Olimpiade Tokyo 2020 cabang olahraga sepak bola putri telah dimenangkan oleh tim nasional Canada. Ia telah berhasil mengalahkan Swedia dalam adu penalti dengan skor 3-2. Final Euro 2020 sepak bola putra juga diwarnai dengan adanya adu penalti antara Italia dan Inggris. Italia berhasil keluar sebagai Juara Euro 2020 setelah adu penalti dengan skor 3-2.

Selama 90 menit pertandingan hingga perpanjangan waktu, kedua tim tersebut masih bertahan imbang dengan skor 1-1 maka dilakukan penalti untung menentukan siapa yang berhak memperoleh emas. Sama halnya dengan Italia dan Inggris yang bermain imbang 1-1 sampai pertandingan usai.  Nah, apakah penyebab Tim Nasional Canada dan Tim Nasional Italia menang karena Dewi Fortuna sedang berpihak padanya? Langsung saja simak penjelasan berikut ini.

7 Faktor Psikologis Penentu Keberhasilan Penalti

Banyak yang mengatakan bahwa faktor keberhasilan dalam adu penalti adalah keberuntungan. Namun, sejumlah penelitian di bidang Ilmu Olahraga menunjukkan bahwa faktor psikologis ikut berperan dalam keberhasilan adu penalti. Berikut ini adalah 7 faktor psikologis yang dapat mempengaruhi kemenangan dalam adu penalti:

1. Stress

Adu penalti sangat mempengaruhi tingkat stres dan kecemasan karena jumlah gol yang diperoleh menentukan menang atau tidaknya sebuah tim. Ditambah lagi ketika sebuah turnamen dianggap penting maka akan meningkatkan stres pada pemain.

Seperti contohnya yaitu Piala Dunia yang dianggap sebagai pertandingan paling bergengsi di seluruh dunia karena disaksikan oleh masyarakat dari berbagai negara. Hal tersebut pun terbukti oleh penelitian yang dilakukan oleh Jordek dkk (2007) dengan menganalisis tiga turnamen yaitu Piala Dunia, Liga Eropa dan Copa America menunjukkan bahwa semakin bergengsi sebuah turnamen maka semakin kecil kesuksesan tendangan penalti.

Kesempatan berhasil dalam tendangan penalti di turnamen Piala Dunia hanya sebesar 71% sedangkan Copa Amerika memiliki skor 82.7% dan Liga Eropa sebesar 84.6%. Semakin bergengsi sebuah turnamen maka akan semakin menegangkan. Jadi, tidak heran jika para pemain akan lebih stress jika harus menentukan nasib timnya di saat turnamen paling bergengsi.

2. Urutan penendang

Penelitian yang dilakukan oleh Jordek dkk (2007) menunjukkan bahwa adanya perbedaan kesuksesan pada penendang pertama hingga terakhir. Pemain yang melakukan tendangan pertama memiliki kesempatan berhasil sebesar 86%, pendang kedua sebesar 81.7%, penendang ketiga sebesar 79.3% dan penendang 4 sebesar 72.5%.

Tendangan 1-3 bukan tendangan yang menentukan hasil akhir karena kemenangan ditentukan oleh penendang urutan keempat dan seterusnya. Semakin penting peran penendang maka pemain merasa ada tanggung jawab besar yang perlu dilakukan. Hal ini lah yang dapat menyebabkan performa pemain menurun.

3. Response time

Response time adalah jarak waktu antara wasit membunyikan peluit hingga langkah pertama pemain ke arah bola. Adu penalti merupakan hal paling menegangkan dan penuh dengan tekanan maka menyebabkan pemain ingin cenderung segera melakukan tendangan agar perasaan tidak nyaman tersebut cepat berkurang atau hilang.

Adanya keinginan untuk segera menendang ternyata cenderung tidak membuahkan hasil yang baik karena menurut penelitian yang dilakukan oleh Jordet (2009) membuktikan bahwa semakin lama melakukan tendangan maka akan lebih berhasil mencetak gol. Pemain yang tidak tergesa-tergesa akan lebih siap untuk menendang sehingga kesempatan menang akan lebih lebar.

4. Status pemain

Mendengar nama pemain sepakbola top seperti Alex Morgan, Megan Rapinoe, Cristiano Ronaldo atau Lionel Messi pasti banyak orang menaruh harapan besar pada mereka. Tetapi kenyataannya para bintang sepak bola memiliki performa yang buruk dibanding para pemain yang bukan bintang.

Nampaknya, ekspektasi masyarakat terhadap pemain bintang menyebabkan adanya beban publik yang harus ditanggung (Jordet, 2009). Para pemain merasa ada tekanan masyarakat sehingga kurang bisa memberikan performa yang maksimal.

5. Selebrasi

Saat berhasil mencetak gol di gawang lawan sudah pasti pemain merasa sangat bahagia dan bangga. Sudah sangat lumrah sebagai pemain melakukan selebrasi setelah berhasil membobol gawang lawan.

Selebrasi dilakukan sebagai cara untuk mengekspresikan emosi positif. Adanya selebrasi tersebut dapat mempengaruhi performa penendang berikutnya (Moll, Jordet, & Pepping, 2010). Emosi positif tersebut tersalurkan kepada pemain satu timnya sehingga membuat pemain merasa lebih bergairah dan semangat.

6. Percaya diri dengan kemampuan

Sudah seharusnya atlet sepak bola memiliki kepercayaan diri pada kemampuannya karena sudah berlatih, mengenal kemampuan diri, dan mempersiapkan diri jauh hari sebelum pertandingan. Ketika pemain memiliki keyakinan atas kemampuan yang dimiliki maka dapat mempengaruhi tingkat cemas yang lebih rendah (Jordet, Elferink-Gemser, Lemmink, & Visscher, 2006). Tingkat kecemasan yang rendah akan membuat performa pemain akan lebih maksimal dan keberhasilan ada di depan mata.

7. Avoidance Motivation

Avoidcane motivation yaitu dorongan individu untuk menghindar dari stimulus negatif atau situasi mengancam. Contoh dari avoidance motivation dalam konteks adu penalti yaitu ketika pemain memalingkan muka dari penjaga gawang atau mempersiapkan pergantian pemain dengan cepat agar mempercepat waktu tunggu.

Pemain yang memiliki avoidance motivation cenderung tidak memperoleh hasil yang baik (Jordet & Hartman, 2008). Hal ini menunjukkan bahwa pemain ingin segera keluar dari kondisi tertekan menyebabkan ketidaksiapan untuk menendang bola.

Berdasarkan penjelasan diatas menunjukkan bahwa keberhasilan dalam adu penalti bukan karena faktor keberuntungan melainkan kondisi psikis para pemain. Jadi, apabila tim kesayangan anda gagal dalam adu penalti jangan salahkan Dewi Fortuna yang sedang tidak berpihak pada tim kesayangan Anda.

References

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *