shame

Memalukan! Mari Kita Belajar Tentang Shame atau Rasa Malu

“Ngapain kamu teriak-teriak nggak jelas? Malu-maluin saja kamu!”

Kita semua pasti pernah terlibat sesuatu yang memalukan dan membuat kita merasa kecewa, hancur, lemas, dan diasingkan dari orang lain. Emosi ini dibahasakan sebagai “rasa malu” atau shame lebih tepatnya dan sering digunakan dalam kehidupan kita. Emosi ini merupakan sesuatu yang secara ironis lekat dengan kita, sebuah makhluk sosial.

Jadi apa itu shame? Apa perbedaannya dengan rasa embarrassment? Terus apa perannya emosi ini dalam kehidupan sosial kita? Untuk itu, mari kita langsung saja masuk ke artikelnya.

Apa itu Shame? Apa perbedaannya dengan Embarrassed?

Mungkin kamu penasaran, rasanya shame itu kayak gimana ya? Shame itu seperti perasaan memalukan yang muncul karena kita terlihat buruk di mata orang lain, merasa kehilangan harga diri sebagai manusia, dan semacamnya.  

Shame adalah bentuk emosi yang lebih serius jika dibandingkan dengan embarassment. Perasaan shame muncul ketika kita bertanggung jawab atas kejadian yang serius, sedangkan embarrassed terjadi ketika kita tidak terlalu bertanggungjawab dan kejadiannya lebih kecil (Crozier, 2014).

Contoh konkritnya perasaan shame seperti ketika kita bertanggungjawab atas hilangnya pecahnya kaca milik tetangga. Contoh kejadian yang menimbulkan embarrassment lebih sepele, seperti tersandung, tidak sengaja menjatuhkan hape, dan semacamnya.

Jika dibandingkan secara langsung, kita bisa membedakan shame dengan embarassment dari; intensitas, durasi, keterlibatan pribadi dan landasan moralnya. Sedikit banyak ya pembedanya, tetapi ini perlu teman-teman karena perbedaannya tidak seperti langit dan bumi.

Shame adalah perasaan yang lebih intens (Ho, Fu, & Ng, 2004) dan menyayat hati (BABCOCK, 1988). Selain itu, intensitas dari perasaan shame mampu merusak kepercayaan diri dan identitas sosial seseorang (Zahavi, 2010). Jadi perasaan ini cukup intens dan mampu menimbulkan dampak-dampak negatif di konsep diri pada seseorang yang tidak mampu menanganinya.

Shame menjadi sosok emosi yang muncul karena melibatkan sebuah kegagalan seseorang dalam mencapai tingkat yang ideal (Miller, 1996). Contohnya seperti lelaki yang merasa kurang laki, karena dia kurang kuat, kurang tinggi, dan sebagainya. Jadi bisa terlihat bahwa shame muncul karena standar lingkungan orang tersebut.

Selain itu, shame juga terhubung dengan moralitas. Moralitas seseorang bisa berubah sesuai dengan kegiatan yang dilakukan dan menurunnya moralitas akan menunjukkan kurangnya moralitas orang itu (Miller, 1996). Fessler (2007) dalam Crozier (2014) menyebutkan bahwa perasaan shame memotivasi konformitas agar seseorang mengikuti standar moral budaya mereka.

Ho dkk (2004) juga menambahkan kalau proses membenarkan kesalahan yang menimbulkan rasa shameful itu lebih susah dibandingkan kesalahan yang membuat seseorang embarrassed.

Ciri-Ciri Fisik Rasa Shame

Semua yang kita rasakan didalam mental kita pasti akan terlihat dari luar. Ada tanda-tanda non-verbal yang bisa membantu kita mengenali dan memahami setiap emosi. Contohnya seperti saat seseorang marah, bisa terlihat kalau mereka mengernyitkan dahi, tatapan mata menjadi tajam, tangan mulai dikepalkan, dan lain-lainnya. Secara kasar, setiap emosi memiliki tanda-tanda yang dialami, dirasakan, atau dilakukan oleh semua orang.

Jadi apa tanda-tanda seseorang merasakan shame?

Menariknya, shame tidak memiliki raut wajah yang khusus (Fergusson & Stegge 1995). Namun, beberapa ekspresi non-verbal yang umumnya menandakan rasa shame berupa: menghindari kontak mata, kepala menunduk, bahu yang merosot, dan postur tubuh yang roboh (Keltner & Harker 1998). Karena tidak adanya ekspresi non-verbal yang khusus, emosi ini susah dipastikan di orang. Sangat berbeda dari emosi lainnya seperti sedih, yang bisa terlihat pada seseorang yang menangis.

Keltner & Harker (1998) juga menemukan kalau akurasi seseorang dalam mengidentifikasi rasa shame hanya sebesar 50-60%. Jadi kita, para pengamat memiliki kemungkinan besar untuk salah menebak seseorang yang sedang merasa ashamed.

Penutup

Secara singkat, shame merupakan emosi yang intens dan memiliki dampak berkepanjangan kepada orang yang bersangkutan. Emosi ini juga tidak mudah dikenali pada orang lain, karena sedikitnya pertanda non-verbal yang khas.

Sayangnya, kebanyakan hal yang berkaitan dengan sesuatu yang memalukan memang jarang dibahas. Masalahnya, topik-topik seperti itulah yang masih perlu dijelajahi dan dipelajari. Artikel kali ini mengenai shame hanyalah satu diantara banyaknya topik psikologi yang memerlukan pembaharuan.

Semoga artikel ini bisa membantu kamu dalam memahami emosi shame secara umum. Saya juga sangat menyarankan kalian yang masih penasaran untuk membaca sumber-sumber yang saya lampirkan karena lebih lengkap dan spesifik.

References

  • BABCOCK, M. K. (1988). Embarrassment: A Window on the Self. Journal for the Theory of Social Behaviour, 18(4), 459–483. https://doi.org/10.1111/j.1468-5914.1988.tb00510.x
  • Crozier, W. R. (2014). Differentiating Shame from Embarrassment. Emotion Review, 6(3), 269–276. https://doi.org/10.1177/1754073914523800
  • Ferguson, T. J., & Stegge, H. (1995). Emotional states and traits in children: The case of guilt and shame. dalam J. P. Tangney & K. W. Fischer (Eds.), Self-conscious emotions: The psychology of shame, guilt, embarrassment, and pride (pp. 174–197). Guilford Press.
  • Ho, D. Y.-F., Fu, W., & Ng, S. M. (2004). Guilt, Shame and Embarrassment: Revelations of Face and Self. Culture & Psychology, 10(1), 64–84. https://doi.org/10.1177/1354067×04044166
  • Keltner, D., & Harker, L. (1998). The forms and functions of the nonverbal signal of shame. In P. Gilbert & B. Andrews (Eds.), Shame: Interpersonal behaviour, psychopathology, and culture (pp. 78–98). New York, NY: Oxford University Press.
  • Miller, R. S., & Tangney, J. P. (1994). Differentiating Embarrassment and Shame. Journal of Social and Clinical Psychology, 13(3), 273–287. https://doi.org/10.1521/jscp.1994.13.3.273

Entri ini ditulis di Emosi pada oleh K. Lintang Mahadewa.

Tentang K. Lintang Mahadewa

Saat ini, Lintang Mahadewa adalah mahasiswa psikologi di UGM. Karena merasa bosan dan ingin mencari pengalaman, Lintang saat ini menjadi content writer dan ghostwriter dengan jumlah artikel 50+. Lintang mengetik dengan sudut pandang ketiga, karena membuatnya merasa lebih nyaman dan tidak cringe. Namun, akan ada saat dimana Lintang “merasa humoris” dan melontarkan lelucon ala bapak-bapak.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *