Image default

Bosan Bekerja? Slow Living Aja!

Tahukah kalian film Winnie-the-Pooh? Winnie-the-Pooh awalnya adalah cerita anak-anak yang ditulis oleh A. A. Milne untuk buah hatinya, Christopher Robin. Makanya, tak heran jika kisah-kisah Winnie-the-Pooh kaya akan pelajaran moral.

Namun siapa sangka, meskipun ditujukan untuk anak-anak, Winnie-the-Pooh merupakan representasi post-traumatic stress yang dialami Milne sepulang dari peperangan (Shea, et. al., 2000).

Karena PTSD itulah, Milne memutuskan berlibur di pedesaan selama beberapa waktu dan berjalan-jalan di hutan untuk memulihkan diri. Saat berlibur itulah ia banyak menulis, dan akhirnya membuahkan Winnie-the-Pooh. Sejumlah kritik literatur menganggap bahwa melalui Winnie-the-Pooh, Milne mengajarkan pada pembacanya bahwa kekerasan itu takkan menyelesaikan masalah.

Ia juga mengajak pembacanya untuk menyelami cara-cara menikmati hidup, layaknya boneka beruang Pooh yang tak melakukan apa pun sehari-harinya selain makan madu dan mengunjungi sahabat-sahabatnya di Hundred Acre Woods. Pendeknya, Milne secara tak langsung mempopulerkan slow living lewat Winnie-the-Pooh. Salah satunya, lewat Winnie-the-Pooh, Milne mengungkapkan: 

Do not underestimate the value of doing nothing, of just going along, listening to all the things you can’t hear, and not bothering.”

Maksud kutipan ini adalah jangan menyepelekan hidup tidak melakukan apa-apa. Karena dengan tidak melakukan apa-apa, kita tidak repot-repot mengganggu atau mengusik orang lain.

Nah, sekarang, mari kita kembali ke masa kini. Kita hidup di zaman semua serba instan dan cepat. Media sosial memungkinkan kita mengetahui kabar dari orang-orang di berbagai belahan dunia, bahkan gosip-gosip tetangga terkucilkan sekalipun. Maka dari itu, gerakan hidup lambat alias slow living mulai banyak dipraktekkan, khususnya oleh generasi milenial.

Tren Slow Living di Zaman Modern

Dilansir oleh CNBC, sejak pandemi COVID-19 merebak, hampir separuh dari karyawan di Amerika Serikat menderita stres dan kecemasan disebabkan oleh tuntutan pekerjaan yang meningkat. Selain itu, 62% pekerja juga melaporkan mengalami keengganan untuk mengajukan cuti karena takut bahwa mereka tidak bisa memenuhi target.

Bagaimana dengan Indonesia? The Jakarta Post melaporkan bahwa berdasarkan survei tahun 2018, di antara 23 negara, Indonesia merupakan salah satu negara dengan tingkat stres kerja yang rendah. Namun, hal itu bukan berarti bahwa Indonesia bisa mempertahankan predikat tersebut.

Menurut Michael Finkelstein dari Huffington Post, esensi dari slow living bukan hanya soal melakukan sesuatu dengan cara tradisional dan ‘lambat,’ melainkan juga tentang menyesuaikan kecepatan aktivitas dengan tujuan yang ingin kita capai, dan tidak tergesa-gesa dalam mengambil keputusan.

Slow living juga sering diasosiasikan dengan cottagecore, sebuah aesthetic yang ditandai dengan tren hidup di pedesaan, dekat dengan alam, dan melakukan pekerjaan dengan cara tradisional. Segala aktivitas ini tak jarang didokumentasikan dengan fotografi atau sinematografi yang menarik oleh para influencer. Di Youtube, kalian bisa menemukan video-video bertema cottagecore dan slow living yang diunggah para Youtuber seperti The Cottage Fairy, Liziqi, dan Apronful of Stones mendapatkan view hingga jutaan.

Warganet menyebut tren slow living sebagai cara baru menikmati kehidupan, karena melalui slow living, kita bisa sejenak rehat dari aktivitas yang berhubungan dengan kesibukan dan pekerjaan, menghargai waktu luang, serta menghabiskan waktu dengan orang-orang terdekat. Menariknya, konsep slow living tidak hanya didukung oleh para influencer, tetapi juga para ahli.

Manfaat Slow Living

Menurut penelitian Zeestraten (2008), slow living memungkinkan individu untuk menjadi lebih mindful dan menemukan makna dari kehidupan, tidak hanya berfokus pada hal-hal yang instan, serta menghargai waktu luang. Sedangkan menurut Ioncica (2016), slow living tidak hanya berpengaruh terhadap kesehatan fisik dan mental, tetapi juga terhadap meningkatnya praktik green economy.

Hal ini ditunjukkan oleh setiap aktivitas yang berkaitan dengan slow living, yang berfokus kepada meningkatkan kualitas hidup dipadukan dengan gaya hidup yang ramah lingkungan. Contohnya berkebun, beternak, bertanam di ladang, atau mengolah sampah organik.

Nah, pertanyaannya: apakah slow living juga bisa dilakukan dengan low budget?

Jawabannya… ya! Kenapa tidak? Kamu tak usah khawatir bila kamu tidak punya ladang yang luas atau rumah terpencil di kaki bukit. Apabila kamu tinggal di kota besar seperti Jakarta sekalipun, kamu masih tetap bisa menerapkan slow living tanpa menggelontorkan modal besar-besaran untuk urbanisasi.

Aktivitas yang berkaitan dengan slow living tidak hanya harus menanam bunga, memanen jagung secara manual, atau mengajak kambing-kambing merumput di lapangan.

Slow living juga bisa dilakukan dengan beristirahat dan membiarkan dirimu melakukan hal-hal yang menenangkan. Tentu saja, kamu harus melakukannya dengan pikiran yang fokus alias mindfulness. Apa sajakah itu?

Pilihan Aktivitas ‘Hemat’ untuk Slow Living

1. Mendengarkan musik

Penelitian dari Krout (2007) melaporkan bahwa mendengarkan musik, terutama yang bergenre ambient atau yang memiliki nada-nada menenangkan, bisa berpengaruh positif terhadap kesehatan tubuh dan mental. Melalui mendengarkan musik, kita bisa membiarkan pikiran kita untuk rileks.

Mungkin di antara kalian ada yang mendengarkan musik sambil mengkhayal atau membayangkan suasana musik tersebut, bukan? Nah, hal itu terjadi karena nada-nada yang menyusun suatu musik dapat memicu respons kognitif yang mempengaruhi kinerja sistem limbik, yakni sebuah area di otak yang bertugas mengendalikan respons emosi. Itulah mengapa, di samping mendengarkan musik membantu kita untuk tetap tenang dan tidak terbawa emosi, tak jarang ada musik-musik yang menyentuh hati kita dan membuat kita baper.

2. Memasak

Memasak adalah salah satu aktivitas yang menyenangkan sekaligus menenangkan apabila kamu punya interest di dunia kuliner. Malah, apabila kamu punya otak bisnis, kamu bisa juga menjadikan hobi masakmu sebagai sumber penghasilan.

Misalnya, membuka pre order makanan dan lain sebagainya. Selain itu, secara empiris, penelitian Farmer, et. al. (2017) melaporkan bahwa memasak bisa dijadikan sebagai intervensi kesehatan mental yang bisa meningkatkan mood, self-esteem, kepercayaan diri, dan melatih konsentrasi individu.

3. Bermain dengan anak-anak

Bagi kamu yang punya keponakan kecil, adik, atau malah sudah punya anak sendiri, menghabiskan waktu dengan mereka bisa jadi cara menemukan kesenangan. Selain bisa membangun bond atau hubungan yang sehat dengan mereka, kamu juga bisa mengembalikan kesenanganmu bermain-main, seperti waktu kamu anak-anak dulu.

Selain baik bagi kesehatan mentalmu, bermain dengan anak-anak juga bisa mengenalkan mereka pada hal-hal baru, menstimulasi mereka untuk belajar secara kognitif dan motorik, serta membangun kemampuan bersosialisasi, dan meningkatkan kesehatan fisik anak (Lester & Russell, 2016).

4. Membaca buku

Di zaman sekarang, tak mudah bagi kita untuk lepas dari penggunaan gadget. Sekalipun penting untuk mencari informasi, terkadang kita malah kelewatan bermain gadget sampai lupa untuk istirahat. Makanya, membaca buku bisa jadi alternatif aktivitas harianmu.

Menurut Levine, et. al. (2020), membaca dapat membantu menenangkan pikiran dan melepaskan beban psikologis yang berkenaan dengan kesibukan sehari-hari, asalkan membacanya dengan maksud bersantai dan tidak dijadikan kewajiban. Kamu tidak harus membaca buku-buku yang tebal. Bacalah buku yang topiknya sesuai dengan interest kamu. Terserah mau fiksi atau non fiksi. Yang terpenting, take your time.

5.   Meditasi

Bekerja seharian penuh bisa membuat kamu stres. Salah satu alternatif relaksasi lainnya adalah meditasi. Dilansir oleh riset Ireland (2012), meditasi telah terbukti bisa meningkatkan kesehatan psikologis. Dalam praktiknya, meditasi banyak dilakukan oleh para praktisi agama Hindu dan Buddha. Namun, seiring berjalannya waktu, orang-orang dari berbagai agama dan kalangan sudah ikut melakukan meditasi.

Karena sesungguhnya, konsep meditasi adalah memusatkan pikiran, energi, dan tubuh, tidak mengkhawatirkan keadaan masa lalu dan masa depan, serta fokus pada keadaan kita sekarang. Melakukan meditasi tidak harus lama-lama, kok. Yang penting, setelah meditasi dilakukan, kamu bisa kembali fokus untuk mengerjakan aktivitas lainnya.

6. Tidur

Siapa pun yang tidak setuju dengan poin ini, boleh angkat tangannya! (Hehehe.)

Tentu saja, tidak ada yang bisa menggantikan tidur sebagai cara beristirahat paling efektif. Namun, kita harus tetap memperhatikan ritme sirkadian kita agar jam tidur kita cukup.

Ritme sirkadian adalah semacam ‘jam internal’ yang berfungsi untuk mengatur siklus bangun, tidur, lalu tidur lagi. Apabila ritme sirkadian terganggu, maka tubuh kita tidak akan berfungsi secara optimal. Alhasil, tubuh kita akan lebih mudah terserang penyakit dan kita juga akan rawan menjadi stres. Jadi, mau sesibuk atau segabut pun aktivitasmu, jangan lupa untuk tidur yang cukup, OK?

References:

  • Farmer, N., Touchton-Leonard, K., & Ross, A. (2017). Psychosocial Benefits of Cooking Interventions: A Systematic Review. Health Education & Behavior, 45. 109019811773635. 10.1177/1090198117736352.
  • Ioncica, D. (2016). Slow living and the green economy. The Journal of Philosophical Economics: Reflections on Economic and Social Issues, 9, 85-104.
  • Ireland, M. (2012). Meditation and psychological health and functioning: A descriptive and critical review. The Scientific Review of Mental Health Practice, 9, 4-19.
  • Krout, R. (2007). Music Listening to Facilitate Relaxation and Promote Wellness: Integrated Aspects of Our Neurophysiological Responses to Music. The Arts in Psychotherapy, 34. 134-141. 10.1016/j.aip.2006.11.001.
  • Lester, S., & Russell, W. (2016). “Turning the World Upside Down: Playing as the Deliberate Creation of Uncertainty.” The Role of Play in Children’s Health and Development. (Navidi, U., ed.). MDPI: Basel, Switzerland.
  • Levine, S., Cherrier, S., Holding, A., & Koestner, R. (2020). For the love of reading: Recreational reading reduces psychological distress in college students and autonomous motivation is the key. Journal of American College Health, 1-7. 10.1080/07448481.2020.1728280.
  • Shea, S. E., Gordon, K., Hawkins, A., Kawchuk, J., & Smith, D. (2000). Pathology in the Hundred Acre Wood: a neurodevelopmental perspective on A.A. Milne. CMAJ, 163(12).
  • Vitaterna, M. H., Takahashi, J. S., & Turek, F. W. (2001). Overview of Circadian Rhythms. Alcohol Research and Health, 25 (2).
  • Zeestraten, J. (2008). Strolling to the beat of another drum : living the ‘Slow Life.Thesis. Lincoln University.

Artikel Terkait

Leave a Comment