambat penyembuhanmu. 

Walaupun begitu, berteman kembali setelah putus tentu saja mungkin, jika kamu dan mantan pasanganmu sudah benar-benar merelakan hubungan kalian yang telah usai.  

3. Kurangi mengidealisasi mantan pacarmu

Terkadang, saat kehilangan sesuatu atau seseorang yang penting dalam hidup kita, ada kecenderungan untuk meromantisasi atau mengidealisasi sesuatu yang hilang itu, yakni seseorang atau hubungan yang telah berakhir. Kita cenderung hanya mengingat-ingat hal-hal baik dan melupakan banyaknya alasan yang membuat hubungan tersebut tidak dapat dilanjutkan lagi. 

Contohnya, kamu mungkin secara obsesif mengulang-ulang terus momen bahagia dan bergairah dalam hubungan itu seraya melupakan bagaimana seseorang dalam hubungan itu telah berkali-kali mengecewakanmu. Nostalgia momen tersebut tidak akan membantumu bisa bahagia tanpa pacar.

Dalam situasi seperti ini, penting untuk melakukan penilaian yang lebih objektif terhadap hubunganmu. Salah satu cara adalah dengan meminta bantuan teman-teman atau seorang terapis. Mintalah mereka untuk mengingatkanmu seribu alasan mengapa hubunganmu memang sudah seharusnya berakhir dan tidak akan berjalan baik jika terus dilanjutkan. Kamu juga dapat melakukan reality check ini sendiri, dengan cara menuliskan 3-20 kualitas buruk dari hubungan itu ataupun mantan pasangan yang membuatmu terus-terusan bersedih. 

Hal ini bukan untuk menjelek-jelekkan sepihak. Namun, dengan mengingatkan dirimu akan hal negatif yang terjadi dalam hubungan tersebut, kamu menyeimbangkan persepsi dan mencegah pemikiran bahwa kamu tidak akan lagi menemukan seseorang atau hubungan yang baik ke depannya. 

4. Kenali kamu ada di tahapan putus cinta yang mana

Masih ingat kah kamu artikel Kampus Psikologi yang pernah membahas 5 tahapan kesedihan yang dilalui seseorang setelah putus cinta? Dengan mengetahui tahapan yang sedang kamu lalui, entah itu di tahap Penyangkalan, Amarah, Tawar Menawar, Depresi, atau Penerimaan, kamu dapat lebih menghargai proses yang tengah kamu lalui sehingga tidak menjadi terlalu keras pada diri sendiri. Selain itu, langkah yang kamu ambil untuk memulihkan sakit hatimu akan lebih tepat dan bijak, tergantung ada di dalam fase apa kamu saat ini. 

Contohnya, jika kamu mengetahui bahwa kamu masih ada di tahap Penyangkalan, kamu akan lebih berbaik hati pada diri sendiri dengan tidak buru-buru memaksakan atau menghakimi diri karena belum bisa menerima hubungan yang telah berakhir. Selain itu, kamu juga tidak akan buru-buru mencari pasangan baru karena sadar akan fakta bahwa dirimu belum benar-benar merelakan hubungan itu sepenuhnya.

Saat sedang melalui tahapan-tahapan kesedihan tersebut, tetaplah penasaran dengan pikiran, perasaan, sensasi tubuh, dan perilakumu. Luangkanlah waktu untuk menyadari apa yang sedang kamu alami, dan cobalah untuk membiarkan semua itu terjadi apa adanya, tanpa berusaha mengendalikan atau mengubahnya. 

Ketika kamu sadar sedang menghakimi pikiran atau perasaan sendiri, cobalah untuk berbelah kasih dan berbaik hati pada diri sendiri. Biarkan pikiran dan perasaan itu mengalir sesuka hati tanpa menghakiminya. Pahami dan terima bahwa berduka atas suatu kehilangan memang akan memakan waktu. 

Remember, let yourself heal within your pace. 

Referensi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *