Dalam mengakses sebuah platform media sosial membutuhkan akun yang digunakan untuk login. Normalnya akun digunakan untuk satu media sosial saja. Menariknya temuan pada tahun 2018 dari HAI, 46 persen dari remaja memiliki lebih dari 1 akun yang digunakan dalam 1 aplikasi (Bahar, 2018). Remaja yang menggunakan 2 akun untuk kebutuhan tertentu dengan menyembunyikan identitas asli pada salah satu akun disebut sebagai akun alter. 

Akun alter Twitter didefinisikan oleh Piamonte et al., (2020) subkultur dari twitter yang disebut komunitas Twitter, pengguna Twitter yang mengakses platform online menggunakan akun yang berbeda dari akun yang dikenal oleh teman, kolega, dan kerabat mereka.

Akun yang terlibat dalam komunitas ini menampilkan persona alternatif pengguna Twitter yang anonim untuk semua orang. Pengguna akun alter dapat menunjukkan perilaku dan pemikiran yang dianggap oleh orang yang mengenalnya mereka di luar akun tersebut sebagai pemikiran atau perilaku menyimpang.

Mengapa Remaja Membuat Identitas Virtual yang Melanggar Norma?

Kehadiran media sosial memberikan ruang yang lebar bagi manusia untuk berkomunikasi melalui cyberspace. Cyberspace dijelaskan oleh Turkle dalam Whitty & Young, (2017) sebagai ruang virtual dalam internet yang memuat kecenderungan dari individu untuk bermain dengan identitas mereka. Individu bisa menjadi lebih dalam mengenal diri mereka sendiri melalui cyberspace

Ketergantungan kita pada penggunaan media sosial perlu mendapatkan perhatian besar sebagai area sensitif bagi remaja dalam membentuk konsep diri. Remaja menciptakan identitas dalam narasi teks, foto atau video untuk menyampaikan konsep diri mereka.

Membuat identitas virtual bagi remaja adalah alternatif mengekspresi diri seperti yang mereka harapkan. Oleh karena itu Vybiral menyebutkan dunia virtual menjadi tempat yang ideal untuk melakukan”testing” berbagai aspek identitas.

Lingkungan real life yang sehat akan membentuk konsep diri yang baik juga, begitu pula dengan lingkungan virtual yang sehat akan menciptakan konsep diri yang baik pada remaja. Artikel ini mencoba menelaah berbagai alasan remaja dalam pembentukan identitas virtual dari sudut pandang kajian psikologi.

Menurut Vybíral et al., (2004) dalam jurnal penelitiannya menjelaskan ada beberapa alasan remaja mengubah identitas mereka di dunia virtual. Berikut beberapa alasan remaja mengubah identitas di dunia virtual:

5 Alasan Remaja Membuat Identitas Alternatif di Sosial Media

1. Fear of disclosure

Remaja membuat identitas virtual karena ketakutan mereka untuk melanggar norma sosial dan agama dimasyarakat. Remaja dapat menciptakan identitas virtual baru jika mereka berpartisipasi dalam kelompok yang mengenalnya dengan nama panggilan tertentu (anonym/Psedonim) di dunia maya.

Mereka ingin melakukan sesuatu yang bertentangan dengan nilai, norma atau aturan kelompok, atau hanya karena mereka malu akan sesuatu. Melalui identitas virtual yang mereka ciptakan, Remaja menggunakan internet untuk memperjelas nilai dan sikap mereka. 

Kelompok remaja yang mengikuti kelompok virtual mereka akan membuat identitas virtual dengan mengeliminasi norma agama dan sosial masyarakat. Perilaku ini sebagai konsekuensi dari akun yang bersifat anonim, dalam lingkungan online lebih mudah untuk mengekspresikan diri sendiri kepada individu yang tidak dikenal tanpa memperhatikan kaidah-kaidah norma. Remaja dalam lingkungan lebih sering melanggar aturan dan norma “kehidupan nyata” yang umum.

2. Emphasizing A Characteristic

Remaja dapat mengubah identitas virtualnya jika dia ingin mengidentifikasi dirinya dengan perasaan langsung, untuk menekankan suasana hati tertentu atau karakteristik tertentu dari kepribadiannya. Remaja mengubah identitas untuk menonjolkan karakteristik dari dirinya dengan mengedepankan ciri tertentu.

Karakter ini merupakan bagian kecil dari karakter asli remaja dan menjadikannya sebagai karakter virtualnya. Contohnya remaja hobi menonton anime Jepang, maka identitas virtual yang diciptakan dengan memposting foto atau video anime-anime favoritnya.

Banyak akun yang dibuat oleh pengguna media sosial dengan tujuan untuk mengekspresi perasaan negative atau positif mereka. Melalui akun yang tidak dikenal oleh teman, keluarga atau kolega terdekat mereka, mereka dapat dengan mudah meminimalisir risiko perasaan tidak nyaman atau enggan untuk mengekspresikan emosi mereka.

 Mengubah identitas virtual juga digunakan oleh remaja untuk mengidentifikasi karakter tertenu yang itu merupakan bagian kecil dari diri mereka. Seperti pada akun-akun anonim yang menunjukkan orientasi seksual yang menyimpang. Hal ini tentu tidak mudah di terima di Indonesia yang secara norma maupun hukum tidak melegalkan perilaku menyimpang tersebut. 

3. Experimentation with sexual identity

Pada kasus remaja yang orientasi seksualnya belum sepenuhnya terbentuk, mereka dapat melakukan eksperimen melalui identitas virtual. Tujuannya adalah untuk membentuk orientasi seksual mereka yang inginkan. Eksperimen-eksperimen ini dapat memberikan pengaruh yang signifikan terhadap pembentukan identitas seksual yang sebenarnya, dan bahkan dapat mempercepat pembentukan tersebut.

4. Play

Salah satu alasan remaja mengubah identitasnya adalah untuk bersenang-senang atau dalam beberapa kasus untuk mengolok-olok orang lain. Seseorang mengubah identitas virtualnya tanpa ada penjelasan detail tentang alasan mereka. Kemungkinan besar motivasi untuk perubahan ini sering kali tersirat, baik secara sadar maupun tidak sadar. 

Perubahan dan eksperimen dengan identitas adalah permainan yang aman di dunia virtual, walaupun pada kenyataannya ini sulit untuk dilakukan. Internet sebagai bentuk komunikasi yang dominan saat ini, masuk ke latar belakang ruang sehari-hari dan memiliki implikasi substansial terhadap cara kita menciptakan, melakukan, mengartikulasikan, dan melakukan identitas kita dalam sehari-hari (Cover, 2016).

5. To become an ideal

Masa remaja dikenal sebagai masa di mana seseorang penuh dengan cita-cita, dan dalam hal tertentu mencari jati diri yang ideal. Idealnya remaja mengharapkan identitas virtual mereka mencerminkan diri mereka di kehidupan nyata. Namun pada kenyataannya remaja kerap menginginkan di dunia nyata seperti yang mereka yakini di lingkungan internet, walaupun pada kenyataannya tidak sama dan bertolak belakang. 

Pada tahap ini remaja lebih sering menggunakan kata “aku” menurut penilaian subjektif mereka sendiri. Identitas virtual menjadi tempat ideal bagi untuk memperbaiki diri yang akan tercermin dalam perilaku remaja di dunia maya. contohnya di internet remaja tersebut menjadi  komunikator yang baik yang pintar, jenaka, pintar dll. 

Kesimpulan

Identitas Virtual menjadi permainan identitas yang dilakukan oleh remaja sebagai pengalaman aktivitas interpersonal. Kecenderungan perubahan identitas virtual terjadi karena remaja ingin menjadi identitas seperti yang mereka harapkan dan menunjukkan perasaan langsung tanpa melibatkan norma-norma yang ada di dunia nyata. Temuan ini mempertegas bahwa ada aspek diri negatif yang ingin diungkapkan remaja.

Daftar Pustaka

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *