Image default

Apa itu Biseksual?

Apakah kamu pernah mendengar istilah ‘biseksual’? Biseksual adalah salah satu jenis dari kelompok orientasi seksual LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender).

Menggunakan kata ‘bi’ yang berarti dua, biseksual merupakan kondisi seseorang yang memiliki ketertarikan secara emosional dan seksual kepada lebih dari satu gender ataupun jenis kelamin. Baik kepada yang memiliki gender sama (homoseksual) maupun dengan gender yang berbeda (heteroseksual).

Yuk, kita simak lebih lanjut mengenai apa itu biseksual!

Biseksual: Bukan Gangguan Kejiwaan

Biseksual sendiri pada awal mulanya merupakan sebuah istilah yang diciptakan oleh seorang ahli syaraf Charles Gilbert Chaddock pada tahun 1892. Istilah ini digunakan Charles merujuk dari terjemahan Psychopathia Sexualis oleh Richard von Krafft Ebing untuk menjelaskan kondisi ketertarikan secara seksual pada pria maupun wanita. Namun pada kondisi tersebut bahkan dalam dekade satu abad, orientasi seksual biseksual masih dipandang sebagai sebuah kondisi yang menyimpang secara seksual dan diperlakukan dengan berbagai upaya pengobatan yang jauh dari norma kemanusiaan.

Pergeseran pandangan terhadap orientasi biseksual diawali pada tahun 1948 melalui penelitian yang dilakukan Alfred Kinsey, seorang ilmuwan perilaku yang menyebutkan bahwa kondisi seksualitas maupun ketertarikan seksual tidak dapat dikelompokkan hanya melalui dua kotak biner yang terpolarisasi. Menurut Kinsey, melalui skala kinsey, orientasi seksual merupakan sebuah kontinum maupun spektrum. Penemuan bahwa rata-rata individu memiliki orientasi seksual pada tengah kontinum atau spektrum membuat Kinsey meyakini bahwa terdapat orientasi biseksual.

Sebelum tahun 1973, kondisi biseksual dan berbagai orientasi seksual termasuk kelompok LGBT termasuk dalam kelompok gangguan jiwa yang ditetapkan oleh American Psychological Association (APA). Setelah melalui berbagai perkembangan dan penelitian lebih lanjut, pada tahun 1973, APA melalui Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder (DSM) III tidak lagi memasukkan homoseksual dan orientasi seksual lainnya sebagai sebuah gangguan jiwa. Hal ini menjadi pedoman diagnosis bagi seluruh praktisi psikologi di dunia, termasuk di Indonesia. Melalui Pedoman Penggolongan dan Diagnosis Gangguan Jiwa (PPDGJ) II tahun 1983, homoseksual dan orientasi lainnya tidak lagi dikategorikan sebagai gangguan jiwa.

Biseksual dan Orang Dengan Risiko Gangguan Mental (ODMK)

Kendati biseksual dan berbagai kelompok orientasi seksual lainnya tidak lagi termasuk dalam klasifikasi gangguan jiwa, PPDGJ mengelompokkannya ke dalam Orang Dengan Risiko Gangguan Mental (ODMK). Melalui Undang-Undang No. 18 Tahun 2014 tentang Kesehatan Jiwa, ODMK didefinisikan sebagai sebuah kondisi yang dialami seseorang yang memiliki permasalahan fisik, mental, sosial, pertumbuhan dan perkembangan dan/atau kualitas hidup sehingga memiliki risiko gangguan jiwa.

ODMK berbeda dengan kondisi diagnosis atau dikenal dengan istilah Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ). Penggolongan kondisi biseksual dan kelompok LGBT lainnya dalam klasifikasi ODMK disebutkan bukan untuk diagnosis gangguan kejiwaan melainkan menempatkan seseorang sebagai kelompok yang berisiko. Kondisi ini sama dengan seseorang yang mengalami kemiskinan maupun kondisi bencana alam.

Hadirnya berbagai stigma dan penolakan membuat kelompok biseksual maupun kelompok LGBT pada kondisi yang rentan mengalami gangguan psikologis. Sebuah penelitian menyebutkan, seorang biseksual memiliki risiko yang lebih tinggi untuk mengalami depresi dan kecemasan dibandingkan dengan orientasi seksual lainnya karena adanya penolakan maupun kondisi yang menempatkan seorang biseksual untuk menutupi orientasi seksualnya.

Penyebab Biseksual

Biseksual sebagai sebuah orientasi seksual dengan lebih dari satu gender tidak serta merta membuat seorang biseksual membelah diri dengan ketertarikan yang setara baik pada gender yang sama (homoseksual) maupun dengan gender yang berbeda (heteroseksual).

Biseksual dapat memiliki ketertarikan yang berbeda dan tidak selalu memiliki porsi yang sama pada kondisinya. Misalnya, seorang laki-laki biseksual dapat memiliki ketertarikan yang lebih pada wanita meskipun ia juga tertarik dengan laki-laki. Hal ini menjadi keunikan tersendiri pada kondisi orientasi biseksual.

Hingga saat ini, berbagai penelitian mengenai penyebab seseorang menjadi biseksual masih terus berkembang. Terdapat berbagai macam penelitian mengenai penyebab dari orientasi seksual LGBT. Beberapa diantaranya menyebutkan kondisi hormon prenatal hingga pada pandangan terkait dengan orientasi seksual sebagai sebuah konstruksi sosial masih menjadi pro-kontra terkait dengan orientasi seksual seseorang.

Mengenal Panseksual

Berbicara mengenai biseksual, terdapat sebuah istilah lainnya yang menggambarkan ketertarikan seksual yang dialami seseorang yang tidak terbataskan gender yakni panseksual. Biseksual merupakan sebuah istilah yang digunakan untuk mengidentifikasi orientasi seksual lebih dari satu gender, baik gender yang sama (homoseksual) maupun gender yang berbeda (heteroseksual). Sedangkan dalam hal ini, panseksual menggunakan awalan ‘pan’  yang berarti ‘semua’ merujuk pada kondisi seseorang yang dapat tertarik secara seksual kepada semua kondisi tidak terbataskan kepada gender saja.

Seorang biseksual dapat tertarik secara seksual dan emosional pada gender yang terklasifikasi sebagai gender pria, wanita, maupun non-biner (tidak mengidentifikasikan gender apa pun). Namun dalam hal ini, panseksual sama sekali tidak menggunakan preferensi gender, melainkan pada dasar ketertarikan pribadinya, seperti ketertarikan secara emosional, penampilan hingga pada kepribadian. Sehingga dalam hal ini kondisi seorang biseksual sering kali dapat beririsan dengan panseksual.

Hubungi Profesional

Terlepas dari keyakinan yang dimiliki terkait orientasi seksual yang dimiliki oleh LGBT, kondisi Biseksual merupakan orientasi seksual yang masih lekat dengan berbagai stigma yang hadir di tengah masyarakat. Kondisi ini membuat seorang biseksual lebih banyak untuk menyembunyikan identitas dan orientasi seksualnya yang menempatkannya pada kondisi berisiko seperti mengalami berbagai tekanan dan perasaan tidak nyaman.

Hal ini dapat berdampak pada kondisi kesehatan mental dan psikologis seseorang dengan orientasi seksual biseksual. Jika kamu mengalami kondisi ini, kamu dapat menemui bantuan profesional seperti psikolog untuk dapat membantumu. Kampuspsikologi juga menghimbau untuk tidak melakukan stigma maupun diskriminasi terhadap individu lainnya, termasuk berkenaan dengan orientasi seksualnya.

Referensi

Artikel Terkait

Leave a Comment