Image default

‘Si Penolong’: Mengenal Perilaku Altruisme dalam Psikologi

Apakah kamu pernah berada di situasi yang membutuhkan pertolongan? Pasti rasanya penuh harap dan merupakan kondisi yang tidak mudah. Kondisi ini akan terasa lebih baik ketika seseorang hadir dan memberikan pertolongan.

Perilaku baik hati dan memberikan pertolongan kepada orang lain tersebut disebut dengan perilaku altruisme dalam psikologi. Tak jarang seseorang yang melakukannya kadang dijuluki sebagai ‘si penolong’, atau bahkan ‘si baik hati’.

Sebenarnya apa sih yang terjadi dengan sikap ‘si penolong’ ini? Yuk, kita simak lebih lanjut apa itu! 

Mengenal Altruisme

Altruisme merupakan sebuah istilah yang diperkenalkan pertama kali oleh seorang sosiologis yakni Auguste Comte dalam karyanya “Catechisme Positiviste”. Auguste Comte menjabarkan Altruisme dari kata “alteri” yang berarti orang lain, sehingga altruisme adalah sebuah perbuatan yang berorientasi kepada orang lain. Auguste Comte menyebutkan hal ini berbeda dengan egois, yang mengedepankan perbuatan berorientasi kepada diri sendiri. 

Istilah Altruisme juga dapat dijelaskan menurut psikologi. Kamus American Psychological Association (APA) menjelaskan altruisme sebagai sebuah sikap dan perilaku ketika seseorang tidak mementingkan dirinya sendiri dan memberikan manfaat ataupun bantuan kepada orang lain. Altruisme termasuk dalam bagian perilaku prososial yang mengacu pada tindakan yang menguntungkan orang lain tanpa adanya motif terkait dengan tindakan atau perilaku yang diberikan.

Dalam sikap dan perilaku altruisme terdapat nilai-nilai kesukarelaan yang membuat individu tersebut tetap menolong atau memberikan bantuan tanpa adanya pemilihan maupun balasan dari penerima manfaat. Pada beberapa situasi, tak jarang perilaku altruisme memiliki risiko dan cenderung membahayakan dirinya sendiri.

Yuk, selengkapnya kita coba pelajari lebih lanjut perihal tindakan altruisme ini!

Kenapa Seseorang Melakukan Tindakan Altruisme?

Sikap dan perilaku altruisme sebenarnya telah lama menjadi perdebatan apakah kondisi tersebut bersifat alamiah atau merupakan kecenderungan alami yang dipengaruhi oleh genetika. Namun ada beberapa faktor yang jelas mempengaruhi hadirnya perilaku altruisme pada seseorang. Myers (2012) menjelaskannya sebagai berikut:

A. Faktor Internal

1. Imbalan (reward)

Imbalan atau reward menjadi salah satu motivasi untuk menolong seseorang. Imbalan dapat berbentuk motivasi internal maupun eksternal ketika seseorang menolong orang lain, namun dalam hal ini, imbalan yang hadir dan mempengaruhi dari dalam diri seseorang ialah ketika Ia mengetahui bahwa ketika Ia menolong, Ia akan merasa lebih tenang dan bahagia. Apakah kamu pernah melakukan hal yang sama?

2. Empati

Kepedulian empati dimiliki oleh setiap individu. Hal ini dapat mendorong individu untuk menolong seseorang lainnya tanpa memikirkan keuntungan maupun perhitungan tertentu. Melalui tindakan menolong yang didasarkan pada sifat empatik seseorang akan menolong karena turut dapat merasakan apa yang dirasakan oleh orang lain. 

B. Faktor Personal

1. Kepribadian

Kepribadian menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi perilaku altruisme pada seseorang. Einsberg (dalam Myers, 2012) menyebutkan bahwa seseorang yang memiliki emosi positif, empati maupun efikasi diri yang tinggi adalah seseorang yang cenderung memiliki dorongan untuk melakukan tindakan altruisme yang jauh lebih tinggi dibandingkan individu lainnya.

Hal ini selaras dengan faktor internal berupa sifat empatik yang dimiliki oleh individu yang cenderung lebih mendorongnya untuk dapat memahami dan turut merasakan apa yang dirasakan oleh orang lain terutama yang membutuhkan bantuan. 

2. Religiusitas

Pada dasarnya seluruh ajaran agama mengajarkan tentang pentingnya untuk menolong sesama. Agama juga mendorong umatnya untuk dapat melakukan tindakan-tindakan kebajikan maupun mendorong pada tindakan altruisme melalui ajaran dan ibadah yang terdapat dalam agama tersebut. Hal ini membuat seseorang yang memiliki pemahaman agama yang baik dapat melakukan tindakan altruisme dengan jauh lebih baik.

C. Faktor Situasional 

1. Model

Faktor situasional yang dapat mendorong seseorang untuk dapat menolong orang lain adalah model. Dalam hal ini, model bukan berarti adalah seorang pramugari atau pramugara yang kemudian menolong seseorang. Bukan yaa! Namun, model dalam hal ini ditujukan pada ketika seseorang melakukan tindakan altruisme karena melihat seseorang lainnya melakukan hal serupa. Kondisi ini mendorong individu untuk menjadikan individu tersebut model atau rujukannya sehingga melakukan hal yang serupa. Makanya, tak jarang kita mendengar istilah “kebaikan dapat ditularkan”

2. Tekanan Waktu

Waktu ternyata termasuk dalam salah satu faktor situasional yang dapat mempengaruhi seseorang untuk melakukan tindakan altruisme. Seseorang yang dapat menolong orang lain adalah seseorang yang mau dan mampu untuk meluangkan waktunya untuk memberikan pertolongan. Sehingga dalam hal ini disebutkan dalam temuan Darley dan Batson (Myers, 2012), bahwa seseorang yang sedang tidak memiliki waktu atau dalam kondisi terburu-buru, cenderung tidak menawarkan bantuan kepada seseorang yang membutuhkan bantuan.

3. Adanya kesamaan

Kesamaan atau familiaritas merupakan faktor situasional yang dapat mendorong individu melakukan tindakan altruisme. Bias kesamaan ini dapat terjadi karena individu tersebut merasa kenal maupun dekat dengan adanya kesamaan yang dimiliki satu sama lain. Kondisi ini juga dapat digambarkan melalui bagaimana seseorang lebih mungkin untuk menolong seseorang yang memiliki ikatan atau hubungan dengan dirinya dibandingkan seseorang yang tidak dikenali. 

Tipe-tipe Perilaku Altruisme

Perilaku altruisme ternyata terbagi dalam beberapa tipe. Tipe-tipe ini dibedakan terutama berdasarkan latar belakang maupun motivasi yang melandasi tindakan altruisme yang dilakukan individu tersebut.

1. Altruisme Genetik

Altruisme genetik ditujukan pada seseorang yang cenderung melakukan tindakan altruisme kepada keluarganya sendiri. Dalam hal ini seseorang memberikan bantuan sebagai bentuk bakti dan upaya pemenuhan kebutuhan keluarganya. 

2. Altruisme Timbal Balik

Altruisme timbal balik merupakan kondisi ketika seseorang memberikan bantuan kepada seseorang lainnya sebagai bentuk hubungan yang mutual dan menguntungkan satu sama lain. Dimana dalam hal ini seseorang memberikan pertolongan kepada orang lain karena mungkin suatu saat ia juga akan membutuhkan bantuan.

3. Altruisme Seleksi 

Tipe tindakan altruisme ini disebut juga dengan group-selected altruism.  Hal ini didasarkan untuk seseorang yang umumnya melakukan tindakan altruisme pada kelompok yang berafiliasi dengan dirinya. Perilaku atau tindakan altruisme tersebut ditujukan untuk membantu seseorang yang berasal dari kelompoknya sebagai bentuk dukungan sosialnya terhadap kelompok tersebut.

4. Altruisme Moral 

Altruisme ini disebut juga dengan pure altruism. Kondisi ini selaras dengan pengertian altruisme yang telah dijabarkan sebelumnya, bagaimana seseorang memberikan bantuan kepada seseorang lainnya tanpa adanya maksud dan tujuan tertentu (without reward), bahkan dalam kondisi berisiko sekalipun. Hal ini didasarkan karena adanya motivasi internal berupa nilai dan moral yang diyakini oleh seseorang tersebut. 

Manfaat Perilaku Altruisme

Manfaat dari perilaku altruisme tidak hanya diterima oleh si penerima pertolongan atau bantuan, namun juga akan menghadirkan manfaat kepada seseorang yang memberikan bantuan tersebut!  Adapun beberapa manfaat dari perilaku altruisme di antaranya adalah: 

1. Kesehatan yang lebih baik baik secara mental maupun fisik 

Penelitian menunjukkan bahwa seseorang yang gemar memberikan pertolongan atau melakukan tindakan altruisme akan mengalami peningkatan kebahagiaan setelah melakukan hal-hal baik untuk orang lain. Kondisi ini dapat berdampak pada peningkatan kesehatan baik secara fisik maupun mentalmu, lho!

2. Mendorong terbentuknya hubungan relasi yang baik dan terbentuknya dukungan dari sosial 

Terdapat pepatah yang menyebutkan “Apa yang kau tanam, itu yang kau tuai”, hal ini dapat berlaku pada seseorang yang gemar menolong seseorang. Mereka akan menuai apa yang mereka tabur dalam bentuk bantuan maupun dukungan sosial dari orang lain. Seseorang yang gemar menolong umumnya akan dapat menjalin hubungan relasi yang baik sehingga dapat mendorong terciptanya dukungan sosial bagi dirinya pula. 

Jangan lupa ingat batasanmu, ya!

Kegiatan menolong orang lain merupakan hal yang sangat mulia dan baik untuk dilakukan secara berkelanjutan. Kebahagiaan dalam menolong orang lain turut memberikan andil dan kebahagiaan kepada diri kita sendiri. Tak heran ada quotes yang menyebutkan bahwa, “Menolong orang lain adalah menolong diri sendiri”.

Meskipun begitu, ada hal yang tetap harus diperhatikan yakni dirimu sendiri juga. Menolong adalah bentuk kesukarelaan dan memiliki konsep saling membahagiakan, baik dirimu maupun pihak yang mendapatkan pertolongan. Namun, hal yang harus diingat adalah bahwa kita tidak bisa terus menolong semua orang. Oleh karena itu, jangan lupa untuk menjaga dirimu juga,ya!

Referensi

  • Darity, Jr., William A., ed. (2008). “Altruism”. International Encyclopedia of the Social Sciences. Vol. 1 (2nd ed.). Detroit: Macmillan Reference USA. pp. 8
  • Sarwono, Sarlito. 1999. Teori-Teori Psikologi Sosial. Jakarta: Raja Grafindo Persada
  • Myers, David G. 2012. Psikologi Sosial. Jakarta: Salemba Humanika.

Artikel Terkait

Leave a Comment