Belakangan ini, berita mengenai Afi Nihaya yang diisukan memiliki alter ego di Twitter dengan nama Natalie menimbulkan kehebohan warganet. Namun sebetulnya, seseorang yang memiliki identitas berbeda di internet dengan di dunia nyata sudah sangat umum, apalagi kalau berkenaan dengan dunia gaming.

Sebagai salah satu orang yang aktif di Discord dan Reddit, penulis sudah sering bertemu dengan orang-orang yang menggunakan nama yang berbeda dengan nama aslinya di dunia nyata. (Bahkan, tak jarang ada profile picture yang berbeda dengan foto aslinya).

Tapi, kalau dipikir-pikir, mengapa banyak orang yang melakukan itu? Mengapa alter ego banyak dipakai di media sosial? Apakah alter ego itu berbahaya?

Mari simak jawabannya melalui artikel berikut ini!

Apa Itu Alter Ego?

Sebelum kita membahas tentang apa alasan seseorang menggunakan alter ego, mari kita tinjau terlebih dahulu apa definisinya.

Pengertian Umum

Alter ego, menurut Merriam-Webster, adalah “tiruan seseorang” atau “versi kedua” dari orang tersebut. Sebagai contoh, mungkin kalian pernah menonton The Batman atau semua film Spider-Man, bukan? Dalam film The Batman, tokoh Batman adalah alter ego dari pengusaha kaya Bruce Wayne, sisi lain yang dikenal sebagai pemberantas kejahatan di kota Gotham. Begitu pula Spider-Man adalah alter ego Peter Parker, pelajar yang culun dan tidak populer. Lalu, bagaimana dengan pendapat dari sisi psikologi?

Alter Ego dalam Psikologi

Menurut psikiater Mario Berta, alter ego terlahir secara alamiah dalam diri manusia. Sebab, setiap orang yang memiliki identitas diri pasti juga akan memiliki “sisi lain” yang diproyeksikan ke luar dirinya melalui perilaku tertentu. Nah, perbedaannya orang yang sehat mental dengan yang tidak adalah cara mereka mengendalikan alter ego tersebut.

Berta menulis bahwa orang yang sehat mental akan menggunakan alter ego untuk berkarya dan mengekspresikan kreativitasnya. Sementara orang yang tidak sehat mental akan lari atau tidak berani mengonfrontasi “sisi lain” dari dirinya tersebut. Alhasil, mereka akan terperangkap dalam ketakutan akan “sisi lain” tersebut.

Bisa dibilang, pernyataan yang diungkapkan Berta ini mirip dengan kasus Bruce Banner yang ketakutan waktu pertama kalinya berubah jadi Hulk. Dengan kata lain, alter ego seseorang bisa dikaitkan dengan konteks gangguan mental apabila alter ego tersebut sepenuhnya mengubah kepribadian seseorang di bawah kesadarannya.

Bruce Banner, misalnya, saat berubah menjadi Hulk, sebagian besar kesadarannya hilang. Ia benar-benar menjadi dua pribadi yang berbeda. Berbeda dengan Bruce Wayne atau Peter Parker yang berubah menjadi Batman atau Spider-Man dengan sadar.

Lalu, pertanyaannya, apakah orang yang memiliki alter ego pasti mengidap gangguan kepribadian disosiatif alias kepribadian ganda?

Alter Ego Belum Tentu Gangguan Mental

Apabila pertanyaan di atas ditinjau dari pengertian alter ego secara umum, jawabannya adalah TIDAK. Sebab, orang yang memiliki alter ego memang sengaja menciptakan identitas lain tersebut untuk mencari keuntungan atau berkreasi.

Tetapi, hal ini juga bergantung pada gejala psikologis yang dialami seseorang yang memiliki alter ego tersebut.

Dilansir dari WebMD, gangguan kepribadian disosiatif atau DID adalah kondisi psikologis yang kompleks, di mana seseorang memiliki dua atau lebih kepribadian yang berbeda. Gangguan ini disebabkan oleh banyak faktor, salah satunya trauma parah selama masa kanak-kanak (biasanya kekerasan fisik, seksual, atau emosional yang ekstrem, berulang-ulang).

Gejala Umum DID

Gejala-gejala umum yang dialami pengidap DID antara lain:

1. Depersonalisasi

Artinya, seseorang yang mengidap DID akan cenderung tidak memiliki kesadaran diri saat kepribadiannya berubah. Ingat tokoh Kevin dalam film Split? Kira-kira seperti itulah kondisi depersonalisasi yang dialami Kevin. Ia mengalami momen di mana ia merasa “dikeluarkan” dari tubuhnya, sementara kepribadian lainnya mengakuisisi tubuhnya tersebut.

2. Amnesia

Kalian sudah bisa menebaknya, bukan? Seorang pengidap DID akan cenderung tidak mengingat situasi yang dialami selama menjadi kepribadiannya yang lain. 

3. Kebingungan identitas diri

Selama mengalami DID, seseorang akan merasa tidak yakin dengan siapa dirinya, apa yang dia sukai, bahkan pandangan politik maupun spiritualnya juga akan terombang-ambing.

4. Derealisasi

Orang yang mengidap DID akan merasa hidup dalam “alam mimpi,” sehingga tidak memiliki kemampuan membedakan antara objek atau kejadian yang nyata dengan yang tidak nyata.

Nah, berkaitan dengan kasus alter ego yang dimiliki Afi Nihaya, kita tidak bisa asal menilai tentang kondisi psikologis yang dialami oleh yang bersangkutan, kecuali apabila baik Afi maupun Natalie memiliki gejala-gejala seperti yang diuraikan di atas. Selain itu, penilaian ini harus dilakukan oleh psikolog melalui kajian menyeluruh sebelum mendiagnosis gangguan mental apa pun.

Alter Ego di Media Sosial

Tadi kita sudah bicara soal pengertian umum dan pendapat psikologi soal alter ego. Sekarang, mari kembali pada konteks media sosial, karena kasus yang sedang hype ini terjadi di Twitter.

Dikutip dari buku An Introduction to Cyberpsychology oleh Connolly (2016), kehidupan di dunia maya rata-rata dijalani orang-orang sebagai anonim. Maksudnya, selama berada di media sosial, kita akan cenderung tidak mengetahui dengan pasti identitas siapapun yang berinteraksi dengan kita. Bahkan, teman-teman kita sekalipun juga belum tentu menunjukkan sisi autentik dari diri mereka.

Maka dari itu, media sosial dianggap menjadi sarana seseorang untuk mengaktualisasikan diri, salah satunya dilakukan dengan membangun persona baru yang unik. Definisi persona adalah suatu sisi dari diri kita yang ditunjukkan kepada orang lain. Lantas, para influencer, selebriti, bahkan politisiakan menggunakan alter egonya, atau persona barunya, untuk berusaha memberi pengaruh bagi follower-nya sekaligus membangun koneksi yang dapat diterima oleh warganet (Arnaboldi, 2017).

Contoh Influencer yang Memiliki Alter Ego

Mari kita ambil contoh pertama dari Miranda Sings, alter ego Colleen Ballinger yang dibuatnya melalui channel YouTube. Miranda Sings dan Colleen adalah dua persona yang berbeda. Colleen adalah seorang wanita yang sering membuat vlog kehidupan sehari-hari, sementara Miranda adalah komedian yang punya suara fals saat bernyanyi dan mengenakan make up menor.

Berkat alter egonya ini, Colleen menjadi terkenal dan diundang ke berbagai acara televisi sebagai bintang tamu. Miranda yang awalnya hanya menjadi komedian pun resmi menjadi influencer bagi creator lain untuk berkarya melalui YouTube. Bahkan, kepopuleran Miranda Sings menyaingi para selebriti Hollywood pada masanya.

Contoh alter ego influencer lainnya yang tak kalah famous di internet adalah Arif Muhammad dengan Mak Beti. Sebetulnya, Mak Beti adalah karakter sketsa komedi yang diperankan oleh Arif di channel YouTube-nya. Namun lama kelamaan, karakter tersebut menjadi sangat terkenal dan menjadi identitas lain yang dibawakan oleh Arif Muhammad, bahkan sekarang sudah memiliki brand sendiri. Meskipun demikian, Arif tidak sampai membuat channel baru untuk Mak Beti, layaknya Colleen Ballinger dan Miranda Sings.

Kesimpulan

Alter ego atau “sisi lain” dari diri kita bukanlah gejala mengidap gangguan kepribadian disosiatif, melainkan sesuatu yang lumrah terjadi, apalagi jika berkaitan dengan membangun persona baru di dunia maya. Meskipun demikian, gejala-gejala gangguan kepribadian disosiatif atau DID juga wajib diwaspadai. Orang yang mengidap DID membutuhkan pertolongan profesional. Jadi, apabila kamu atau rekan terdekatmu menunjukkan gejala-gejalanya, kamu wajib menghubungi psikolog terdekat untuk mengkonsultasikan masalah tersebut.

Referensi:

Arnaboldi, V., et. al. (2017). Structure of Ego-Alter Relationships of Politicians in Twitter. Journal of Computer-Mediated Communication, 22(5), 231–247, doi:10.1111/jcc4.12193

Berta, M. (1999). The “alter ego” in psychiatry. Supplement, 354. doi:10.1016/S0140-6736(99)90398-7

Connolly, I., et. al. (2016). An Introduction to Cyberpsychology. London: Routledge.

Merckelbach, H., et. al. (2002). Alters in dissociative identity disorder. Clinical Psychology Review, 22, 481-497. doi:10.1016/S0272-7358(01)00115-5

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *