Image default

Autisme: Pengertian, Penyebab, Gejala, Spektrum

Pada beberapa kesempatan, ada beberapa orang yang menggunakan istilah atau kata autis digunakan untuk menggambarkan perilaku tertentu. Seiring berjalannya waktu, perilaku atau penyebutan istilah untuk menggambarkan hal yang tidak tepat ini berkembang hingga istilah autis maupun autisme tersebut sering kali diasosiasikan dan dimaknai sebagai sesuatu yang negatif. Mirisnya lagi, pemahaman sebagian dari masyarakat kita tentang autisme ini belum begitu tepat.

Artikel ini disusun untuk meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai teman-teman yang mengalami kondisi inidan istilah autis itu sendiri. Ayo mengenal lebih dalam istilah autis, agar kita tidak salah dalam menggunakan istilah tersebut.

Pengertian Autisme

Bagi sebagian orang, autisme juga dapat disebut dengan beragam istilah mulai dari Autism Spectrum Disorder (ASD) yang merupakan istilah resmi keilmuan kesehatan, Autism Spectrum Condition (ASC) serta Asperger’s atau Asperger syndrome (What Is Autism?, 2019). Meskipun terdapat keberagaman istilah yang dipakai, artikel ini akan menggunakan istilah Autism Spectrum Disorder yang selanjutnya disingkat ASD.

Autism Spectrum Disorder (ASD) adalah sebuah kelainan perkembangan saraf yang mempengaruhi perilaku dan komunikasi individu dan ditandai dengan defisit atau keterbatasan pada kemampuan sosial-komunikasi serta terdapat perilaku berulang atau repetitive yang biasanya terdeteksi pada usia 1 hingga 3 tahun (Ousley & Cermak, 2014; Santrock, 2014; The National Institute of Mental Health, t.t.).

Sesuai dengan namanya, ASD merupakan sebuah spektrum dari kondisi autisme. Dalam spektrum ASD sendiri terdapat beberapa kondisi yang sebelumnya tidak dijadikan satu ke dalam kategori tertentu. Santrock (2014) menjelaskan bahwa spektrum pada ASD ini melingkupi kondisi dengan derajat keparahan paling parah yakni Autistic Disorder hingga yang kondisi yang lebih ringan yang disebut dengan Asperger’s Syndrome.

Secara lebih detail, Mayo Clinic (2018) menyatakan bahwa setidaknya terdapat empat kondisi yang berada dalam ASD yakni autisme, asperger’s syndrome, gangguan disintegratif masa kanak-kanak, dan bentuk lain yang tidak spesifik dari gangguan perkembangan pervasif.

Penyebab Autisme

Ketika membahas mengenai pengertian dan beberapa kondisi yang termasuk di dalamnya, mungkin banyak dari kita yang bertanya-tanya terkait penyebab kondisi ini. Karena kondisi autisme yang terbilang rumit atau kompleks, belum atau tidak dapat ditentukan penyebab tunggal dari kondisi ini, tetapi ada beberapa hal yang mungkin menjadi faktor ASD seperti faktor lingkungan dan genetik (Mayo Clinic, 2018).

Faktor genetik dari autisme ini sangat beragam mulai dari variasi genetik yang diturunkan hingga faktor genetik de novo atau semacam mutasi pada sequence gen individu yang bersangkutan (Rylaarsdam & Guemez-Gamboa, 2019). Misalnya saja seperti temuan Weiss dkk (dalam Santrock, 2014) bahwa mutasi baik duplikasi atau hilangnya bagian DNA dalam kromosom 16 dapat meningkatkan kecenderungan individu mengembangkan kondisi ASD sebesar 100 kali lipat.

Selain dari faktor genetik, terdapat pula faktor lingkungan yang dapat mempengaruhi atau memperparah faktor genetik yang ada. Berdasar artikel yang dipublikasikan oleh Mayo Clinic (2018), saat ini ada beberapa hal yang sedang diteliti oleh para ahli dan peneliti untuk mengetahui faktor lingkungan yang menyebabkan kondisi tersebut, misalnya saja seperti polusi udara, infeksi virus, pengobatan atau komplikasi tertentu di masa kehamilan. Selain itu, pengaruh lingkungan ini dapat terjadi tidak hanya saat kehamilan tetapi bisa juga saat proses kelahiran maupun pasca kelahiran (Glasson dkk. dalam Karimi dkk., 2017).

Seperti yang kita ketahui bersama, bahwa dalam tumbuh kembang individu terutama kelainan psikologis tidak dapat dipisahkan begitu saja antara faktor genetik dan lingkungan. Sama halnya dengan kondisi ASD, di mana kemungkinan persentase perbandingan sekitar 40 hingga 80% dipengaruhi faktor genetik dan sisanya dapat dikarenakan atau diperburuk oleh faktor lainnya seperti lingkungan (Rylaarsdam & Guemez-Gamboa, 2019).

Gejala Autisme

Seperti yang dijelaskan pada bagian sebelumnya, gejala yang umum terlihat pada perilaku, sosial dan perkembangan bahasanya. Beragam referensi menjelaskan bahwa ASD ini dapat dideteksi dan gejalanya juga muncul pada rentang usia di bawah 3 tahun (CDC, 2021; Santrock, 2014) dan kondisi ini dapat bertahan hingga individu beranjak dewasa (CDC, 2021).

Untuk mengetahui lebih lengkap dan terperinci, berikut terdapat beberapa gejala yang dikelompokkan berdasar kategori tertentu menurut CDC (2021).

1. Gejala dalam keterampilan komunikasi sosial dan interaksi

Pada individu yang mengalami ASD, mereka cenderung menghindari atau tidak dapat menjaga kontak mata, saat berusia 9 bulan tidak merespons ketika dipanggil namanya, tidak menunjukkan ekspresi dan emosi pada wajah. Ketika berumur 12 bulan individu tersebut tidak dapat bermain permainan interaktif sederhana dan masih banyak gejala spesifik lainnya yang berbeda-beda pada setiap rentang tumbuh kembang anak.

2. Perilaku atau minat yang berulang maupun terbatas

Pada individu dengan kondisi ASD, mereka memiliki kesukaan atau aktivitas tertentu yang tidak umum. Beberapa perilaku tersebut seperti menyusun mainan atau benda sesuai urutan tertentu dan marah ketika urutannya tidak sesuai atau rusak, mengulang kata tertentu (echolalia), bermain dengan arah yang sama terus menerus.

Tidak hanya itu, ada beberapa perilaku lainnya yang sangat khas, seperti flapping, memiliki reaksi yang khas terhadap suara, bau, cahaya atau rasa tertentu, badannya kaku atau justru memiliki rutinitas yang tidak sewajarnya.

3. Karakteristik lainnya

CDC (2021) menjelaskan bahwa terdapat beberapa karakteristik lain yang perlu menjadi perhatian di luar kedua kategori sebelumnya. Misalnya saja anak memiliki rasa takut yang sedikit atau justru terlalu takut, mengalami keterlambatan perkembangan pada beberapa aspek seperti bahasa, gerakan, hingga kemampuan kognitif.

Tidak hanya itu, ketika anak memiliki permasalahan kesehatan yang lebih mengarah kepada kesehatan fisik seperti gangguan pencernaan, epilepsi maupun kejang, kondisi ini juga perlu menjadi perhatian bagi para caregiver.


Dengan adanya penjelasan mengenai ASD pada artikel ini, diharapkan dapat menambah pemahaman kita terhadap autisme maupun ASD secara umum. Tidak hanya itu, dengan mengetahui dan memahami beberapa gejala yang khas dari ASD juga diharapkan dapat meningkatkan kesadaran kita terhadap lingkungan dan orang-orang di sekitar kita.

Ketika menemukan gejala abnormal tersebut atau serupa pada orang yang kita sayangi, ada baiknya untuk segera melakukan konsultasi kepada ahlinya, seperti dokter anak, psikolog, maupun praktisi yang mampu memahami tumbuh kembang anak yang lain.

Semakin awal teridentifikasi ia bisa mendapatkan terapi lebih awal. Karena intervensi keperilakuan yang intensif sejak dini dapat meningkatkan kemampuan kognitif, bahasa dan keterampilan adaptif pada individu dengan ASD tersebut (Sanchack & Thomas, 2016).

Referensi

Artikel Terkait

Leave a Comment