Beberapa waktu yang lalu, kita sempat membahas dalam artikel “Psikologi Emosi” mengenai macam-macam emosi dan bagaimana kecerdasan emosi berperan penting dalam kehidupan kita sehari-hari. Menurut Goleman (2017), kecerdasan emosi ditandai oleh kemampuan orang untuk mengekspresikan emosi kepada orang lain, mengenal emosi diri, dan mengelola emosi dalam situasi kelompok. Namun tidak hanya cukup dengan mengenalnya saja, meningkatkan kecerdasan emosi juga perlu dilakukan, khususnya apabila kita sedang belajar menjadi psikolog. Nah, seperti apa sajakah cara mengembangkan emotional quotient? Mari simak uraian berikut ini!

1.  Mengelola Perilaku

Apabila kita sedang stres, pasti kita akan mudah marah dan melakukan sesuatu yang tidak menyenangkan bagi orang lain. Maka dari itu, salah satu karakteristik orang dengan kecerdasan emosi yang baik adalah memiliki kontrol terhadap perilakunya. Teman-teman tentu tahu bahwa perilaku kita berasal dari respon terhadap stimulus. Nah, begitu pula dengan emosi. Ketika kita bisa mengelola perilaku, maka kita juga bisa mengendalikan suasana di sekitar kita.

Bayi yang sedang emosi cemberut
Jangan sepelekan kecerdasan emosi

Contoh gampangnya begini. Seorang karyawan bidang HR bernama Ega baru saja pulang kantor suatu sore sambil naik Trans Jogja. Sore itu panas sekali dan Ega masih harus lembur di rumah menyelesaikan pekerjaannya yang belum selesai, termasuk menjawab e-mail para pelamar kerja yang menumpuk. Dia juga merasa lapar dan haus. Setelah menunggu sekitar setengah jam dikarenakan bus yang terkendala, Ega akhirnya naik bus terakhir sebelum maghrib. Apes bagi Ega, kebetulan busnya penuh sekali, sehingga dia tidak menemukan tempat duduk. Ketika akhirnya bus berhenti di sebuah halte, salah satu penumpang turun dari bus dan menyisakan satu tempat kosong. Namun sayang, sebelum Ega sempat mencapainya, tempat kosong itu sudah diduduki seorang penumpang lain yang baru menyeruak masuk. Apabila saat itu Ega kehilangan kontrol terhadap perilakunya, Ega pasti akan langsung marah kepada penumpang yang tadi merebut kursi kosong, lalu membuat keributan di bus yang penuh sesak itu. Kemampuan Ega dalam memanajemen perilakunya ini juga didasari oleh kesadarannya akan situasi sosial yang sedang terjadi. Selain demi kebaikan orang lain, pengontrolan perilaku yang dilakukan Ega juga baik bagi dirinya sendiri. Melalui kemampuannya untuk mengelola stres dan tetap hadir secara emosional, Ega dapat belajar menerima informasi yang mengecewakan tanpa membiarkannya mengesampingkan pikiran dan pengendalian dirinya.

2.  Berlatih Kesadaran Diri

Kita akan beralih pada cara kedua, yaitu melatih kesadaran diri. Eits, kesadaran diri bukan berarti hanya paham mengenai hal-hal yang terjadi pada diri, tetapi juga menumbuhkan kesadaran bahwa segala emosi yang kita alami merupakan buah pengalaman hidup. Kemampuan kita untuk mengelola emosi seperti marah, sedih, takut, bahagia, dan lain-lain seringkali bergantung pada kualitas dan konsistensi pengalaman emosional awal kehidupan kita. Contohnya dalam kasus Ega, kemampuannya dalam mengelola emosi rupanya diajarkan sejak kecil oleh orangtuanya. Terlahir sulung di keluarganya, Ega sudah harus mengalah kepada adik-adiknya. Meskipun awalnya Ega tidak menyukai hal ini, lambat laun ia paham bahwa mainan-mainan lamanya akan lebih bermanfaat bila diberikan kepada adiknya ketimbang hanya tergeletak di kamar. Kondisi ekonomi orang tua Ega yang pas-pasan juga menjadi salah satu sumber pengalaman emosional Ega, yaitu melatihnya bersabar sampai lebaran untuk membeli pakaian baru. Ega terus menerapkan hal ini sampai ia dewasa, bahwa ia harus mau mengalah kepada orang lain dan menerima keadaan apabila memang tidak memungkinkan.

Nah, buat Teman-teman yang mau melatih kesadaran diri seperti Ega, kuncinya adalah sebagai berikut.

  1. Biarkan emosi yang muncul mengalir dengan sendirinya, jangan ditahan.
  2. Perhatikan apakah emosi yang muncul diikuti dengan sensasi pada bagian-bagian tubuh tertentu.
  3. Kenali emosi apa saja yang muncul ketika kita mengalaminya, seperti marah, sedih, senang, takut, dan lain-lain.
  4. Tanyakan kepada diri sendiri, seberapa mampu kita menangkap emosi yang intens.
  5. Cari tahu apakah emosi tersebut mempengaruhi pengambilan keputusan kita, terutama apabila keputusannya begitu mendesak.

3.  Meningkatkan Kesadaran Sosial

Menurut Greenspan, disadur dari McGrew (2008), kesadaran sosial adalah konstruksi hierarki multidimensi yang meliputi: kepekaan sosial (yang memasukkan subdomain pengambilan peran dan kesimpulan sosial); wawasan sosial (subdomain dari pemahaman sosial, wawasan psikologis, dan penilaian moral); dan komunikasi sosial (subdomain dari komunikasi referensial dan pemecahan masalah sosial). Kesadaran sosial memungkinkan kita untuk mengenali dan menafsirkan isyarat nonverbal yang terus digunakan orang lain untuk berkomunikasi dengan kita. Isyarat-isyarat nonverbal ini menunjukkan bagaimana perasaan orang lain, bagaimana keadaan emosi mereka berubah dari waktu ke waktu, dan apa yang benar-benar penting bagi mereka.

Berbagai jenis kecerdasan emosi

Photo by Andrea Piacquadio from Pexels

4.  Mengelola Hubungan Sosial

Apabila kita sudah meningkatkan kesadaran sosial, langkah selanjutnya adalah mengelola hubungan sosial. Contoh gampangnya, kita bisa mulai dengan mendengarkan saat orang lain bercerita atau membalas pesan yang menumpuk di kotak masuk chat. Namun, harus disadari juga bahwa seberapa efektif pun kamu menggunakan komunikasi nonverbal, tidak mungkin menghindari pengiriman pesan nonverbal kepada orang lain tentang apa yang Anda pikirkan dan rasakan. Pesan nonverbal ini datang dari ekspresi wajah, gestur, serta bahasa tubuh seseorang.

Selain belajar mengelola hubungan sosial melalui kepekaan komunikasi, kita juga harus bisa melihat konflik sebagai kesempatan untuk tumbuh lebih dekat dengan orang lain. Tentu saja, konflik dan ketidaksepakatan tidak bisa dihindari, namun dengan cara yang benar, kita bisa meminimalisir dampak buruk adanya konflik secara konstruktif. Dilansir oleh Clarke.edu (2020), beberapa cara yang bisa diterapkan untuk mengelola konflik adalah sebagai berikut:

  1. Belajar menerima konflik. Sadarlah bahwa konflik adalah sesuatu yang alami, yang pasti terjadi dalam hubungan sosial.
  2. Bersikap tenang. Setiap konflik pasti melibatkan pihak-pihak yang saling menyampaikan emosi secara pedas. Apabila hal ini berlangsung terus menerus, yang terjadi adalah konflik takkan pernah mencapai penyelesaian.
  3. Menganalisis konflik. Cari tahu apa yang menyebabkannya, siapa saja yang terlibat, apakah konflik tersebut hanya untuk membesar-besarkan masalah yang sesungguhnya, dan lain-lain.
  4. Fokus pada masa depan. Setiap konflik pasti didasari oleh hal-hal pahit yang terjadi di masa lalu. Biarkan masa lalu itu berlalu. Daripada terus bergulat dengan kesalahan itu, carilah cara untuk mengelolanya supaya konflik yang sama tidak terjadi di masa depan.

Demikianlah, teman-teman. Meningkatkan kecerdasan emosi itu memerlukan kerja keras yang melibatkan banyak elemen sosial dalam kehidupan. Tidak semua orang dilahirkan dengan kecerdasan emosi yang baik, tetapi melalui kemauan kuat, proses yang berkelanjutan, dan usaha yang bertahap, semua orang bisa mengembangkan kecerdasan emosinya. Satu hal lagi yang perlu diingat, melatih kecerdasan emosional bukan hanya baik bagi kesehatan mental orang di sekitar kita, tetapi juga baik bagi kesehatan mental kita sendiri.

References:

Clarke University. (2020). Tips for Managing Conflict. Dipetik dari Clarke.edu: https://www.clarke.edu/campus-life/health-wellness/counseling/articles-advice/tips-for-managing-conflict/.

Goleman, D., Boyatzis, R. E. (2017). Emotional Intelligence Has 12 Elements. Which Do You Need to Work On?. Dipetik dari Harvard Bussiness Review: https://hbr.org/2017/02/emotional-intelligence-has-12-elements-which-do-you-need-to-work-on.

Helpguide. (2020). Improving Emotional Intelligence. Dipetik dari Helpguide.org: https://www.helpguide.org/articles/mental-health/emotional-intelligence-eq.htm.

McGrew, K. (2008). Beyond IQ: A Model of Academic Competence & Motivation (MACM). Dipetik dari Institurte of Apllied Psychometrics: http://www.iapsych.com/acmcewok/AppendixA.DefinitionsofTheoretical.Conce.html#:~:text=Social%20Awareness%20Theory.,involved%20in%20regulating%20social%20events.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *