Image default

Avicenna Dan Kontribusinya Terhadap Psikologi

Pada tahun 980 Masehi, Avicenna, atau yang dikenal juga sebagai Ibnu Sina, lahir di dekat Bukhara, Iran dengan nama Abu Al-Husayn ibn Abd Allah ibn Sina. Beliau terkenal sebagai salah satu ilmuwan Muslim paling berpengaruh di dunia dengan kontribusi besarnya pada bidang kedokteran dan filosofi. Karyanya yang terkenal adalah The Canon of Medicine, atau dalam bahasa Arabnya disebut Al-Qanun fii At-Tibb. Karya Avicenna lain yang menonjol adalah Kitāb Al-shifā, yang merupakan ensiklopedi empat bagian yang mencakup logika, fisika, matematika, dan metafisika. Kemasyuran Avicenna dalam perkembangan ilmu pengetahuan rupanya juga membentang hingga menyentuh sayap-sayap keilmuan psikologi. Untuk selengkapnya, mari kita pelajari bersama, yuk!

Ilmuwan Muda Berbakat

Avicenna mulai menimba ilmu kedokteran saat berusia 16 tahun. Di masa kecilnya, ia dikenal sebagai seorang anak yang rajin dan tertib dalam belajar. Buktinya, ia sudah menjadi penghafal Alquran sejak berusia 10 tahun.

Bakat Avicenna dalam ilmu kedokteran yang ditekuninya memang tidak main-main, bahkan ia menjadikan kedokteran sebagai passion-nya. Berkat ketekunannya tersebut, ia berhasil menyembuhkan penyakit Sultan Bukhara, dan sebagai imbalannya, Sultan menghadiahi Avicenna akses ke perpustakaan kerajaan Samanid. Tentu saja Avicenna sangat senang. Ia memanfaatkan aksesnya ke perpustakaan tersebut untuk memperdalam pengetahuannya.

Selain kedokteran, ia mulai belajar sains dan filosofi. Ia mulai menerbitkan karya-karya ilmiah pada usia 21 tahun yang mencakup pembahasan dari berbagai sisi keilmuan, mulai dari matematika, geometri, astronomi, fisika, filologi, hingga metafisika. Ia juga menerbitkan karya-karya sastra dan musik yang mengangkat tema-tema religius.

Konsep Diri Manusia Menurut Avicenna

Menurut Avicenna, manusia memiliki empat indera yang berperan dalam peyelesaian masalah dan kehidupannya sehari-hari. Konsep ini kemudian dikenal sebagai the four senses, yang secara rinci dibagi menjadi:

  1. Akal sehat (al-hiss al-mushtarak), adalah sebuah alat yang berfungsi untuk menggabungkan informasi dari indera fisik dari luar diri manusia menjadi suatu objek epistemik.
  2. Imajinasi Retentif  (al-khayal), untuk mengingat informasi yang dikumpulkan oleh akal sehat dan memproses citra objek epistemik yang dirasakan.
  3. Fakultas Imajinatif (al-mutakhayyila), yang berfungsi untuk menggabungkan gambar-gambar dalam ingatan, memisahkannya dan menghasilkan gambar-gambar baru.
  4. Kekuatan Estimatif (wahm), yang menerjemahkan citra yang dipersepsi menjadi maknanya. Ini juga merupakan kemampuan untuk membuat penilaian bawaan tentang lingkungan sekitar dan menentukan apa yang berbahaya dan apa yang bermanfaat.

Adapun menurut Avicenna, jiwa manusia adalah substansi lengkap yang tidak ada di dalam tubuh dan tidak tercetak di dalamnya. Avicenna berpendapat dalam bukunya, Al-Shifa, bahwa proses kognitif manusia terjadi karena interaksi pikiran (mind) dan otak (brain), sehingga keadaan mental seseorang dapat berpengaruh terhadap aktivitas otak (Jamali, dkk., 2019). Selain itu, pendapat lain yang terkenal dari Avicenna adalah mengenai jiwa yang terindividualisasi. Meskipun demikian, pendapat ini masih sering dikaji ulang, karena Avicenna tidak memberikan catatan ontologis yang memuaskan untuk itu (Druart, 2000).

Quote Ibn Sina

Kontribusi Avicenna dalam Terapi Psikologi

Apabila Teman-teman pernah membaca sejarah psikologi, Teman-teman pasti tahu bahwa psikologi sudah ada sejak lama, bahkan jauh sebelum Wilhelm Wundt mendirikan laboratorium di Leipzig. Namun, ilmu psikologi saat itu masih belum memiliki metode ilmiah seperti yang kita ketahui dewasa ini, melainkan berakar dari ilmu filsafat yang saat itu sangat berkembang di Timur Tengah dan Eropa. Psikologi saat itu dikenal sebagai ilmu jiwa, yang dalam bahasa Arab disebut ilm an-nafs. Istilah nafs (kata lain dari self atau jiwa) digunakan untuk menunjukkan kepribadian individu dan istilah fitrah untuk sifat manusia, yang mencakup qalb (hati), ruh (roh), aql (intelek) dan irada (kehendak).

Avicenna merupakan salah satu cendekiawan yang pandangannya memiliki andil dalam psikologi, khususnya psikologi Islam. Psikologi dalam pandangan Islam merupakan kajian yang membahas jiwa dari sudut pandang agama dan tidak memisahkan dimensi spiritual dengan dimensi humanistik. Psikolog Islam menyentuh pembahasan tentang jiwa manusia, yang selama ini masih dipandang abstrak oleh psikologi barat, namun bukan berarti psikologi Islam tidak menerima pandangan psikologi barat, malah justru para psikolog Muslim memiliki kewajiban belajar mengenai teori-teori psikologi barat untuk lebih memahami konsep-konsep yang diutarakan Alquran mengenai manusia untuk mengembangkan ilmu psikologi secara umum (Badri, 2005).

Meskipun Avicenna bukan seorang psikolog, metode-metode yang digunakannya dalam terapi cukup mendekati metode terapi modern. Apabila kita menilik ke belakang, kebanyakan ulama Muslim pada zaman dahulu menggarisbawahi pentingnya hubungan antara pikiran dan tubuh, sehingga menurut pandangan tersebut, seseorang dapat mengatasi penyakit fisik dengan percaya bahwa mereka bisa sembuh. Namun sebaliknya, Avicenna percaya bahwa orang yang sehat dapat menjadi sakit secara fisik jika mereka percaya bahwa mereka sakit. Istilah inilah yang di kemudian hari dikenal sebagai psikosomatis (Shuttleworth, 2010).

Avicenna mengembangkan metode-metode klinis dalam terapi gangguan mental. Ia memiliki teorinya sendiri tentang gangguan jiwa, yang mengambil dasar dari konsep Aristoteles tentang empat kelenjar manusia. Menurut Avicenna, gangguan jiwa, khususnya depresi, disebabkan oleh gangguan pada black bile (kelenjar hitam) yang disebut dengan melankolia. Menurut Shakeri, dkk. (2016), Avicenna membagi gejala umum melankolia menjadi dua kategori, fase awal dan fase kronis penyakit. Gejala melankoli tahap awal termasuk kecurigaan akan kejahatan, ketakutan tanpa sebab, cepat marah, gerakan otot yang tidak disengaja, pusing, dan telinga berdenging (tinitus), sementara pada fase kronis, gejala lainnya berupa rintihan, kecurigaan, kesedihan, ketakutan, kegelisahan, peningkatan libido dan ketakutan abnormal.

Metode yang digunakan Avicenna dalam terapinya adalah memodifikasi gaya hidup, pengobatan alami, dan manipulasi, termasuk menggunakan tumbuh-tumbuhan alami yang diolah sebagai obat-obatan khusus untuk mengatasi kecemasan atau depresi (Khodaei, dkk., 2017). Meskipun belum sesempurna terapi yang dewasa ini kita ketahui, lambat laun Avicenna pun berhasil menyingkirkan kepercayaan lama, bahwa sesungguhnya gangguan mental bukan disebabkan oleh gangguan supernatural atau roh jahat, melainkan terjadi karena ketidakseimbangan dalam jiwa manusia (Shuttleworth, 2010).

Keteladanan

Pada uraian sebelumnya, sudah dijelaskan bahwa Avicenna menggunakan metode terapi dengan pengobatan alami untuk menangani gangguan psikologis. Belum lama ini, sebuah penelitian mencoba untuk mengungkap efektivitas metode yang digunakan oleh Avicenna dalam terapi psikologi yang dilakukannya tersebut, dan hasilnya menunjukkan bahwa sekalipun terapi yang dilakukan masih sederhana, obat-obatan yang digunakan Avicenna untuk meredakan gejala-gejala gangguan mental memang terbukti memiliki khasiat (Khodaei, dkk., 2017).

Meskipun demikian, Avicenna juga menekankan bahwa penggunaan obat-obatan dan treatment terhadap individu harus memperhatikan dosis dan karakteristik individu (usia, jenis kelamin, profesi), dan berbagai faktor eksternal (Buranova, 2015). Prinsip ini merupakan prinsip ilmu kedokteran yang diutarakan dalam The Canon of Medicine, namun dapat pula diterapkan dalam terapi psikologi. Setiap treatment yang diberikan kepada individu dapat berbeda-beda sesuai dengan gejala gangguan dan perbedaan latar belakang individu, sebab perbedaan latar belakang individu dapat berpengaruh terhadap reaksi dan interaksinya dengan psikolog, caranya memproses informasi dalam terapi, serta outcome dari terapi (Martin, 1990).

Nah, untuk menutup tulisan ini, marilah kita melakukan refleksi sejenak. Ketekunan Avicenna dalam belajar dan menggali pengetahuan dari berbagai bidang telah menjadikannya salah satu tokoh paling berpengaruh dalam ilmu pengetahuan pada zaman Keemasan Islam hingga sekarang. Meskipun tidak terlalu banyak orang yang mengetahui detail kehidupannya, Avicenna dan karya-karyanya tetap menjadi bahan kajian cendekiawan di dunia, khususnya cendekiawan Muslim.

Maka dari itu, apabila Teman-teman memiliki keinginan untuk berkontribusi dalam pengembangan ilmu, entah itu kedokteran, psikologi, filsafat, atau apalah itu, tetaplah menekuni apa yang Teman-teman lakukan dengan kesungguhan hati. Jangan berharap yang muluk-muluk, tapi teruslah berkarya. Kita tidak tahu apa yang dibutuhkan masyarakat setiap waktu, tetapi dengan mengkaji apa yang sudah ada sekarang ini, kita bisa memberikan referensi bagi masyarakat untuk menjalani hidup yang lebih baik di masa depan.

References:

A. Okasha, C.R. (1). “Mental Health and Psychiatry in the Middle East”. Eastern Mediterranean Health Journal. 7: 336–347.

Araj-Khodaei, Mostafa & Noorbala, A.A. & Parsian, Zahra & Taheri, Somaiyeh & Emadi, Fatemeh & Alijaniha, Fatemeh & Naseri, Mohsen & Zargaran, Arman. (2017). Avicenna (980-1032CE): The Pioneer in Treatment of Depression. Transylvanian Review. 25. 4377-4389.

Badri, M (Luxfiati, S. Z., Penerj.). (2005). Dilema Psikolog Muslim. Jakarta: Pusaka Firdaus.

Buranova, D. D. (2015). The value of Avicenna’s heritage in development of modern integrative medicine in Uzbekistan. Integrative Medicine Research, 4(4), 220–224. doi:10.1016/j.imr.2015.06.002

Druart , T. (2000). The Human Soul’s Individuation and its Survival after the Body’s Death: Avicenna on the Causal Relation between Body and Soul. Arabic Sciences and Philosophy. 10. 259 – 273. 10.1017/S0957423900000102. Encyclopedia Britannica. (2020). Avicenna. Dipetik dari Encyclopedia Britannica: https://www.britannica.com/biography/Avicenna

Internet Encyclopedia of Philosophy. (2020). Avicenna (Ibn Sina) (c. 980—1037). Dipetik dari Internet Encyclopedia of Philosophy: https://iep.utm.edu/avicenna/#SH10i

Jamali, M., Golshani, M., Jamali, Y. (2019). Avicenna’s ideas and arguments about mind and brain interaction. Preprints. doi:10.20944/preprints201906.0050.v1.

Martin, J. (1990). Individual differences in client reactions to counseling and psychotherapy: A challenge for research. Counselling Psychology Quarterly. 3. 67-83. 10.1080/09515079008254234.

Shakeri A., Sahebkar A., Javadi B., (2016). Melissa officinalis L.–A review of its traditional uses, phytochemistry and pharmacology. Journal of ethnopharmacology. 188: 204-228.

Shuttleworth, M. (2010, 16 Maret). Islamic Psychology. Dipetik dari Explorable.com: https://explorable.com/islamic-psychology

Sutton, John & Harris, Celia & Keil, Paul & Barnier, Amanda. (2010). The Psychology of Memory, Extended Cognition, and Socially Distributed Remembering. Phenomenology and the Cognitive Sciences. 9. 521-560. 10.1007/s11097-010-9182-y.

Artikel Terkait

Leave a Comment