Sebagian besar masyarakat, terutama mereka yang awam dan tidak mengetahui ilmu psikologi secara mendalam, sering melihat disiplin ini sebagai ilmu yang dekat dengan paranormal dan dianggap mampu membaca pikiran serta gerak-gerik orang. Namun demikian, sejatinya orang-orang yang mendalami psikologi tidak memiliki kemampuan seperti anggapan masyarakat awam.

Para mahasiswa, ilmuwan, maupun praktisi di bidang psikologi memiliki alat tes psikologi berupa seperangkat skills and tools tertentu untuk dapat menilai dan/atau mendiagnosa suatu kondisi. Hal ini sama seperti seorang dokter yang perlu melakukan beragam pemeriksaan seperti rontgen, pengecekan sampel darah dan sebagainya sebelum menegakkan diagnosa serta menentukan pengobatan untuk pasien.

Asesmen Psikologi

Secara umum, terdapat tiga keterampilan asesmen yang penting dimiliki oleh seorang ilmuwan dan/atau praktisi psikologi untuk mengetahui kelainan atau karakteristik pada diri seseorang yaitu: asesmen melalui wawancara, observasi dan psychological testing. Asesmen melalui wawancara serta observasi tidak memerlukan peralatan khusus dalam pelaksanaannya. Hal tersebut dikarenakan pewawancara serta pelaku observasi atau observer sendiri yang menjadi alat dalam melakukan asesmen.

Berbeda dengan asesmen melalui wawancara dan observasi, asesmen berupa psychological testing atau tes psikologis memerlukan alat khusus yang terstandarisasi dalam pelaksanaannya. Psychological testing didefinisikan sebagai Setiap pelaksanaan tes psikologis memerlukan alat atau instrumen yang berbeda-beda yang biasanya disesuaikan dengan kondisi individu karena alat tes psikologi tidak memiliki sifat one-size-fit-all (Eabon & Abrahamson, 2013).

Alat Tes Psikologi

Banyaknya alat tes psikologi yang ada memunculkan pengelompokan alat tes yang didasarkan pada kategori tertentu. Pengelompokan ini bertujuan untuk mempermudah praktisi maupun ilmuwan untuk memilih alat tes psikologi yang paling sesuai untuk digunakan, seperti akan mengukur apa, bagaimana cara penggunaannya, mengapa sebuah alat digunakan hingga bagaimana skoringnya (Institute of Medicine (IOM), 2015). Meskipun dikelompokkan berdasarkan kategori tertentu, IOM (2015) menegaskan bahwa pengelompokan ini tidak bersifat mutlak dalam membedakan satu alat dengan alat yang lain karena overlapping antar kategori masih terjadi.

Berikut terdapat 10 contoh macam-macam alat tes psikologi yang digunakan praktisi untuk melakukan asesmen klien. Terdapat pula penjelasan singkat mengenai kegunaan masing-masing tes untuk memberikan gambaran kegunaan.

1. Kuder Preference Record

Tes Kuder preference record merupakan salah satu alat tes psikologi yang pertama kali dipublikasikan pada tahun 1938 oleh Frederic Kuder (Kuder, 1938). Penggunaannya bertujuan untuk mengungkap minat individu pada sepuluh area kerja yang diurutkan dari mana yang paling disukai hingga paling tidak disukai.

Kesepuluh minat kerja yang diukur pada alat tes psikologi ini adalah outdoor, art, music, computational, social service, science, clerical, persuasive, literary dan mechanical (Kuder Preference Record – APA Dictionary of Psychology, t.t.). Umumnya tes Kuder Preference Record ini diberikan untuk klien.

2. Myers-Briggs Type Indicators

Alat ukur psikologi yang disingkat menjadi MBTI ini merupakan salah satu alat yang bertujuan untuk melakukan asesmen kepribadian individu. MBTI pertama kali dikembangkan oleh Isabel Briggs Myers sekitar tahun 1940-an dan berdasarkan the theory of psychological types yang dicetuskan oleh Carl G. Jung pada tahun 1920-an (The Myers & Briggs Foundation, t.t.; Feist & Feist, 2009).

The Myers & Briggs Foundation (t.t.) MBTI menambahkan bahwa alat tes ini dikembangkan dengan dua tujuan. Pertama bertujuan untuk mengidentifikasi basic preference dari 4 dikotomi yang dicetuskan Jung pada teorinya yakni Extraversion-Introversion, Sensing-Intuition, thinking-feeling, judging-perceiving. tujuan kedua yakni mengidentifikasi dan mendeskripsikan 16 tipe kepribadian berdasarkan interaksi keempat dikotomi yang ada, seperti INFJ, ESFP, ENTJ, ISTP dan seterusnya.

3. Thematic Apperception Test

Thematic Apperception Test atau TAT merupakan satu dari sekian banyak alat tes kepribadian yang paling sering digunakan terutama dalam setting klinis. TAT merupakan salah satu contoh dari alat tes kepribadian proyektif yang dikembangkan oleh Henry Murray dan Christiana Morgan pada tahun 1935.

Tes proyektif sendiri merupakan sebuah set dari stimulus terstandar yang digunakan untuk memproyeksikan hal-hal yang tidak bisa dilihat melalui alat tes yang lebih terstruktur (Silverman, 1990).

Di dalam TAT terdapat 30 kartu gambar achromatic yang dibagi kedalam beberapa kategori seperti gambar yang sesuai untuk anak laki-laki, anak perempuan, wanita, dan pria. Pada saat pelaksanaannya, klien diminta untuk mendeskripsikan pikiran dan perasaan karakter yang ada di dalam gambar (Silverman, 1990).

4. Rorschach Inkblot Test

Tes rorschach merupakan alat tes psikologi proyektif yang dikembangkan oleh Hermann Rorschach pada tahun 1921. Alat ini banyak digunakan di setting klinis dan sejak awal memang dikembangkan karena terinspirasi dari pasien skizofrenia yang menginterpretasikan apa yang mereka lihat dengan cara yang berbeda (Inkblot test: Harrower-Erickson Multiple Choice Rorschach Test, t.t.).

Alat tes psikologi ini dikembangkan untuk mengidentifikasi ada tidaknya kelainan mental pada individu. Sama seperti namanya, tes kesehatan mental ini menggunakan stimulus berupa bercak tinta yang mana klien atau individu diminta untuk mendeskripsikan bercak tinta tersebut.

5. Wartegg Drawing Completion Test

Alat tes psikologi untuk rekrutmen Wartegg Drawing Completion Test (WDCT) pertama kali dicetuskan oleh Ehrig Wartegg sekitar tahun 1920an hingga 1930an yang berakar pada teori psikologi gestalt (Roivainen, 2009). Instrumen ini merupakan salah satu instrumen psikologi yang berbentuk semi terstruktur dimana individu diminta untuk melanjutkan stimulus gambar yang sudah tersedia.

Hasil dari penerapan tes ini digunakan untuk menilai atau mengevaluasi kepribadian individu dengan cara memproyeksikan isi dan dinamika spesifik dari kepribadian yang bersangkutan (Rapaport dalam Crisi & Dentale, 2016). Tes Wartegg sering sekali diberikan saat wawancara pekerjaan.

6. WAIS

Wechsler Adult Intelligence Scale atau WAIS merupakan salah satu alat tes psikologi yang digunakan untuk mengukur secara komprehensif kemampuan kognitif seperti IQ dan membantu perencanaan serta penempatan pendidikan individu remaja maupun dewasa. Alat ini terdiri dari lima belas subtes, dari lima belas subtes yang ada terbagi menjadi sepuluh subtes utama dan lima subtes tambahan. Berikut ini beberapa contoh subtes WAIS seperti digit span, comprehension, arithmetic, vocabulary dan masih banyak lagi.

Tidak hanya digunakan untuk pengukuran di bidang pendidikan, alat ukur psikologi ini dapat digunakan untuk mendukung proses asesmen lainnya. Drozdick dkk (2013) menjelaskan bahwa hasil pengembangan terkini dari WAIS dapat juga digunakan sebagai alat asesmen untuk menilai kemampuan kognitif individu yang mengalami gangguan perkembangan, psikiatris, neurologis, maupun gangguan kesehatan lainnya (Wechsler, 2008).

Tentu saja tujuannya hanyalah untuk asesmen, bukan bertujuan meningkatkan IQ.

7. Stanford-Binet Intelligence Test

Alat ukur psikologi Stanford-Binet Intelligence Test merupakan instrumen pengukuran intelegensi terstandarisasi yang digunakan sejak tahun 1916. Stanford-Binet Intelligence Test pertama kali di dicetuskan oleh Alfred Binet dan Theodore Simon di Perancis. Sejak awal pengembangan alat tes psikologi inteligensi ini digunakan untuk mengukur kekuatan dan kelemahan kognitif individu, baik anak-anak, remaja maupun dewasa.

Alat tes psikologi ini mendapatkan banyak perhatian dari komunitas psikologi dari berbagai penjuru dunia dan diadaptasi ke dalam beberapa bahasa. Salah satunya diadaptasi oleh Lewis M. Terman dari University of Stanford ke dalam bahasa Inggris. Alat tes ini terdiri atas 10 subtes untuk mengukur lima faktor kognitif dalam diri individu yaitu fluid reasoning, knowledge, quantitative, visual-spatial, dan working memory (Roid, t.t.).

8. Stroop Color and Word test

Stroop Color and Word Test (SCWT) adalah salah satu alat tes psikologi yang mengukur aspek neuropsikologis individu. Alat tes ini banyak digunakan untuk melihat kemampuan individu dalam menghambat gangguan kognitif yang terjadi saat pemrosesan fitur stimulus tertentu mengganggu pemrosesan atribut stimulus kedua secara simultan atau stroop effect (Scarpina & Tagini, 2017).

Instrumen SCWT terdiri atas tiga bagian yaitu word page (nama-nama warna tercetak dalam tinta hitam), color page (deret yang terdiri dari beberapa huruf X yang dicetak dengan tinta warna), dan word-color page (kata-kata pada word page dicetak dengan warna pada color page (Stroop – Subject Baseline, t.t.; Stroop, 1935). Hasil dari pengukuran alat tes psikologi ini dapat digunakan untuk mengetahui abnormalitas pada individu, seperti adanya keterlambatan perkembangan, gangguan bicara, hingga mendeteksi adanya kelainan pada otak (Stroop – Subject Baseline, t.t.).

9. Trail Making Test

Selain Stroop word and color test, alat tes yang mengukur aspek neuropsikologis yang paling sering digunakan adalah Trail making test atau TMT. Secara spesifik, penggunaan TMT bertujuan untuk menilai executive function (seperangkat kemampuan kognitif yang diperlukan untuk mengontrol diri dan perilaku) individu (Low, 2020; Marvin, 2012).

Tes yang terdiri dari dua bagian ini banyak digunakan di setting klinis, seperti mengevaluasi kondisi individu stroke (Marvin, 2012) hingga setting pendidikan untuk screening kondisi siswa dengan kesulitan membaca (Närhi dkk., 1997).

10. AJT Cognitive Test

Alat tes psikologi AJT atau tes kognitif AJT merupakan salah satu instrumen yang dikembangkan di Indonesia dengan menyesuaikan budaya dan aspek-aspek lain yang ada. Alat tes ini dikembangkan atas kerjasama Fakultas Psikologi UGM dengan Yayasan Dharma Bermakna dan PT Melintas Cakrawala Indonesia (Fakultas Psikologi UGM Kembangkan Tes untuk Deteksi Potensi Anak, 2018).

Alat ukur psikologi yang dikembangkan menggunakan dasar teori kecerdasan caren-horn-cattell ini digunakan untuk mendeteksi potensi anak sejak dini dengan memperhatikan budaya Indonesia (Humas, 2019). Alat tes ini mengukur kemampuan kognitif anak secara lebih komprehensif dengan mengukur delapan aspek kecerdasan yakni efisiensi belajar, kecerdasan cair, memori kerja jangka pendek, auditory processing, visual-spatial processing, kefasihan penerimaan, kecepatan pemrosesan dan pemahaman pengetahuan (Humas, 2019).

Demikian sepuluh contoh alat tes psikologi beserta kegunaannya. Meskipun demikian, penting untuk diingat bahwa proses administrasi dan evaluasi hasil asesmen menggunakan alat tes psikologi ini terbatas dan dilakukan oleh individu yang terlatih maupun psikolog dan tidak dapat diadministrasikan oleh sembarang orang (Eabon & Abrahamson, 2013).

Referensi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *