Seiring berjalannya waktu dan perkembangan teknologi informasi yang tidak terbatas memberikan kesempatan bagi mayoritas masyarakat untuk mengakses informasi secara faktual dan aktual. Dari sekian banyak informasi yang ada, tidak dapat dipungkiri bahwa terdapat pula berita atau informasi mengenai suatu peristiwa yang tidak menyenangkan. Salah satu kategori berita yang menyita perhatian masyarakat dari beragam kalangan usia adalah berita terkait penyimpangan perilaku berupa kekerasan yang dilakukan oleh anak-anak, remaja maupun mereka yang telah dewasa.

Salah satu bentuk dari perilaku kekerasan tersebut seperti klithih yang kerap ditemukan di Yogyakarta dan sekitarnya. Klithih merupakan sebuah perilaku penganiayaan yang dilakukan oleh remaja terhadap individu lain tanpa motif khusus dan dikategorikan sebagai sebuah perilaku agresi baik hostile maupun antisosial aggression yang melanggar hukum dan norma (Winarno, 2020). Beberapa waktu yang lalu, banyaknya kejadian tersebut memunculkan kekhawatiran dan kecemasan tersendiri bagi masyarakat karena kejadian ini dapat menimpa siapa saja, tanpa memandang waktu maupun tempat dan berakibat fatal.

Berawal dari keresahan masyarakat akan perilaku agresi dan kekerasan yang terjadi baik oleh remaja atau bukan dan tidak terbatas pada perilaku klithih, dilakukanlah beragam penelitian oleh para ahli. Penelitian tersebut bertujuan untuk memberikan jawaban bagi berbagai pertanyaan mengenai dinamika fenomena kekerasan dan agresi tersebut. Sejalan dengan hal tersebut, artikel ini akan memberikan penjelasan secara ringkas mengenai agresi dengan tujuan untuk meningkatkan awareness dan memberikan insight tambahan untuk memahami fenomena serupa yang dapat terjadi di sekitar kita.

Pengertian Agresi

Agresi atau aggression dapat diartikan ke dalam beberapa konteks. Pada artikel ini, agresi yang akan dibahas adalah agresi dalam konteks perilaku manusia seperti contoh fenomena yang dijelaskan pada bagian sebelumnya.

Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), agresi dapat diartikan sebagai perasaan marah atau tindakan kasar sebagai akibat kekecewaan atau kegagalan dalam mencapai kepuasan atau tujuan yang dapat diarahkan kepada orang atau benda (Arti kata agresi, t.t.). Selain itu, dijelaskan pula di KBBI bahwa agresi tersebut dapat berupa serangan maupun sebuah bentuk permusuhan yang bersifat menyerang fisik maupun psikis (Arti kata agresi, t.t.)

Dari sudut pandang ilmu psikologi, agresi memiliki definisi yang tidak jauh berbeda dari definisi literal pada bagian sebelumnya. Gazzaniga dkk. (2011) mengartikan agresi sebagai perilaku maupun tindakan apapun yang melibatkan intensi untuk melukai orang lain.

Sedangkan menurut Scheneiders dalam (Winarno, 2020) perilaku agresi merupakan sebuah tindakan untuk meluapkan emosi serta reaksi atas kegagalan dalam bentuk pengrusakan baik secara verbal maupun nonverbal secara sengaja.

Berdasarkan berbagai definisi yang ada, dapat ditarik kesimpulan bahwa perilaku agresi dapat didefinisikan sebagai tindakan kasar maupun merusak sebagai luapan emosi dan reaksi atas kegagalan maupun kekecewaan yang ditujukan secara sengaja kepada orang maupun benda.

Bentuk Perilaku Agresi

Perilaku agresi memiliki beragam bentuk yang unik dengan karakteristik yang berbeda antara satu dengan yang lainnya. Agresi tidak hanya ditemukan pada manusia, tetapi juga dapat ditemukan pada hewan.

Meskipun sejak awal artikel ini memberikan gambaran bahwa perilaku agresi sebagai sebuah perilaku yang negatif dan cenderung bersifat destruktif, sebenarnya ada pula bentuk dari perilaku agresi tertentu yang bersifat positif dan membangun.

Berikut ini merupakan penjelasan singkat lima bentuk perilaku agresi yang sering ditemui di tengah masyarakat kita.

1. Direct aggression

Bentuk agresi pertama yang akan dibahas adalah direct aggression atau agresi secara langsung. Seperti namanya, pelaku perilaku agresi dengan bentuk atau tipe ini melakukan konfrontasi secara langsung atau face-to-face dengan lawannya (Richardson & Brown, 2006).

Beberapa contohnya seperti memukul, menendang, menggigit, menusuk, mendorong memaki, meneriaki dan sebagainya yang ditujukan langsung kepada korban. Hasil literature review yang dilakukan oleh Richardson & Brown (2006) menunjukkan bahwa secara umum dibandingkan dengan perempuan, laki-laki lebih banyak terlibat pada perilaku direct aggression.

2. Indirect aggression

Berbanding terbalik dengan direct aggression, perilaku indirect aggression terjadi pada saat individu secara tidak langsung, cenderung sembunyi-sembunyi dan tidak mudah teridentifikasi dalam melakukan perilaku agresinya.

Pelaku melakukan aksinya dengan cara menyebarkan rumor hingga merusak barang atau apapun itu yang berhubungan dengan korban yang bertujuan untuk menimbulkan bahaya dan kerusakan baik psikologis maupun secara fisik (Underwood, Galen, Paquette dalam Richardson & Brown, 2006).

Apabila perilaku direct aggression lebih banyak dilakukan oleh laki-laki, maka berbeda dengan indirect aggression yang mana lebih banyak perempuan yang melakukannya (Richardson & Brown, 2006).

3. Relational aggression

Crick dan Grotpeter (dalam Richardson & Brown, 2006) menjelaskan bahwa perilaku relational aggression ini merupakan perilaku yang bertujuan untuk mencelakai orang lain dengan cara sengaja memanipulasi maupun merusak hubungan korban, biasanya ditemukan pada hubungan pertemanan.

Pada bentuk agresi yang satu ini terdapat dua bentuk agresi sekaligus yang digunakan oleh pelaku, yakni direct dan indirect aggression. Sebagai contoh, indirect aggression dilakukan dengan cara memunculkan desas-desus yang mengancam hubungan pertemanan antara A dan B, sedangkan direct aggression terjadi saat pelaku mengancam salah satu pihak bahwa dia tidak akan berteman dengan salah satu diantara mereka lagi jika A dan B masih berteman.

4. Proactive aggression

Sedikit berbeda dari bentuk perilaku agresi lain yang sudah dijelaskan sebelumnya yang selalu berkaitan dengan dampak negatif dan bersifat destruktif. Berdasarkan beberapa definisi yang ada, proactive aggression dapat membawa dampak yang positif maupun negatif tergantung dari sudut pandang perilaku tersebut dilakukan.

Menurut APA Dictionary of Psychology, proactive aggression dalam dunia olahraga disebut juga dengan istilah assertion yang berarti suatu bentuk penggunaan kekuatan dalam pertandingan untuk mencapai kemenangan strategis atas lawan (Assertion, t.t.; Proactive Aggression, t.t.).

Meskipun demikian, diluar konteks olahraga, proactive aggression dapat berdampak negatif dan destruktif. Hal ini sejalan dengan penjelasan dari Walters (2005) yang menyatakan bahwa proactive aggression merupakan sebuah perilaku yang diarahkan oleh tujuan atau goal directed untuk mencapai target di luar kekerasan fisik, seperti pencurian. Pada konteks ini, proactive aggression bertolak belakang dengan reactive aggression yang mana perilaku ini dimotivasi oleh provokasi (Walters, 2005).

5. Prosocial aggression

American Psychological Association (APA) melalui APA Dictionary of Psychology mendefinisikan prosocial aggression sebagai sebuah bentuk agresi yang memiliki dampak positif serta konstruktif atau membangun bagi kepentingan sosial (Prosocial Aggression, t.t.). Perilaku agresi ini terkadang tidak dapat dengan mudah untuk diidentifikasi pada kehidupan sehari-hari namun tetap masih dapat ditemui.

Sebagai contoh membantu mengamankan pelaku kejahatan yang sedang mencoba melarikan diri dengan cara menghalangi atau menabrakkan kendaraan terhadap kendaraan terduga pelaku kejahatan tersebut untuk mempermudah pihak yang berwenang untuk mengamankannya. Perilaku menabrak ini jika dilihat sekilas memanglah destruktif, tapi jika dilihat secara keseluruhan apa yang dilakukan oleh pengendara tersebut memberikan andil positif karena menyelamatkan lebih banyak orang dari kecelakaan karena kejar-kejaran antara pelaku kejahatan dengan pihak berwajib tersebut.

Faktor Perilaku Agresi

Perilaku agresi yang terjadi pada diri individu dapat diakibatkan oleh berbagai faktor. Gazzaniga dkk. (2011) menjelaskan bahwa setidaknya terdapat dua faktor utama yang mempengaruhi perilaku agresi pada individu. berikut ini merupakan penjelasan singkat mengenai kedua faktor tersebut.

1. Faktor biologis

Beberapa penelitian maupun studi kasus yang dilakukan sejak beberapa dekade lalu, menunjukkan bahwa perubahan pada level biologis mengakibatkan perubahan perilaku pada individu (Gazzaniga dkk., 2011).

Misalnya saja penelitian yang dilakukan oleh Knutson dkk. (dalam Gazzaniga dkk., 2011) menunjukkan bahwa partisipan menjadi lebih kooperatif dan perilaku kekerasannya semakin menurun setelah mendapatkan obat yang meningkatkan kadar serotonin mereka. Selain itu, kerusakan pada area otak tertentu misalnya saja amygdala juga menjadi salah satu faktor agresivitas pada individu

2. Faktor individu

Berdasarkan model terbaru milik Berkowitz (dalam Gazzaniga dkk., 2011) yakni cognitif-neoassociationistic model diketahui bahwa frustasi yang dialami individu memicu munculnya emosi negatif yang mana mempengaruhi individu dalam melakukan perilaku agresi. pada buku tersebut dijelaskan pula bahwa beragam kondisi dapat memantik emosi negatif dalam diri individu dan berakibat pada munculnya perilaku agresi pada diri yang bersangkutan.

Selain itu, terdaapat hipotesis lain yang dapat menjelaskan faktor individu munculnya perilaku agresif ini yakni hipotesis frustasi-agresi dari Dollard dkk (Gazzaniga dkk., 2011). Hipotesis tersebut menjelaskan bahwa ketika individu mendapatkan halangan dalam mencapai tujuan dapat memunculkan frustasi yang kemudian mengakibatkan berkembanganya perilaku agresi tersebut.

Kesimpulan

Berdasarkan penjelasan yang ada pada artikel ini, diketahui bahwa perilaku agresi memiliki beragam bentuk atau tipe. Ada perilaku agresi yang dapat berakibat buruk ada juga yang membawa dampak positif, begitu pula ada yang bersifat destruktif maupun konstruktif untuk masyarakat.

Selain menjadi mengerti akan beragam bentuknya, melalui artikel ini diharapkan juga dapat memberikan insight mengenai beberapa kemungkinan faktor seorang individu berperilaku agresif. Dengan demikian melalui artikel ini diharapkan dapat meningkatkan awareness mengenai perilaku tersebut dan menjadikan kita tidak mudah untuk melakukan penilaian tanpa dasar.

Meskipun demikian, ketika kita menemukan perilaku agresif yang meresahkan maka tidak ada salahnya untuk menghubungi pihak yang berwenang (baik tim medis, polisi maupun yang lain) untuk mendapatkan penanganan yang sesuai.

Referensi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *