trust atau kepercayaan

Are You Ready to Trust Again? Cara Membangun Kembali Trust

Pernah dikhianati seseorang? Pernah merasa dibohongi? Pernah disakiti? Ya, semua itu pasti pernah dialami semua orang, tak terkecuali penulis. Pengalaman-pengalaman kurang menyenangkan itu tidak hanya membuatmu kecewa, tetapi berdampak pada kurangnya mampu mempercayai orang lain.

Kepercayaan pada orang lain sering diistilahkan dengan trust. Lalu, bagaimana kalau kita sudah kehilangan trust? Apakah tak ada jalan untuk mengembalikannya?

Trust dalam Psikologi Perkembangan

Dalam perspektif psikologi perkembangan, trust memiliki peran penting dalam perkembangan hubungan sosial manusia. Teori yang paling dekat dengan konsep trust adalah teori Erik Erikson tentang perkembangan manusia, yaitu trust vs mistrust. Dilansir oleh Santrock (2012), Erikson berpendapat bahwa trust harus dimulai sejak dini, yakni melalui hubungan anak dengan orang tua atau caregiver.

Trust harus dikembangkan melalui perilaku yang konsisten dan reliabel dari caregiver. Ketika anak gagal membentuk trust dengan caregiver, hasilnya anak tidak akan mampu mengembangkan kecerdasan emosionalnya secara aman dengan orang lain, yang akan mengarah pada tipe attachment yang kurang secure. Nah, ketika attachment yang kurang secure terbentuk, hasilnya anak akan mudah merasa terancam dengan lingkungan sekelilingnya.

Mengapa Trust itu Penting?

Seperti yang dikatakan Erikson, trust dapat dikembangkan melalui hubungan yang sehat, memberikan rasa aman, dan terprediksi secara terus menerus.

Sedangkan Paul Thagard dari Psychology Today menyatakan bahwa trust juga berkaitan dengan proses neural yang kompleks, berhubungan dengan emosi. Dengan demikian, ketika kita memiliki trust terhadap orang lain, kita akan cenderung memprediksi bagaimana orang tersebut berperilaku, tanpa memikirkan kemungkinan dari perilaku lainnya yang di luar dugaan.

Nah, dalam hubungan sosial, trust penting karena trust menjelaskan sejauh mana orang membiarkan diri mereka berkomitmen dan ditanamkan dalam suatu hubungan. Dalam konteks hubungan romantis, trust kepada pasangan adalah yang menjaga agar hubungan tetap kuat. Suatu trust yang autentik melibatkan suasana hati dan emosi, mempercayai diri kita sendiri dan penilaian kita sendiri, mempercayai orang lain dan kemampuan untuk memaafkan.

Langkah-langkah Membangun Kembali Trust

Pertama-tama, penulis akan menggarisbawahi bahwa membangun trust tidaklah mudah, apalagi bila kamu sudah berkali-kali tersakiti karena trust. Namun, apabila kamu tidak punya trust lagi, kamu tidak bisa hidup dengan damai. Kamu akan dipenuhi rasa curiga dan dendam.

Tidak enak, bukan? Nah, berikut ini adalah langkah-langkah membangun kembali trust yang dikutip dari website Jordan Gray Consulting:

1. Renungkanlah

Ketika kamu merasa kurang yakin mempercayai orang lain, coba lihatlah pada dirimu sendiri. Apakah kamu pernah merasa kurang percaya pada dirimu sendiri?

2. Terimalah dirimu sendiri

Menyambung nomor 1 tadi, coba tanyakanlah, kalau kamu saja tidak bisa menerima dan mencintai diri sendiri, bagaimana kamu bisa menerima orang lain?

3. Jadilah orang yang bisa dipercaya

Selanjutnya, apabila kamu sudah merasa yakin dan mempercayai dirimu sendiri, kamu harus ingat bahwa sesungguhnya tidak ada orang di dunia ini yang sempurna. Jadi, secara logika, bukan hanya kamu saja yang sukar mempercayai orang lain. Bisa jadi orang lain pun demikian. Nah, satu-satunya jalan adalah membuat dirimu menjadi salah satunya.

4. Tetap konsisten

Kalau sudah jadi orang yang bisa dipercaya, langkah selanjutnya adalah tetap konsisten dan menetapkan prioritas. Kalau kamu diberi amanah oleh orang lain, berpegang teguhlah pada amanah itu. Kalau kamu diberi tanggung jawab dalam pekerjaan, misalnya, maka laksanakanlah tanggung jawab itu, baru laksanakan hal lain yang kurang penting.

5. Terbukalah pada dunia

Menjadi orang yang bisa dipercaya dan konsisten akan membuat orang lain bahagia saat berhubungan denganmu. Kalau kamu sudah mendapatkan kepercayaan mereka, bukalah hatimu. Siapa tahu kamu mendapatkan pengalaman baru dari mereka.

Di akhir kata, penulis ingin berpesan bahwa apabila kamu yakin, tidak selamanya pengalaman buruk akan terulang. Membangun trust kembali memang tidak semudah membalikkan telapak tangan. Namun, seperti kata orang-orang bijak, “Di saat tidak ada orang baik di dunia ini, jadilah salah satunya.” Trust tidak bisa serta merta ditemukan, tetapi diciptakan melalui usaha dan sikap terbuka.

So, are you ready to trust again? Atau sebaliknya, are you ready to make people trust you?

References:

Gray, J. (2018, April 21). How I Learn to Trust People Again. Dipetik dari Jordan Gray Consulting: https://www.jordangrayconsulting.com/how-to-trust-people-again/.

McLeod, S. (2018). Erik Erikson’s Stages of Psychosocial Development. Dipetik dari Simply Psychology: https://www.simplypsychology.org/Erik-Erikson.html

Santrock, J. (2012). A Topical Approach to Life-Span Development. New York: McGraw-Hill.

Thagard, P. (2018, Oktober 9) What is Trust? Dipetik dari Psychology Today: https://www.psychologytoday.com/us/blog/hot-thought/201810/what-is-trust.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *