Berbicara tentang cinta dan hubungan romantis, banyak orang mungkin berkata, “Oh, cinta saja sudah cukup. Love will conquer all.”  Tapi ternyata, Psikologi berkata lain. Dalam ilmu Psikologi, ternyata banyak sekali aspek yang berpengaruh terhadap hubungan romantismu. 

Cinta, atau ketertarikan mutual antar satu sama lain hanya merupakan sebagian dari lika liku hubungan romantis. Berdasarkan teori Stenberg, aspek cinta pun dibagi-bagi menjadi Passion, Intimacy, dan Commitment. Lalu, bagaimana dengan Attachment Styles

Attachment Styles juga merupakan aspek penting yang mempengaruhi dinamika hubungan romantis kita. Penasaran apa itu attachment styles dan bagaimana hal tersebut bisa berdampak besar terhadap hubungan romantis kita? 

Apa itu Attachment Style

Setiap orang mempunyai kebutuhan intimasi. Artinya, setiap orang butuh memiliki suatu kedekatan dengan seseorang, baik itu dengan pasangan romantis, sahabat, ataupun orang tua. Namun, setiap orang juga memiliki kapasitas yang berbeda-beda untuk mengekspresikan kebutuhannya tersebut.

Perbedaan itu dapat kita artikan sebagai attachment styles, atau gaya-gaya intimasi, yaitu cara tertentu dimana seseorang mengekspresikan keintimannya dengan orang-orang terdekat. 

3 Jenis Attachment Style

Secure, si dia yang paling ideal

Orang-orang dengan attachment style secure dapat mengkomunikasikan kebutuhannya dengan efektif dan dapat membaca serta menanggapi kode-kode implisit maupun eksplisit yang ditunjukkan pasangannya. Mereka adalah orang-orang peka yang sadar akan kebutuhannya dan pasangannya.

Karena itu, memberikan kasih sayang dan perhatian penuh dalam suatu hubungan merupakan sifat alamiah yang dimiliki orang-orang secure. Mereka terbuka dan dapat mengkomunikasikan dengan baik masalah maupun kesuksesan mereka, tidak suka bereaksi berlebihan terhadap masalah dalam hubungan, dan menikmati kedekatan dalam hubungan itu tanpa merasa cemas berlebihan akan keberlanjutannya. 

Anxious, ingin dekat tapi khawatir ditinggalkan

Seseorang dengan attachment style ini sebetulnya sangat menyukai dan menginginkan kedekatan dengan pasangannya. Karena ini, mereka berpotensi untuk memiliki hubungan yang dekat dengan pasangan layaknya pasangan-pasangan secure lainnya. 

Tetapi, seringkali mereka memiliki ketakutan berlebih akan hubungannya di masa depan. Entah itu ketakutan terkait pasangannya yang tidak ingin dekat lagi dengannya, atau kecemasan-kecemasan lainnya. Maka dari itu, hubungan romantis cenderung menguras sebagian besar energi mereka. 

Selain itu, orang-orang anxious juga cenderung sangat sensitif dan kerap kali bertingkah berlebihan terhadap perilaku dan mood pasangannya. Hal ini karena mereka kurang bisa mengkomunikasikan kebutuhannya dengan baik dan tepat sasaran, alih-alih jadi overreacting terhadap suatu kejadian atau masalah dalam hubungan tersebut. 

Namun, kabar baiknya, jika pasangan si anxious ini merupakan seseorang yang secure yang dapat memberikan keamanan dan kepastian dalam hubungan mereka, orang-orang dengan anxious attachment style dapat merasa puas dengan hubungan yang mereka jalani.

Avoidant, ingin dekat tapi berjarak

Sama seperti orang lain pada umumnya, orang-orang dengan avoidant attachment style juga membutuhkan kedekatan dengan orang lain. Bedanya, mereka tidak nyaman jika hubungan tersebut menjadi terlalu dekat dan terikat, sehingga mereka cenderung menjaga jarak dengan pasangannya. 

Hal ini karena bagi si avoidant, perasaan independen, self-sufficient, dan bebas adalah nilai-nilai kehidupan yang amat penting dan dijunjung tinggi. Mereka cenderung lebih memprioritaskan aspek-aspek ini daripada keintiman dalam suatu hubungan. 

Avoidants tidak menghabiskan banyak waktu mengkhawatirkan hubungan romantisnya. Mereka cenderung tidak terbuka dengan pasangan dan suka memendam hal-hal yang sebetulnya lebih baik diungkapkan. Selain itu, mereka sangat was-was akan perilaku pasangan yang terlalu mengontrol kehidupannya. 

Mengapa tiap orang bisa memiliki attachment style yang berbeda-beda? 

Pengalaman hidup dari kecil hingga dewasa yang berbeda-beda.

Cara orang tua merawat kita dari kecil, genetik, dan pengalaman romantis kita saat dewasa, semuanya berkontribusi membentuk attachment style

Setiap attachment style berevolusi untuk meningkatkan peluang hidup kita di lingkungan tertentu.

Teori Psikologi Evolusi mempercayai bahwa attachment style yang berbeda-beda bergantung pada lingkungan dimana kita tumbuh dari kecil, dan attachment style yang terbentuk merupakan cara adaptif kita dalam merespons situasi di lingkungan. 

Contohnya, untuk mereka yang tumbuh besar di lingkungan keluarga yang hangat dan suportif, attachment style yang secure akan terbentuk karena dengan cara-cara securelah (mengkomunikasikan kebutuhan secara efektif, menjaga kedekatan satu sama lain, dll) mereka merasa familiar, aman, nyaman, dan dapat berkembang dengan optimal. 

Sebaliknya, mereka yang tumbuh besar di lingkungan keluarga yang kurang kondusif, kurang suportif, dan tidak terbuka dengan satu sama lain akan lebih cenderung mempunyai attachment style avoidant. Hal ini karena selain mereka terbiasa dengan pola-pola avoidant dalam lingkungannya, dengan cara itulah mereka bertahan hidup di situasi itu dan belajar untuk tumbuh, berkembang, serta merasa aman dan nyaman. 

Bagaimana attachment styles bisa berdampak pada dinamika hubungan romantis kita? 

Sebisa mungkin, carilah pasangan yang secure.

Orang-orang dengan attachment style secure lebih merasa puas saat menjalin hubungan romantis daripada mereka yang anxious atau avoidant. Jika seorang anxious atau avoidant mengencani seseorang yang secure, mereka bisa mempelajari pola-pola interaksi dalam hubungan yang dimiliki orang secure dan lambat-laun bisa menjadi seorang yang secure juga. 

Selain itu, jika kamu mengencani seseorang yang secure, mereka akan: 

Katanya, sebagian besar orang di dunia ini mempunyai attachment style secure, loh!

The Anxious-Avoidant Trap 

Jika kamu seorang anxious yang mengencani avoidant atau sebaliknya, kira-kira beginilah dinamika hubungan yang akan kalian jalani … 

Si anxious butuh kedekatan dalam suatu hubungan, tetapi

Si avoidant butuh ruang dan jarak dan tidak nyaman jika terlalu dekat dan terikat 

Si anxious sangat sensitif terhadap signs of rejection dalam hubungan romantis, yaitu tanda-tanda yang membuat ia merasa seolah-olah ditolak atau tidak diinginkan pasangannya lagi. Hal ini dapat berupa komunikasi yang kurang, perasaan cemas terus menerus serta merasa tidak puas dalam hubungan romantis tersebut. 

Sementara, si avoidant hobi mengirimkan mixed signals, yaitu sinyal-sinyal tidak jelas yang mengisyaratkan minat pada seseorang namun juga secara bersamaan menunjukan ketidakminatan pada orang itu dan keinginan untuk menjaga jarak. Contohnya seperti, memperhatikanmu dalam satu waktu tertentu namun tiba-tiba menjaga jarak seolah-olah tidak peduli lagi. Hal ini tentu menyebabkan kebingungan bagi lawan pasangannya dan bisa berujung pada toxic relationship

Si anxious kadang kesulitan untuk mengkomunikasikan kebutuhannya dengan baik sehingga seringkali over-acting, sementara 

Si avoidant kesulitan membaca sinyal implisit dan maksud dari over-acting si anxious. Terlebih, mereka juga merasa tidak mempunyai tanggung jawab untuk hal tersebut.

Pada dasarnya, si anxious dan avoidant mengekspresikan kebutuhan intimasinya dengan cara yang berbeda dan memiliki motivasi yang berbeda pula saat melihat hubungan romantis. Selain itu, avoidants kurang memiliki kemampuan yang baik dalam menghadapi dinamika yang ada dalam hubungan romantis, begitupun sebaliknya. 

Tanpa berusaha mengubah attachment style kalian menjadi lebih secure, akan sulit untuk mempertahankan hubungan yang harmonis dalam jangka panjang. 

Caranya mempertahankan keharmonisan dalam hubungan romantis terlepas apa attachment style kita 

Attachment style memang cenderung stabil dan konsisten, namun kabar baiknya, mereka dapat berubah! Jadi, semuanya tergantung dari individu itu sendiri, apakah ingin berubah untuk kebaikan diri sendiri dan hubungan romantisnya atau tidak, karena tentu, perubahan itu tidak mudah. 

Untuk avoidants dan anxious, mulailah untuk mengadopsi mindset orang-orang secure dalam menjalani hubungan romantis. 

1. Cari role model yang memiliki attachment style secure 

Perhatikan hal-hal yang mereka lakukan dan katakan dalam menjalani hubungan romantisnya. 

Bagaimana mereka menghadapi konflik dalam hubungan romantis?

Apa yang mereka abaikan dan tanggapi? 

Bagaimana mereka merespon ketika pasangannya sedang sedih? 

Setelah itu, refleksikanlah observasi itu pada hubungan romantismu sendiri. 

2. Mulailah dengan binatang peliharaan jika punya 

Tahukah kamu, hubungan kita dengan binatang peliharaan merupakan contoh hubungan yang secure, loh! Kita cenderung melihat hewan peliharaan dengan penuh cinta dan kasih sayang terlepas dari hal-hal menjengkelkan yang mereka lakukan. Coba amati perilakumu terhadap hewan peliharaanmu dan bagaimana perilaku tersebut dapat diterapkan dalam hubungan romantismu. 

3. Buat jurnal tentang hubungan romantismu

Layaknya journaling pada umumnya, kamu juga bisa menuliskan kebiasaan-kebiasaan anxious atau avoidant dalam hubungan romantis yang terus berulang. Dengan menuliskannya, kamu bisa jadi lebih sadar akan pola-pola habitual yang kurang efektif dan seiring waktu dapat mengubahnya ke pola secure yang lebih baik. 

Tentu, ada pasangan anxious-avoidant yang tetap bertahan untuk waktu yang lama dalam hubungan romantis mereka tanpa berusaha mengadopsi mindset secure. Hal ini memungkinkan, tapi kembali lagi ke diri masing-masing dan tujuan menjalani hubungan tersebut, apakah ingin berusaha meningkatkan keharmonisan dalam suatu hubungan, apa bertahan dan membiasakan diri dalam kondisi yang ada sudah cukup? 

Referensi: 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *